Ilustrasi pembangunan hunian tetap di Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Subarkah/MI
Ilustrasi pembangunan hunian tetap di Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Subarkah/MI

3.100 Hunian Tetap di Sulteng Rampung Sebelum Lebaran

Nasional Gempa Lombok
Media Indonesia • 25 November 2019 10:54
Jakarta: Pemerintah menargetkan pembangunan ribuan hunian tetap (huntap) untuk korban gempa, tsunami, dan likuefaksi rampung sebelum lebaran 2020. Huntap dibangun Yayasan Buddha Tzu dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
 
"Dari Yayasan Buddha Tzu Chi, mereka membangun 1.500, yang sudah jadi 300. Dari kita di tahun ini sekitar 1.600 sedang dilelang. Tapi diharapkan cepat selesai sebelum lebaran," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat John Wempi Wetimpo saat meninjau huntap di Tandulako, Palu, Sulteng, Minggu, 24 November 2019.
 
Kementrian PUPR juga akan membangun tujuh ribu huntap tahun depan. Pembangunan semua huntap akan rampung pada 2022. Pembangunan cukup lama karena banyak infrastruktur yang harus diperbaiki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena bukan hanya perumahan, tetapi beberapa infrastruktur yang memang harus dibangun," terangnya.
 
Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulteng, Arie Setiadi Moerwanto, menyebut pembangunan huntap mencapai 11.500 unit. Sebesar 30 persen dari angka tersebut akan dikerjakan lembaga donor, seperti Yayasan Buddha Tzu Chi dan Grup Mayapada.
 
Arie menjelaskan huntap yang dibangun berukuran 36 meter persegi dan tahan gempa. Huntap berdiri di atas tanah seluas 150 meter persegi dengan biaya Rp50 juta satu huntap. "Jadi kita mengoptimalkan semua," ujar dia.
 
Pemerintah bertanggung jawab atas penyediaan lahan, prasarana permukiman, seperti listrik, air, buangan limbah, dan akses jalan. Setidaknya butuh lahan sekitar 420 hektare untuk membangun seluruh huntap. Ari mengakui ada beberapa kendala dalam pembangunan huntap. Salah satunya dalam pembebesan lahan.
 
"Masih ada hal-hal yang harus kita benahi secara pelan-pelan. Karena beberapa masyarakat mengaku itu tanahnya, walaupun tidak ada bukti-bukti formal. Tapi kita ingin menyelesaikan secara baik-baik berkaitan hal tersebut," ujar Arie.
 
Di sisi lain, ribuan warga Sulteng masih tinggal di hunian tetap sementara (huntara) yang berlokasi di Duyu. Huntara ini dibangun Kementrian PUPR dan Grup Kalla.
 
Salah seorang pengungsi, Yani, 39, mengeluhkan beberapa fasilitas yang ada di huntara. Salah satunya saluran air yang sering pampat. "Selokan itu saja, kita sudah usaha, bagale (menggali) sendiri. Saya kan juga tidak tahu, yang tahu kan PUPR," keluhnya.
 
Yani berharap segera dipindahkan ke huntap. "Biar kita ini ditetapkan di mana saja yang penting sudah huntap," kata Yani.
 
Gempa disertai tsunami dengan magnitudo 7,4 mengguncang Sulteng pada 28 September 2018. Peristiwa itu juga mengakibatkan fenomena alam pencairan tanah atau likuifaksi, dan 4.845 orang meninggal dunia. Sebanyak 172.999 orang juga harus mengungsi dengan kerugian materiel Rp24 triliun. (Tri Subarkah/MI)
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif