medcom.id, Jakarta: Kehidupan warga di Kalijodo, Jakarta Utara, tak melulu soal prostitusi dan minuman keras. Nyatanya, kegiatan religi cukup kental di kawasan yang sudah buram sejak zaman penjajahan Belanda, itu.
Aktivitas siang hari di Kalijodo tidak begitu mencolok. Jalanan di depan Kalijodo memang ramai kendaraan, tapi tidak untuk mampir.
Menjelang petang, keramaian mulai nyata. Namun, bukan dari serbuan pria hidung belang, melainkan diramaikan oleh anak-anak yang berlarian untuk sekadar bermain.
Kondisi kawasan Kalijodo saat sore hari, Selasa (16/2/2016). Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Pantauan di lokasi, Selasa (16/2/2016), pada sore hari, anak-anak bisa menikmati jajanan seperti bakso, pempek, dan menaiki odong-odong. Para bocah tersebut terlihat bermain dengan penuh keceriaan, tidak cemas dan tidak mengerti lingkungan sekitar mereka dihuni oleh para pekerja seks komersial.
Orang tua bocah-bocah itu pun sesekali memperingati mereka, bukan karena untuk mendekat ke salah satu kafe yang ada.
"Awas, jangan lari-larian, nanti ketabrak mobil," kata salah seorang pria yang tengah menemani anaknya bermain dengan kawan-kawannya.
Anak-anak sedang bermain di pinggir jalan kawasan Kalijodo. Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Kekhawatiran sebetulnya terlihat jelas di benak para orang tua tersebut. Namun demikian, mereka memiliki cara untuk menghindari anak mereka dari kehidupan prostitusi.
Husniati, 45, warga setempat, mengungkapkan, dirinya selalu menjaga anak sulungnya cukup ketat. "Kalau pulang sekolah, saya tungguin di depan gang. Kalau malam, saya larang ke luar rumah. Kalau keluar, harus dengan teman yang saya kenal, tapi kalau temannya anak sini (Kalijodo) saya tidak kasih ijin," ujar ibu empat anak ini di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.
Pun dengan penjagaan untuk putranya yang masih kecil, Husniati memberlakukan hal yang sama. Lantaran, sekolah putranya harus melewati kafe-kafe di Kalijodo.
"Ya kalau khawatir sih, khawatir banget. Tapi mau tinggal di mana lagi? Suami saya cuma seorang satpam," keluh Husniati.
Cara lain digunakan Ipon, 40. Ipon menjaga anak-anaknya agar jauh dari kehidupan dunia malam di Kalijodo dengan menyekolahkan anaknya jauh dari situ, serta mengikut sertakan anaknya ke berbagai les.
"Kalau pergi pagi, pulangnya sore, anak-anak juga capek. Palingan mereka main di dalam rumah saja," ungkap Ipon.
Sementara warga lainnya, Sumiati, 54, mengirimkan anak bungsunya ke sebuah pesantren di Pandeglang. Kehidupan di Kalijodo dianggap tidak sehat untuk anak-anaknya, namun ia tak kuasa untuk pindah dari situ.
Tak hanya itu, di daerah tersebut juga terdapat sebuah tempat pengajian, Majlis Ta'lim Al-Muttaqin dan Bina Keluarga Balita Pendidikan Anak Usia Dini Seruni Indah. Menurut salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya itu, pendidikan agama penting untuk anak-anak mereka.
"Ngaji dan pelajaran agama jelas untuk mendidik anak-anak kita. Apalagi hidup di dekat lokasi seperti ini yang tidak sehat," beber salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Menurut ibu beranak tiga itu, kegiatan keagamaan di Kalijodo juga berjalan rutin. Ingar bingar kehidupan malam tidak sekalipun mengganggu kehidupan mereka.
Di sebuah bangunan berukuran 12 x 4 meter, pengajian untuk anak-anak rutin diadakan. Pengajian untuk anak-anak dijadwalkan setiap hari, mulai dari waktu Maghrib hingga masuk waktu Isya. Mereka baru libur pada Kamis, ketika bapak-bapak di sekitar melakukan pengajian.
Pengajian anak-anak yang digelar di Majlis Ta'lim Al-Muttaqin. Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Sementara itu, Majlis Ta'lim untuk ibu-ibu juga cukup rutin. Namun, belakangan kegiatan tersebut non-aktif sementara, lantaran pemberitaan penggusuran.
Selain itu, keberadaan Majlis Ta'lim juga ternyata beberapa kali dibutuhkan para pekerja seks komersial di Kalijodo. Menurut dia, beberapa PSK sempat mengikuti pengajian di Majlis Ta'lim.
"Beberapa PSK juga sempat ikut pengajian, dan secara bertahap, mereka akhirnya insyaf," tuturnya.
Tokoh masyarakat sekitar, Daeng Abdul Aziz pun dikatakan kerap mengikuti kegiatan agama. Bahkan, Daeng Aziz juga diketahui sempat menyumbang uang untuk pembangunan gedung yang ditempatkan untuk Majlis Ta'lim dan BKB PAUD tersebut.
Tidak hanya kegiatan dari pengajian dan Majlis Ta'lim, kegiatan kristiani juga terasa di kawasan Kalijodo. Di daerah situ, juga terdapat Gereja Bethel Indonesia, yang sudah berdiri sejak tahun 1975.
"Mereka rutin melakukan ibadah setiap Minggu. Kadang Natal juga dilakukan di sana," lanjutnya.
Soal kawasan prostitusi, mereka tidak ambil pusing. Selama mereka bisa menjaga anak-anaknya dengan pendidikan agama sedari dini, mereka yakin, anak-anak tidak akan terpengaruh.
"Kita tidak pernah ngotak-ngotakin mau gaul sama siapa. Karena kita kuatin ilmu agama anak-anak dan kadang juga kita ngajak (PSK ikuti pengajian), meski tidak maksa," ungkap orang tersebut.
Foto udara hasil 'screenshot' kawasan Kalijodo di Jakarta, Jumat (12/2). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.
Warga dengan tegas menolak rencana penggusuran oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Masalahnya, warga sekitar tak semuanya berlaku `terlarang`.
"Anak-anak kami tidak pernah seperti itu, mereka semua (pekerja prostitusi) itu orang luar, orang jauh," tandas sumber tersebut.
medcom.id, Jakarta: Kehidupan warga di Kalijodo, Jakarta Utara, tak melulu soal prostitusi dan minuman keras. Nyatanya, kegiatan religi cukup kental di kawasan yang sudah buram sejak zaman penjajahan Belanda, itu.
Aktivitas siang hari di Kalijodo tidak begitu mencolok. Jalanan di depan Kalijodo memang ramai kendaraan, tapi tidak untuk mampir.
Menjelang petang, keramaian mulai nyata. Namun, bukan dari serbuan pria hidung belang, melainkan diramaikan oleh anak-anak yang berlarian untuk sekadar bermain.
Kondisi kawasan Kalijodo saat sore hari, Selasa (16/2/2016). Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Pantauan di lokasi, Selasa (16/2/2016), pada sore hari, anak-anak bisa menikmati jajanan seperti bakso, pempek, dan menaiki odong-odong. Para bocah tersebut terlihat bermain dengan penuh keceriaan, tidak cemas dan tidak mengerti lingkungan sekitar mereka dihuni oleh para pekerja seks komersial.
Orang tua bocah-bocah itu pun sesekali memperingati mereka, bukan karena untuk mendekat ke salah satu kafe yang ada.
"Awas, jangan lari-larian, nanti ketabrak mobil," kata salah seorang pria yang tengah menemani anaknya bermain dengan kawan-kawannya.
Anak-anak sedang bermain di pinggir jalan kawasan Kalijodo. Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Kekhawatiran sebetulnya terlihat jelas di benak para orang tua tersebut. Namun demikian, mereka memiliki cara untuk menghindari anak mereka dari kehidupan prostitusi.
Husniati, 45, warga setempat, mengungkapkan, dirinya selalu menjaga anak sulungnya cukup ketat. "Kalau pulang sekolah, saya tungguin di depan gang. Kalau malam, saya larang ke luar rumah. Kalau keluar, harus dengan teman yang saya kenal, tapi kalau temannya anak sini (Kalijodo) saya tidak kasih ijin," ujar ibu empat anak ini di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.
Pun dengan penjagaan untuk putranya yang masih kecil, Husniati memberlakukan hal yang sama. Lantaran, sekolah putranya harus melewati kafe-kafe di Kalijodo.
"Ya kalau khawatir sih, khawatir banget. Tapi mau tinggal di mana lagi? Suami saya cuma seorang satpam," keluh Husniati.
Cara lain digunakan Ipon, 40. Ipon menjaga anak-anaknya agar jauh dari kehidupan dunia malam di Kalijodo dengan menyekolahkan anaknya jauh dari situ, serta mengikut sertakan anaknya ke berbagai les.
"Kalau pergi pagi, pulangnya sore, anak-anak juga capek. Palingan mereka main di dalam rumah saja," ungkap Ipon.
Sementara warga lainnya, Sumiati, 54, mengirimkan anak bungsunya ke sebuah pesantren di Pandeglang. Kehidupan di Kalijodo dianggap tidak sehat untuk anak-anaknya, namun ia tak kuasa untuk pindah dari situ.
Tak hanya itu, di daerah tersebut juga terdapat sebuah tempat pengajian, Majlis Ta'lim Al-Muttaqin dan Bina Keluarga Balita Pendidikan Anak Usia Dini Seruni Indah. Menurut salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya itu, pendidikan agama penting untuk anak-anak mereka.
"Ngaji dan pelajaran agama jelas untuk mendidik anak-anak kita. Apalagi hidup di dekat lokasi seperti ini yang tidak sehat," beber salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Menurut ibu beranak tiga itu, kegiatan keagamaan di Kalijodo juga berjalan rutin. Ingar bingar kehidupan malam tidak sekalipun mengganggu kehidupan mereka.
Di sebuah bangunan berukuran 12 x 4 meter, pengajian untuk anak-anak rutin diadakan. Pengajian untuk anak-anak dijadwalkan setiap hari, mulai dari waktu Maghrib hingga masuk waktu Isya. Mereka baru libur pada Kamis, ketika bapak-bapak di sekitar melakukan pengajian.
Pengajian anak-anak yang digelar di Majlis Ta'lim Al-Muttaqin. Foto: MTVN/ Damar Iradat.
Sementara itu, Majlis Ta'lim untuk ibu-ibu juga cukup rutin. Namun, belakangan kegiatan tersebut non-aktif sementara, lantaran pemberitaan penggusuran.
Selain itu, keberadaan Majlis Ta'lim juga ternyata beberapa kali dibutuhkan para pekerja seks komersial di Kalijodo. Menurut dia, beberapa PSK sempat mengikuti pengajian di Majlis Ta'lim.
"Beberapa PSK juga sempat ikut pengajian, dan secara bertahap, mereka akhirnya insyaf," tuturnya.
Tokoh masyarakat sekitar, Daeng Abdul Aziz pun dikatakan kerap mengikuti kegiatan agama. Bahkan, Daeng Aziz juga diketahui sempat menyumbang uang untuk pembangunan gedung yang ditempatkan untuk Majlis Ta'lim dan BKB PAUD tersebut.
Tidak hanya kegiatan dari pengajian dan Majlis Ta'lim, kegiatan kristiani juga terasa di kawasan Kalijodo. Di daerah situ, juga terdapat Gereja Bethel Indonesia, yang sudah berdiri sejak tahun 1975.
"Mereka rutin melakukan ibadah setiap Minggu. Kadang Natal juga dilakukan di sana," lanjutnya.
Soal kawasan prostitusi, mereka tidak ambil pusing. Selama mereka bisa menjaga anak-anaknya dengan pendidikan agama sedari dini, mereka yakin, anak-anak tidak akan terpengaruh.
"Kita tidak pernah ngotak-ngotakin mau gaul sama siapa. Karena kita kuatin ilmu agama anak-anak dan kadang juga kita ngajak (PSK ikuti pengajian), meski tidak maksa," ungkap orang tersebut.
Foto udara hasil 'screenshot' kawasan Kalijodo di Jakarta, Jumat (12/2). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.
Warga dengan tegas menolak rencana penggusuran oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Masalahnya, warga sekitar tak semuanya berlaku `terlarang`.
"Anak-anak kami tidak pernah seperti itu, mereka semua (pekerja prostitusi) itu orang luar, orang jauh," tandas sumber tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)