Sipir Luput Menghitung Potensi Kerawanan di Lapas Aceh
Petugas memeriksa bagian bangunan yang rusak pascakerusuhan di Lembaga Permasyarakatan kelas II A Lambaro, Banda Aceh. (Foto: ANTARA/Ampelsa)
Jakarta: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh Agus Toyib mengakui jajarannya tak menghitung potensi kerawanan yang dapat terjadi di Lapas Lambaro Aceh. Termasuk kaburnya para narapidana saat kegiatan salat magrib berjemaah.

Menurut dia, pelaksanaan salat magrib berjemaah di masjid Lapas Lambaro merupakan kebijakan kepala lapas dan telah berlangsung cukup lama. Selama ini tidak pernah ada masalah sehingga potensi kerawanan tak pernah dihitung oleh petugas lapas.

"Standar operasional prosedur (SOP) sudah dijalankan. Tetapi mungkin tidak dilakukan secara teliti atau sempurna oleh petugas yang berjaga. Petugas mungkin tidak pernah menduga karena selama ini tidak masalah," ujarnya melalui sambungan satelit dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 1 Desember 2018.


Agus menduga kaburnya ratusan narapidana Lapas Lambaro Aceh terencana. Hal ini tampak dari pola perusakan dan alat yang digunakan untuk menjebol paksa pembatas area steril yang mengubungkan lapangan dan blok hunian. 

Ia mengatakan alat yang digunakan napi untuk menjebol tembok pembatas adalah barbel beton yang biasa digunakan sesama tahanan untuk berolah raga. Barbel beton pun dibuat sendiri oleh para narapidana menggunakan batang besi yang kedua ujungnya dipasangkan adonan semen.

"Di lapas itu memang ada tempat olahraga narapidana. Pengalaman saya di beberapa lapas barbel itu memang untuk olahraga tapi ternyata alat itu dimanfaatkan untuk menjebol," katanya.

Agus mengungkapkan petugas yang berjaga saat itu pun tak bisa melakukan banyak tindakan. Selain beberapa di antaranya disiram cairan cabai, juga karena jumlah petugas yang menghalau tak sebanding dengan banyaknya narapidana yang kabur.

Pun petugas tak mampu memberikan tembakan peringatan untuk mencegah tahanan lain ikut kabur atau terpengaruh. Pascakerusuhan di Aceh seluruh lapas dan rutan memang tidak diperkenankan menyimpan senjata. Baik di dalam lapas maupun dalam genggaman petugas. 

"Senjata sudah punya sebetulnya hanya memang ada senjata yang dimiliki lapas dan rutan se-Aceh dititipkan ke Polres masing-masing karena khawatir diambil napi untuk kejahatan," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id