medcom.id, Jakarta: Air bersih di kota semakin minim, buruknya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan serta banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan menjadi penyebab utama rusaknya sumber air bersih.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Mudjiadi mengatakan, air bersih di Jakarta semakin sulit ditemukan. Sebab, sumber air sudah tercemar oleh limbah maupun sampah yang dibuang masyarakat.
“Selama ini kesadaran menjaga air bersih masih sangat kurang. Lihat saja sungai masih kotor, buang sampah sembarangan, saluran drainase belum terpelihara," kata Mudjiadi dalam Peringatan Hari Air Sedunia, Minggu (22/3/2015).
Ia mengungkapkan, kebutuhan air semakin tinggi namun jumlahnya semakin sedikit. Padahal, air merupakan kebutuhan bersama yang tak bisa tergantikan.
"Tanpa air tak ada kehidupan. Kita perlu kampanyekan hari air dunia agar masyarakat sadar untuk menjaga lingkungannya," ujarnya.
PBB telah menetapkan tanggal 22 Maret sebagai hari Air Sedunia sejak tahun 1990. Sebab, keberadaan air mempengaruhi peradaban dan kemajuan manusia.
"Ini hari air ke 23. Kita tidak bisa terlepas dari air, sekarang ada food water and energy access dan penanganannya sangat berkaitan. Air bersih menjadi masalah berat dan harus dikelola bersama," ujarnya.
Dia mengungkapkan, hari air tahun ini berbeda, karena undang-undang sumber daya air Nomor 7 dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi dan kembali kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974.
Sekretaris Jenderal Direktorat Sumber Daya Air (SDA), Hartanto mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan undang-undang pengganti. Sebab, UU yang berlaku saat ini tidak sesuai dengan keadaan sekarang.
"Kami minta pendapat masyarakat, bagaimana mengelola air yang baik dan sesuai undang-undang dasar 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi kemarin menyebutkan, air sebesar-besarnya untuk rakyat dan diusahakan oleh BUMN dan BUMD. Apabila masih ada kelebihan, swasta baru boleh ikut dengan persyaratan yang ketat," ujar Hartanto.
medcom.id, Jakarta: Air bersih di kota semakin minim, buruknya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan serta banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan menjadi penyebab utama rusaknya sumber air bersih.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Mudjiadi mengatakan, air bersih di Jakarta semakin sulit ditemukan. Sebab, sumber air sudah tercemar oleh limbah maupun sampah yang dibuang masyarakat.
“Selama ini kesadaran menjaga air bersih masih sangat kurang. Lihat saja sungai masih kotor, buang sampah sembarangan, saluran drainase belum terpelihara," kata Mudjiadi dalam Peringatan Hari Air Sedunia, Minggu (22/3/2015).
Ia mengungkapkan, kebutuhan air semakin tinggi namun jumlahnya semakin sedikit. Padahal, air merupakan kebutuhan bersama yang tak bisa tergantikan.
"Tanpa air tak ada kehidupan. Kita perlu kampanyekan hari air dunia agar masyarakat sadar untuk menjaga lingkungannya," ujarnya.
PBB telah menetapkan tanggal 22 Maret sebagai hari Air Sedunia sejak tahun 1990. Sebab, keberadaan air mempengaruhi peradaban dan kemajuan manusia.
"Ini hari air ke 23. Kita tidak bisa terlepas dari air, sekarang ada
food water and energy access dan penanganannya sangat berkaitan. Air bersih menjadi masalah berat dan harus dikelola bersama," ujarnya.
Dia mengungkapkan, hari air tahun ini berbeda, karena undang-undang sumber daya air Nomor 7 dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi dan kembali kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974.
Sekretaris Jenderal Direktorat Sumber Daya Air (SDA), Hartanto mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan undang-undang pengganti. Sebab, UU yang berlaku saat ini tidak sesuai dengan keadaan sekarang.
"Kami minta pendapat masyarakat, bagaimana mengelola air yang baik dan sesuai undang-undang dasar 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi kemarin menyebutkan, air sebesar-besarnya untuk rakyat dan diusahakan oleh BUMN dan BUMD. Apabila masih ada kelebihan, swasta baru boleh ikut dengan persyaratan yang ketat," ujar Hartanto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)