medcom.id, Jakarta: Ketegasan dan menguasai visi dan misi merupakan nilai lebih dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Hal itu berimbas atas inti dari debat yaitu memberikan pemahaman atas visi dan misi yang diemban jika terpilih pada Pemilihan Presiden 9 Juli 2014.
Pakar psikologi politik Hamdi Muluk mengatakan, pemaparan Prabowo dan Hatta pada debat capres cawapres tidak mengelaborasikan visi dan misi secara detail. "Maka orang akan ragu atas gagasan bagusnya pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang selama ini dipublikasikan," jelas Hamdi.
Menurutnya, pasangan Prabowo-Hatta tidak menjelaskan visi dan misi terstruktur. "Pasangan Prabowo dan Hatta dalam memaparkan visi dan misnya lebih terlihat berputar-putar," sambungnya.
Berbeda dengan yang dilakukan Jokowi dan JK, sambungnya, kedua tokoh berpengalaman tersebut menjelaskan visi dan misi secara detail.
"Banyak orang di media sosial, daring, yang menyatakan pasangan Jokowi-JK lebih unggul. Hal itu menunjukan kompetensi pasangan itu sebagai pasangan konseptor. Kemudian visi dan misi menampilkan sebagai policy delivery atau pembuat kebijakan, karena hal itu berdasarkan pengalaman sebagai pelayan publik," tambahnya.
Namun catatan atas Jokowi JK, kata Hamdi, harus ditambah dengan terobosan gagasan. Hal itu untuk menjaga dan meningkatkan citra baik yang telah ada.
"Menjaga ekspektasi masyarakat atas penjelasan visi dan misi, Jokowi dan JK harus bisa menjelaskan ide baru yang jauh dari apa yang dikatakan saat ini," ujarnya.
Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menambahkan, pasangan Jokowi-JK menggunakan bahasa sederhana. Hal itu menjadi nilai positif karena dapat memberikan pemahaman bagi mayoritas pemilih.
"Mereka menggunakan bahasa merakyat, lugas, tegas dan rinci. Jika masyarakat menengah kebawah saja bisa mengerti apalagi kalangan berpendidikan. Misalnya pak Jokowi mengatakan akan mendengarkan masyarakat dan mendatanginya dan menjadi dasar membuat kebijakan. Ditambah pak JK yang low context, menjelaskan gagasan dengan efisien dan tegas," tambahnya.
Berbeda dengan pasangan Prabowo Hatta, sambungnya, lebih utopia atau berangan-angan dan normatif. "Secara objektif, pemaparan Jokowi dan JK lebih unggul," katanya.
Kemudian kekurangan Prabowo dan Hatta, katanya, menyetujui atas visi dan misi pasangan Jokowi-JK. "Itu menunjukkan Prabowo-Hatta tidak ada yang dijual dibanding gagasan Jokowi dan JK. Karena dengan jelasnya pak Hatta menyetujui gagasan good goverment, ditambah hal itu secara spontan," kata dia.
Selain itu, sambung dia, Prabowo saat sesi tanya Jawab tidak mengambil kesempatan untuk menjelaskan isu penegakan hak asasi manusia (HAM).
Padahal, debat yang disiarkan langsung dan disaksikan hampir semua masyarakat merupakan kesempatan untuk mengkonfirmasi isu tersebut.
"Ia malah terpancing emosi, terlihat dari peningkatan nada bicaranya. Padahal itu kesempatan yang baik jika digunakan dengan konfirmasi dan penjekasan yang tepat, ia akan terbebas atas penilaian negatif melanggar HAM," pungkasnya.
medcom.id, Jakarta: Ketegasan dan menguasai visi dan misi merupakan nilai lebih dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Hal itu berimbas atas inti dari debat yaitu memberikan pemahaman atas visi dan misi yang diemban jika terpilih pada Pemilihan Presiden 9 Juli 2014.
Pakar psikologi politik Hamdi Muluk mengatakan, pemaparan Prabowo dan Hatta pada debat capres cawapres tidak mengelaborasikan visi dan misi secara detail. "Maka orang akan ragu atas gagasan bagusnya pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang selama ini dipublikasikan," jelas Hamdi.
Menurutnya, pasangan Prabowo-Hatta tidak menjelaskan visi dan misi terstruktur. "Pasangan Prabowo dan Hatta dalam memaparkan visi dan misnya lebih terlihat berputar-putar," sambungnya.
Berbeda dengan yang dilakukan Jokowi dan JK, sambungnya, kedua tokoh berpengalaman tersebut menjelaskan visi dan misi secara detail.
"Banyak orang di media sosial, daring, yang menyatakan pasangan Jokowi-JK lebih unggul. Hal itu menunjukan kompetensi pasangan itu sebagai pasangan konseptor. Kemudian visi dan misi menampilkan sebagai policy delivery atau pembuat kebijakan, karena hal itu berdasarkan pengalaman sebagai pelayan publik," tambahnya.
Namun catatan atas Jokowi JK, kata Hamdi, harus ditambah dengan terobosan gagasan. Hal itu untuk menjaga dan meningkatkan citra baik yang telah ada.
"Menjaga ekspektasi masyarakat atas penjelasan visi dan misi, Jokowi dan JK harus bisa menjelaskan ide baru yang jauh dari apa yang dikatakan saat ini," ujarnya.
Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menambahkan, pasangan Jokowi-JK menggunakan bahasa sederhana. Hal itu menjadi nilai positif karena dapat memberikan pemahaman bagi mayoritas pemilih.
"Mereka menggunakan bahasa merakyat, lugas, tegas dan rinci. Jika masyarakat menengah kebawah saja bisa mengerti apalagi kalangan berpendidikan. Misalnya pak Jokowi mengatakan akan mendengarkan masyarakat dan mendatanginya dan menjadi dasar membuat kebijakan. Ditambah pak JK yang low context, menjelaskan gagasan dengan efisien dan tegas," tambahnya.
Berbeda dengan pasangan Prabowo Hatta, sambungnya, lebih utopia atau berangan-angan dan normatif. "Secara objektif, pemaparan Jokowi dan JK lebih unggul," katanya.
Kemudian kekurangan Prabowo dan Hatta, katanya, menyetujui atas visi dan misi pasangan Jokowi-JK. "Itu menunjukkan Prabowo-Hatta tidak ada yang dijual dibanding gagasan Jokowi dan JK. Karena dengan jelasnya pak Hatta menyetujui gagasan good goverment, ditambah hal itu secara spontan," kata dia.
Selain itu, sambung dia, Prabowo saat sesi tanya Jawab tidak mengambil kesempatan untuk menjelaskan isu penegakan hak asasi manusia (HAM).
Padahal, debat yang disiarkan langsung dan disaksikan hampir semua masyarakat merupakan kesempatan untuk mengkonfirmasi isu tersebut.
"Ia malah terpancing emosi, terlihat dari peningkatan nada bicaranya. Padahal itu kesempatan yang baik jika digunakan dengan konfirmasi dan penjekasan yang tepat, ia akan terbebas atas penilaian negatif melanggar HAM," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HNR)