Aksi Teror Menodai Ramadan dan Wajah Islam Indonesia
Pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi (kanan). (Foto: MI Arya Manggala)
Jakarta: Sederet aksi teror yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia jelang Ramadan dinilai disengaja. Kelompok teroris terutama yang berada di bawah komando ISIS tengah mencari momentum baru untuk menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.

Pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi mengatakan pola serangan yang dilakukan ISIS di wilayah Eropa dan Indonesia mirip. Bahkan secara eksplisit kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, adalah skenario mereka.

"Bahwa ISIS dikatakan sudah mati atau tumbang, tidak. ISIS masih menjadi jaringan teroris terdepan dan berbagai serangan adalah pesan bahwa mereka masih hidup dan bisa mengancam siapa pun. Ini narasi ISIS," ungkapnya, dalam Breaking News Metro TV, Selasa, 15 Mei 2018.


Zuhairi menilai serangan-serangan yang terjadi di sejumlah gereja dan markas kepolisian memang menjadi ciri dari narasi ISIS. Karena sasaran serangan ISIS hanya dua; aparat kepolisian yang dianggap thaghut dan umat kristiani yang disebut kafir.

ISIS, kata dia, sengaja memanfaatkan momentum Ramadan untuk melampiaskan kegilaan terhadap mereka yang dianggap musuh islam. Menurutnya aksi di Indonesia hanya duplikasi dari aksi yang pernah terjadi di negara timur tengah, seperti teror bom saat perayaan Iduladha di Irak.

"Majelis Ulama Indonesia harus mengeluarkan pernyataan agar para teroris ini menghormati ramadan. Kalau terus menerus dilakukan akan mencederai ramadan dan wajah islam Indonesia yang toleran. Kegilaan ini harus dihentikan karena tidak mencerminkan ajaran islam yang kita anut," jelas dia.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id