Logo  Tour de Banyuwangi-Ijen 2017
Logo Tour de Banyuwangi-Ijen 2017

Keistimewaan Tour de Banyuwangi-Ijen 2017

Nasional itdbi banyuwangi banyuwangi
Tri Kurniawan • 27 September 2017 05:13
medcom.id, Banyuwangi: International Tour de Banyuwangi-Ijen (ITdBI) 2017 berbeda dari ajang balap sepeda lainnya. Setidaknya, ada tiga hal yang membuat ITdBI tahun ini lebih istimewa.
 
Pertama, start etape 4 dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam di Blokagung. Pesantren ini tertua dengan murid terbanyak di Banyuwangi. Sebelum start, pembalap akan menggunakan sarung dan kopiah.
 
Pelaksana ITdBI juga akan menjelaskan makna sarung dan kopiah. Sedangkan santri telah siap menyambut kedatangan pembalap yang jumlahnya sekira 100 orang dan wisatawan. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi pembalap.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini bukti toleransi keagamaan. Bahwa pondok pesantren itu toleran, menerima siapa pun yang datang. Kami yakin pembalap dari luar negeri belum pernah pakai sarung dan kopiah," kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Wawan Yadmadi saat jumpa pers di Pendopo Shaba Swagata, Jalan Sri Tanjung 1, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa 26 September 2017.
Keistimewaan Tour de Banyuwangi-Ijen 2017
Kiri ke kanan: Chairman ITdBI 2017 Guntur Priambodo, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko, Wakil Ketua Umum PB Ikatan Sepeda Sport Indonesia Engkos Sadrah, dan pengurus UCI, saat jumpa pers soal ITdBI 2017. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan
 
Keistimewaan kedua saat start etape 2 di Dusun Kakao, Kecamatan Glenmore. Di sana, pembalap akan diajak menikmati cokelat dari tanah Banyuwangi. Ini bagian dari upaya Pemkab Banyuwangi mengenalkan cokelat asli dari daerah dengan julukan The Sunrise of Java ini.
 
"Kakao yang dinikmati di Malaysia atau Eropa aslinya dari Banyuwangi. Cokelat enak itu dari Banyuwangi," ujar Chairman ITdBI 2017 Guntur Priambodo dalam kesempatan yang sama.
 
Perbedaan dari ITdBI 2017 juga akan tersaji di etape 1. Pembalap akan memulai balapan dari Pasar Bajulmati. Lintasan etape 1 ada di pinggir pantai. Yang menarik, dulu masyarakat di sekitar lintasan etape 1 dikenal sering menggunakan bom ikan.
 
Tapi sekarang masyarakat menyadari penggunaan bom ikan merusak terumbu karang. Tidak ada lagi masyarakat menangkap ikan dengan cara merusak ekosistem laut.
 
"Masyarakat berubah total dan menjaga lingkungan mereka. Tahun ini insyaallah mendapat penghargaan Kalpataru dari presiden," ujar Guntur.
 
Kompetisi balap sepeda kategori 2.2, dilaksanakan pada Rabu 27 September hingga Sabtu 30 September. Pembalap dari 29 negara akan bertarung di empat etape dengan total lintasan sejauh 533 kilometer.
 
Keistimewaan Tour de Banyuwangi-Ijen 2017
 
ITdBI mengusung konsep sport tourism, di mana event balap sepeda dibalut dengan pariwisata. Tempat-tempat yang akan dilalui pembalap merupakan ikon Banyuwangi. Tiga etape akan finish di kantor Pemkab Banyuwangi.
 
Hanya etape 3 yang garis finish ada di Gunung Ijen. Ini juga menarik, karena kawah Ijen dikenal memancarkan fenomena api biru.
 
Dalam kesempatan berbeda, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ITdBI memberikan kompetisi yang tidak hanya bergengsi, tapi juga menantang dan memberikan pengalaman berbeda bagi pembalap karena event ini dipadukan dengan budaya.
 
"Jadi ini ajang balap sepeda internasional yang unik. Publik luar senang karena baru kali ini lihat ada balap sepeda tapi di sepanjang rute ada salawatan, tari, sampai musik lokal," ujar Anas.
 

(TRK)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif