SAS Institute: MCA tak Terkait Islam
Polisi menangkap sejumlah orang terkait MCA. Foto: MI/Adam Dwi.
Jakarta: Kepolisian terus berupaya membongkar jaringan menyebar hoaks dan ujaran kebencian mengatasnamakan Muslim Cyber Army (MCA). Namun, SAS Institute memastikan MCA tak ada hubungannya dengan Islam.

"Saya berusaha menghindari idiom muslim yang dikaitkan dengan sindikasi penebar fitnah dan berita palsu. Kita harus tegas, menegasikan MCA bukanlah bagian dari penguatan Islam," kata Direktur SAS Institute Imdadun Rahmat dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Maret 2018.

Untuk itu, Imdadun meminta kepolisian segera membongkar jaringan MCA. Menurutnya, kiprah MCA amat berpotensi menyulut konflik horizontal.


Kehadiran MCA, kata dia, merupakan paradoks di era digital. Menurtnya, revolusi 4.0 telah membuka peluang platform informasi yang egaliter. Artinya, setiap orang atau kelompok bisa membuat kantor beritanya masing-masing. Di waktu yang sama, potensi hoaks justru semakin membesar.

Baca: Eks Anggota Saracen 'Bermigrasi' ke MCA

"Duplikasi simbol Islam pada sindikasi kejahatan media sosial harus kita lawan. Ini sama sekali bukan Islam. Mereka adalah kelompok yang mencari keuntungan di tengah rentannya konflik horizontal di masyarakat," kata dia.

Imdadun memastikan bahwa lembaga yang digagas Said Aqil Siroj ini akan berada di garis depan melawan penyebaran berita palsu dan ujaran kebencian.





(UWA)