Jakarta: Banyak masyarakat yang masih mengeluh karena lambatnya proses pembuatan KTP-el. Dirjen Dukcapil, Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, setiap daerah mempunyai kendala masing-masing dalam pembuatan KTP-el.
"Blangko tersedia, ternyata printernya di daerah cuma ada dua. Printer dua maksimal (mencetak) hanya 300 (KTP) per hari, sedangkan yang harus dicetak 30 ribu, sehingga terjadilah antrean," kata Zudan di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis 23 November 2017.
Dari lambatnya pembuatan KTP-el tersebut, banyak masyarakat yang hanya memegang surat keterangan atau suket untuk memperpanjang dokumen identitas lainnya.
Sebagai solusi, Zudan meminta kepada masing-masing Dinas Kependudukan Catatan Sipil untuk sama-sama mencari solusi dengan Kepala Daerah masing-masing.
"Biar ini cepat selesai, saya minta kepada para Kepala Dinas Dukcapil melapor ke Pak Bupati, Walikotanya, agar seperti Bandung, Bogor, Jambi, Bekasi, membeli printer yang baru," ungkap Zudan.
Disdukcapil Bogor terakhir meminta 60 ribu blangko ke pusat dan tercatat mampu terserap dengan baik. Begitu juga dengan Jambi dengan lebih dari 100 ribu blangko yang berhasil diserap. Terakhir yakni Makassar yang mendapat 80 ribu blangko yang habis dalam 20 hari.
"Kita memberi banyak sesuai kemampuan daerah menghabiskan blangko dengan prioritas cetak untuk pemilik KTP baru. Tak menutup kemungkinan yang KTP-nya hilang dan rusak bisa dilayani," imbuhnya.
Atas bukti itu, penyediaan printer diklaim akan mendorong percepatan proses pelayanan publik menjadi lebih baik. Kuncinya kata Zudan, adalah daerah dengan APBD membeli printer baru bagi yang kurang.
Jakarta: Banyak masyarakat yang masih mengeluh karena lambatnya proses pembuatan KTP-el. Dirjen Dukcapil, Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, setiap daerah mempunyai kendala masing-masing dalam pembuatan KTP-el.
"Blangko tersedia, ternyata printernya di daerah cuma ada dua. Printer dua maksimal (mencetak) hanya 300 (KTP) per hari, sedangkan yang harus dicetak 30 ribu, sehingga terjadilah antrean," kata Zudan di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis 23 November 2017.
Dari lambatnya pembuatan KTP-el tersebut, banyak masyarakat yang hanya memegang surat keterangan atau suket untuk memperpanjang dokumen identitas lainnya.
Sebagai solusi, Zudan meminta kepada masing-masing Dinas Kependudukan Catatan Sipil untuk sama-sama mencari solusi dengan Kepala Daerah masing-masing.
"Biar ini cepat selesai, saya minta kepada para Kepala Dinas Dukcapil melapor ke Pak Bupati, Walikotanya, agar seperti Bandung, Bogor, Jambi, Bekasi, membeli printer yang baru," ungkap Zudan.
Disdukcapil Bogor terakhir meminta 60 ribu blangko ke pusat dan tercatat mampu terserap dengan baik. Begitu juga dengan Jambi dengan lebih dari 100 ribu blangko yang berhasil diserap. Terakhir yakni Makassar yang mendapat 80 ribu blangko yang habis dalam 20 hari.
"Kita memberi banyak sesuai kemampuan daerah menghabiskan blangko dengan prioritas cetak untuk pemilik KTP baru. Tak menutup kemungkinan yang KTP-nya hilang dan rusak bisa dilayani," imbuhnya.
Atas bukti itu, penyediaan printer diklaim akan mendorong percepatan proses pelayanan publik menjadi lebih baik. Kuncinya kata Zudan, adalah daerah dengan APBD membeli printer baru bagi yang kurang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)