Jakarta: Gema takbir Idulfitri mungkin telah berlalu, namun bagi sebagian besar masyarakat, khususnya di tanah Jawa, perayaan kemenangan belum sepenuhnya usai. Seminggu setelah 1 Syawal, terdapat satu tradisi khas yang dinanti-nantikan, yakni Lebaran Ketupat.
Tradisi ini bukan sekadar ajang makan bersama, melainkan simbol spiritualitas dan keharmonisan sosial yang mendalam.
Apa itu Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat, atau yang populer dengan sebutan 'Kupatan', merupakan tradisi khas umat Muslim di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perayaan ini identik dengan pembuatan ketupat dari anyaman janur kuning yang disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng.
Selain menjadi momen untuk makan bersama, tradisi ini diwarnai dengan aksi saling berbagi hantaran makanan kepada kerabat serta tetangga sebagai wujud rasa syukur dan penguat tali silaturahmi.
Sejarah dan Filosofi Lebaran Ketupat
Menelusuri akarnya, masyarakat Jawa meyakini Sunan Kalijaga sebagai sosok pionir yang memadukan ketupat ke dalam tradisi Islam di Nusantara. Melansir NU Online, budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa sang Wali menggunakan tradisi slametan yang sudah ada sebagai sarana dakwah untuk menanamkan nilai sedekah dan syukur.
Dikenal juga dengan istilah 'bakda kupat', tradisi ini berakar dari filosofi ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Dalam momen ini, ketupat menjadi simbol fisik dari keikhlasan untuk saling memaafkan dan menghapus kekhilafan masa lalu.
Baca Juga :
Simak, 7 Daerah yang Merayakan Lebaran Ketupat
Sejarawan Agus Sunyoto memandang Lebaran Ketupat sebagai tradisi asli Nusantara yang memiliki pijakan kuat dalam ajaran Islam. Perayaan ini selaras dengan sunah Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa mereka yang menyempurnakan puasa Ramadan dengan tambahan enam hari di bulan Syawal akan memperoleh pahala yang nilainya setara dengan berpuasa sepanjang tahun.
Meski identik dengan Jawa, Lebaran Ketupat kini dirayakan dengan berbagai cara unik di berbagai penjuru Indonesia. Ada masyarakat yang membawanya ke masjid untuk didoakan bersama, ada pula yang menggelar festival "Gunungan Ketupat". Menu pendampingnya pun beragam, mulai dari opor ayam, rendang, hingga sambal goreng ati, yang semuanya dinikmati dalam suasana kebersamaan yang hangat.
Pada akhirnya, Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner semata, melainkan sebuah pengingat akan pentingnya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan (ngaku lepat). Di balik anyaman janur yang rumit, tersimpan harapan agar hubungan antarmanusia kembali jernih dan putih selayaknya isi ketupat. Mari kita jadikan tradisi warisan para wali ini sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menyempurnakan kemenangan spiritual kita di bulan Syawal.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Gema takbir Idulfitri mungkin telah berlalu, namun bagi sebagian besar masyarakat, khususnya di tanah Jawa, perayaan kemenangan belum sepenuhnya usai. Seminggu setelah 1 Syawal, terdapat satu tradisi khas yang dinanti-nantikan, yakni
Lebaran Ketupat.
Tradisi ini bukan sekadar ajang makan bersama, melainkan simbol spiritualitas dan keharmonisan sosial yang mendalam.
Apa itu Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat, atau yang populer dengan sebutan 'Kupatan', merupakan tradisi khas umat Muslim di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perayaan ini identik dengan pembuatan ketupat dari anyaman janur kuning yang disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng.
Selain menjadi momen untuk makan bersama, tradisi ini diwarnai dengan aksi saling berbagi hantaran makanan kepada kerabat serta tetangga sebagai wujud rasa syukur dan penguat tali silaturahmi.
Sejarah dan Filosofi Lebaran Ketupat
Menelusuri akarnya, masyarakat Jawa meyakini Sunan Kalijaga sebagai sosok pionir yang memadukan ketupat ke dalam tradisi Islam di Nusantara. Melansir NU Online, budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa sang Wali menggunakan tradisi slametan yang sudah ada sebagai sarana dakwah untuk menanamkan nilai sedekah dan syukur.
Dikenal juga dengan istilah 'bakda kupat', tradisi ini berakar dari filosofi ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Dalam momen ini, ketupat menjadi simbol fisik dari keikhlasan untuk saling memaafkan dan menghapus kekhilafan masa lalu.
Sejarawan Agus Sunyoto memandang Lebaran Ketupat sebagai tradisi asli Nusantara yang memiliki pijakan kuat dalam ajaran Islam. Perayaan ini selaras dengan sunah Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa mereka yang menyempurnakan puasa Ramadan dengan tambahan enam hari di bulan Syawal akan memperoleh pahala yang nilainya setara dengan berpuasa sepanjang tahun.
Meski identik dengan Jawa, Lebaran Ketupat kini dirayakan dengan berbagai cara unik di berbagai penjuru Indonesia. Ada masyarakat yang membawanya ke masjid untuk didoakan bersama, ada pula yang menggelar festival "Gunungan Ketupat". Menu pendampingnya pun beragam, mulai dari opor ayam, rendang, hingga sambal goreng ati, yang semuanya dinikmati dalam suasana kebersamaan yang hangat.
Pada akhirnya, Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner semata, melainkan sebuah pengingat akan pentingnya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan (ngaku lepat). Di balik anyaman janur yang rumit, tersimpan harapan agar hubungan antarmanusia kembali jernih dan putih selayaknya isi ketupat. Mari kita jadikan tradisi warisan para wali ini sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menyempurnakan kemenangan spiritual kita di bulan Syawal.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)