Jemaah Munajat 212 melaksanakan Salat Magrib di Monas, Jakarta. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga.
Jemaah Munajat 212 melaksanakan Salat Magrib di Monas, Jakarta. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga.

KontraS Minta Penganiaya Jurnalis di Munajat 212 Diadili

Nasional kekerasan terhadap wartawan aksi 212
Nur Azizah • 23 Februari 2019 16:17
Jakarta: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam tindakan kekerasan, intimidasi, dan persekusi massa Laskar Front Pembela Islam (FPI) terhadap jurnalis saat meliput kegiatan Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta. Dalam catatan KontraS, penggunaan kekerasan oleh massa FPI bukan kali pertama dan terus berulang.
 
"Ini mengancam siapa pun yang bekerja untuk memperjuangkan kemerdekaan pers. Jika tindakan massa FPI tidak ditindak secara hukum dikhawatirkan muncul organisasi lain yang akan menjadi pelaku-pelaku baru karena merasa mendapat justifikasi atau pembenaran untuk menduplikasi tindakan serupa," kata Koordinator KontraS Yati Andriyani dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu 23 Februari 2019.
 
Menurut dia, kekerasan dan intimidasi ini tidak lepas karena aparat penegakan hukum yang cenderung ‘membiarkan’ pelaku. Aparat juga dinilai lemah dalam penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat Munajat 212, Koordinator Liputan CNN Indonesia TV Joni Aswira, jurnalis Kompas.com Nibras Nada Nailufar, dan jurnalis Detik.com Satria menerima kekerasan dalam peliputan. Yati menilai kekerasan itu bentuk keberulangan yang terus mengancam pekerja pers.
 
Yati mengingatkan kerja jurnalis dilindungi Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 8 UU Pers menyebutkan dalam menjalankan profesinya, jurnalis mendapat perlindungan hukum. Pasal 4 ayat (3) menjamin kemerdekaan pers. Pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
 
Tindakan massa FPI, kata dia, jelas melanggar Pasal 4 ayat (3). Perbuatan tersebut juga bisa dikenai pidana Pasal 18 ayat (1), di mana setiap orang yang menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dapat pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.
 
Baca: Niat Munajat 212 Tercoreng
 
"Dengan ini KontraS turut mendesak aparat kepolisian menangkap para pelaku dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang," ucap Yati.
 
Selain itu, Yati juga meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis sebelumnya. Pasalnya, hingga kini belum ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tuntas sampai pengadilan;
 
"Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan intimidasi, persekusi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang liputan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk turut bersolidaritas mengecam keras tindakan intimidasi dan kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap para jurnalis yang sedang liputan Munajat 212," pungkas dia.

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif