Jakarta: Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menuntaskan penguatan tepian Sungai Aih Bobo di Desa Aih Bobo dan Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues. Penanganan tanggap darurat tersebut dilakukan untuk melindungi permukiman, lahan pertanian, dan mobilitas warga dari ancaman erosi, luapan sungai, serta banjir bandang.
Pekerjaan difokuskan pada pemasangan bronjong, yaitu struktur anyaman kawat berisi batu yang berfungsi memperkuat tepian sungai. Site Manager Operasional Hutama Karya Peri mengatakan pekerjaan di kedua sisi Sungai Aih Bobo berlangsung sejak awal Februari hingga awal Agustus 2026.
“Awal kita beri tanggul tanah. Setelah itu, lanjut ke bronjong dengan lebih kurang 1 kilometer, tinggi 2,5 meter, lebar ada 3 meter, untuk memproteksi air agar dinding sungai tidak rusak,” kata Peri dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Luapan Sungai Aih Bobo saat bencana hidrometeorologi sebelumnya merusak lahan pertanian dan berdampak pada rumah warga. Karena itu, penguatan tepian sungai disiapkan sebagai perlindungan awal agar aliran air tidak kembali menggerus kawasan permukiman.
“Jadi lokasi ini pas waktu bencana itu lahan pertanian rusak dan juga ada mengenai rumah warga. Jadi ini kami protek, dinding sungai ini. Itu kita menggunakan bronjong karena secara teknik itu yang lebih ideal,” ujar Peri.
Pengawas Lapangan BWS Sumatera I Fahried Wajidi mengatakan penanganan tanggap darurat juga dilakukan pada empat titik lain di Kecamatan Rikit Gaib, Dabun Gelang, dan Putri Betung. Secara keseluruhan, lima titik penguatan tepian sungai tersebut telah mencapai progres fisik 99 persen.
“Pascabencana di setiap titik itu kita lakukan pemasangan bronjong karena ini sifatnya tanggap darurat, artinya sementara,” kata Fahried saat meninjau Sungai Aih Bobo bersama Satgas PRR, Jumat (21/8/2026).
Kelima titik penanganan tersebut didukung anggaran Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp137 miliar. Kehadiran struktur pelindung sungai diharapkan memberi rasa aman bagi warga saat curah hujan meningkat, sekaligus menjaga lahan pertanian dan akses masyarakat di sekitar aliran sungai.
Sementara itu, Perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR) dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, menegaskan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dan Pemerintah Provinsi Aceh dalam melengkapi pemulihan pascabencana di Gayo Lues.
Imran mencatat masih ada sejumlah jalan dan jembatan kewenangan provinsi serta kabupaten yang belum ditangani, seperti akses rusak di Pining dan Pintu Rime. Padahal, alokasi Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat telah dikucurkan ke daerah.
“Kami berharap untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah tersusun di dalam Renduk, sudah ada pemisahan yang jelas antara Renduk pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Kita berharap implementasinya dapat saling bersinergi untuk memperbaiki wilayah antara Lokop dan Blangkejeren di Gayo Lues,” kata Imran.
Jakarta: Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menuntaskan penguatan tepian Sungai Aih Bobo di Desa Aih Bobo dan Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues.
Penanganan tanggap darurat tersebut dilakukan untuk melindungi permukiman, lahan pertanian, dan mobilitas warga dari ancaman erosi, luapan sungai, serta banjir bandang.
Pekerjaan difokuskan pada pemasangan bronjong, yaitu struktur anyaman kawat berisi batu yang berfungsi memperkuat tepian sungai. Site Manager Operasional Hutama Karya Peri mengatakan pekerjaan di kedua sisi Sungai Aih Bobo berlangsung sejak awal Februari hingga awal Agustus 2026.
“Awal kita beri tanggul tanah. Setelah itu, lanjut ke bronjong dengan lebih kurang 1 kilometer, tinggi 2,5 meter, lebar ada 3 meter, untuk memproteksi air agar dinding sungai tidak rusak,” kata Peri dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Luapan Sungai Aih Bobo saat bencana hidrometeorologi sebelumnya merusak lahan pertanian dan berdampak pada rumah warga. Karena itu, penguatan tepian sungai disiapkan sebagai perlindungan awal agar aliran air tidak kembali menggerus kawasan permukiman.
“Jadi lokasi ini pas waktu bencana itu lahan pertanian rusak dan juga ada mengenai rumah warga. Jadi ini kami protek, dinding sungai ini. Itu kita menggunakan bronjong karena secara teknik itu yang lebih ideal,” ujar Peri.
Pengawas Lapangan BWS Sumatera I Fahried Wajidi mengatakan penanganan tanggap darurat juga dilakukan pada empat titik lain di Kecamatan Rikit Gaib, Dabun Gelang, dan Putri Betung. Secara keseluruhan, lima titik penguatan tepian sungai tersebut telah mencapai progres fisik 99 persen.
“Pascabencana di setiap titik itu kita lakukan pemasangan bronjong karena ini sifatnya tanggap darurat, artinya sementara,” kata Fahried saat meninjau Sungai Aih Bobo bersama Satgas PRR, Jumat (21/8/2026).
Kelima titik penanganan tersebut didukung anggaran Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp137 miliar. Kehadiran struktur pelindung sungai diharapkan memberi rasa aman bagi warga saat curah hujan meningkat, sekaligus menjaga lahan pertanian dan akses masyarakat di sekitar aliran sungai.
Sementara itu, Perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR) dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, menegaskan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dan Pemerintah Provinsi Aceh dalam melengkapi pemulihan pascabencana di Gayo Lues.
Imran mencatat masih ada sejumlah jalan dan jembatan kewenangan provinsi serta kabupaten yang belum ditangani, seperti akses rusak di Pining dan Pintu Rime. Padahal, alokasi Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat telah dikucurkan ke daerah.
“Kami berharap untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah tersusun di dalam Renduk, sudah ada pemisahan yang jelas antara Renduk pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Kita berharap implementasinya dapat saling bersinergi untuk memperbaiki wilayah antara Lokop dan Blangkejeren di Gayo Lues,” kata Imran.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(ANN)