Ilustrasi Medcom.id.
Ilustrasi Medcom.id.

Gawat, Wilayah Jawa Bagian Barat Berpotensi Diguncang Gempa 8,7 Magnitudo

Nasional gempa bencana Gempa Bumi bencana alam Gempa Pandeglang
Atalya Puspa • 21 Januari 2022 13:42
Jakarta: Wilayah jawa bagian barat disebut berpotensi terjadi gempa 8,7 magnitudo. Potensi ini muncul karena adanya zona seismic gap di area Selat Sunda bagian selatan Indonesia.
 
"Di selatan Selat Sunda termasuk energinya sudah sangat tinggi sekali. Bagaimana kemudian dia bisa melepaskan? Kita masih belum tahu," kata peneliti ahli muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa dalam webinar bertajuk 'Gempa Bumi Banten 6,6 Magnitudo 14 Januari 2022', Jumat, 21 Januari 2022.
 
Menurut Nuraini, terdapat sejumlah kemungkinan yang bisa terjadi terkait dengan potensi gempa 8,7 magnitudo tersebut. Pertama, gempa bumi muncul dengan kekuatan besar sekaligus seperti yang terjadi di Aceh pada 2004.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya, gempa bisa terjadi dengan intensitas kecil namun diiringi dengan tsunami yang kemungkinan mencapai ketinggian 20 meter. "Kemungkinan lainnya ialah energi bisa dikeluarkan dalam bentuk gempa kecil atau swarm dengan jumlah banyak seperti yang pernah terjadi di Halmahera," ucap dia.
 
Dia menegaskan gempa berkekuatan 6,6 magnitudo di Banten pada 14 Januari 2022, menunjukkan wilayah tersebut memang aktif. Namun demikian, dia belum bisa memastikan gempa itu merupakan bagian dari potensi gempa 8,7 magnitudo yang masih mengancam.
 
"Gempa di Banten kemarin terjadi di bagian pinggir dari zona megatrhust. Dan biasanya gempa-gempa besar dimulai dari pinggir seperti itu. Pinggirannya lepas sedikit-sedikit dan nanti bisa bergerak. Tapi bergerak seperti apa kita enggak tahu," kata dia.
 
Nuraini mengimbau potensi itu tidak membuat masyarakat panik. Hal itu justru harus menjadi pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan dan ahli agar melakukan monitoring secara terus-menerus di wilayah yang memiliki potensi gempa berkekuatan tinggi. Agar, tidak terjadi bencana yang menimbulkan banyak kerugian dan korban jiwa.
 
"Ini pentingnya monitoring secara terus menerus. Untuk kasus gempa kita perlu berbagai tools monitoring. Seperti GPS, seismik, magnet, apa pun yang kita punya baiknya kita pasang. Termasuk juga alat untuk di lautnya," tegas dia.
 
Baca: Jayapura Diguncang Gempa Magnitudo 5,5, Tidak Berpotensi Tsunami
 
Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengungkapkan meningkatkan resiliensi masyarakat terhadap bencana menjadi poin penting yang harus dilakukan semua pihak.
 
"Ini menjadi PR kita bersama bagaimana membangun resiliensi infrastruktur dan pemahaman masuarakat yang kita perkuat di wilayah-wilayah yang memiliki potensi risiko terhadap gempa bumi," ucap dia.
 
BNPB telah melakukan berbagai upaya untuk menggandeng semua pihak agar meningkatkan literasi kebencanaan kepada masyarakat. Termasuk memperkuat infrastruktur agar tahan terhadap bencana.
 
"2045 menjadi target kita untuk resiliensi terhadap berbagai tantangan seperti kebencanaan dan perubahan iklim. Kita harus berupaya bersama untuk menuju resiliensi di masa Indonesia emas mendatang," tegas dia.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif