NEWSTICKER
Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

BMKG: Hujan Ekstrem Landa Jakarta

Nasional banjir jakarta Jakarta Banjir
Antara • 25 Februari 2020 11:23
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Jakarta dilanda hujan berintensitas ekstrem. Curah hujan di atas 150 mm per hari turun pada Senin dan Selasa, 24-25 Februari 2020.
 
"Curah hujan tertinggi 278 mm tercatat Stasiun Meteorologi Kemayoran," kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab di Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020.
 
Dalam perhitungan ini, 1 milimeter hujan berarti air turun di wilayah seluas satu meter persegi akan memiliki ketinggian 1 milimeter jika air tidak meresap, mengalir, atau menguap.Angka 0 mm per hari mengindikasikan cuaca berawan; 0.5–20 mm hujan ringan; 20–50 mm hujan sedang; 50–100 mm hujan lebat;100–150 mm hujan sangat lebat; dan 150 mm lebih hujan ekstrem.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hujan intensitas ekstrem tercatat di Pintu Air Pulo Gadung dengan curah hujan 260 mm, Pulomas 245 mm, Manggarai 209 mm, dan Halim Perdanakusuma 205 mm. Sunter Timur I Kodamar dilanda curah hujan 165 mm dan Setiabudi Timur 150 mm.
 
BMKG mencatat hujan sangat lebat dengan dengan curah hujan 100-150 mm per hari terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi ini terjadi Pasar Minggu dan Waduk Melati dengan curah hujan 144 mm, Tomang 141 mm, Kedoya 120,6 mm, dan Stasiun Meteorologi Curug 119 mm.
 
Hujan lebat tercatat di Pompa Cideng dan Karet masing-masing dengan curah hujan 115 mm, Istana 112 mm, Pakubuwono 110 mm, dan Teluk Gong 108 mm. Tangerang dilanda curah hujan 107,8 mm dan Sunter Hulu 105 mm.
 
BMKG: Hujan Ekstrem Landa Jakarta
Suasana sejumlah kendaraan melintasi banjir yang menggenangi kawasan Bundaran Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Selasa, 25 Februari 2020. Foto: Antara/Winda Wahyu Fariansih
 
Baca: Banjir, 159 Sekolah di Jakarta Liburkan Murid
 
Sejumlah wilayah lainnya mengalami hujan intensitas ringan, sedang, hingga lebat, tanpa henti sejak Selasa dinihari hingga pagi. Hal ini mengakibatkan banjir dan jalan tergenang yang mengganggu aktivitas masyarakat.
 
Menurut Fachri, kondisi cuaca ini disebabkan aliran massa udara yang bertiup di atas wilayah Indonesia banyak mengandung uap air. Selain itu, ada daerah pertemuan angin. Kedua fenomena ini ditambah dengan keberadaan siklon tropis Esther dan siklon tropis Ferdinand berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif