FGD Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Sabtu (13/2/2016) -- Foto: Metrotvnews.com/ Intan fauzi
FGD Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Sabtu (13/2/2016) -- Foto: Metrotvnews.com/ Intan fauzi

Belajar dari Supersemar, Tokoh Militer Imbau Pemerintah Waspadai Invisible Hand

Nasional supersemar
Intan fauzi • 14 Februari 2016 06:10
medcom.id, Jakarta: Tokoh Militer dari Angkatan Darat (AD), Letjend TNI Kiki Syahnakri menilai, peristiwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tak terlepas dari peranan tokoh terselubung (invisible hand). Bahkan tokoh itu sudah ada sejak Indonesia merdeka tahun 1945.
 
"Dalam peristiwa kekacauan yang terjadi di republik ini sejak kemerdekaan, saya kira tak lepas dari invisible hand," kata Kiki dalam Forum Group Discussion Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (13/2/2016).
 
Dari buku yang pernah dia baca, berjudul "Incubus of Intervention: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles", perang proksi (war by proxy) kerap terjadi di Indonesia. Pihak ketiga tidak secara langsung menciptakan kekacauan di Indonesia. Dari buku itu pula, tercermin pengaruh Amerika Serikat dalam beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kiki pun mengaitkannya pada Doktrin Monroe milik Presiden Amerika Serikat ke-5, James Monroe. Doktrin Monroe mengatakan dunia tidak akan sepi dari konflik tapi konflik tidak boleh terjadi di Amerika. Oleh karena itu Amerika menciptakan konflik di luar negaranya.
 
"Pasti dengan Amerika tidak ingin membuat stabilitas di Indonesia, maka saya percaya tangan-tangan itu bekerja dari awal 1945, jatuhnya Soekarno dan jatuhnya Soeharto," ungkap Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu.
 
Kiki pun mengimbau agar pemerintah terus waspada akan potensi-potensi kekacauan semacam itu. Pemerintah perlu melakukan upaya untuk menghalangi keterlibatan tokoh terselubung. Kiki yakin, hal itu dapat diatasi jika kekuatan nasional dapat bersatu.
 
"Utamanya ada di partai politik tapu sayang sekali partai politik nasionalis masih 'sakit', terutama Golkar," pungkasnya.
 

(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif