Ilustrasi produksi sari kelapa. (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)
Ilustrasi produksi sari kelapa. (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

Sari Kelapa, Produk Mikrobial yang Memang Perlu Urea

Nasional industri makanan bahan berbahaya
03 Oktober 2017 16:19
medcom.id, Jakarta: Direktur Utama Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim mengatakan sari kelapa atau nata de coco adalah produk mikrobiologi yang memang dalam pembuatannya memerlukan amonium sulfat atau urea.
 
Mikroba yang digunakan untuk membuat sari kelapa memerlukan nutrisi yakni karbon dan nitrogen untuk mengubah air kelapa atau sumber lain menjadi bentuk yang lebih padat dan berserat.
 
"Dalam produksi nata de coco sumber karbon yang digunakan adalah gula dan sumber nitrogen didapatkan dari urea. Ini memang untuk (makanan) mikroba," ungkap Lukman, dalam Newsline, Selasa 3 Oktober 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain karbon dan urea, produksi sari kelapa juga memerlukan suasana yang asam. Untuk menciptakan suasana ini digunakan pula asam sulfat atau asam cuka dalam proses pembuatannya.
 
Lukman mengatakan, tidak ada yang salah dengan produksi sari kelapa yang menggunakan urea sebagai makanan bakteri. Sebab sejak tahun 70-an urea memang sudah digunakan dalam industri ini.
 
"Yang sekarang jadi masalah sejak tahun 2015 BPOM mengeluarkan peraturan bahwa untuk produk sari kelapa harus menggunakan ZA atau amonium sulfat atau urea yang food grade," kata Lukman.
 
Lukman bahkan menyebut seandainya seluruh industri pembuatan sari kelapa diperiksa, maka sudah pasti mereka menggunakan urea. Dia pun menduga bahwa kepolisian melakukan pengusutan tersebut atas landasan dari BPOM bahwa produksi sari kelapa harus menggunakan urea yang sesuai untuk industri makanan.
 
Namun dia memastikan bahwa sumber nitrogen yang didapat dari urea itu tidak akan diserap oleh tubuh ketika dikonsumsi oleh manusia. Sumber nitrogen dimakan oleh mikroba dan pada produk akhirnya akan habis, bahkan setelah berbentuk lembaran akan dicuci dan direndam hingga dua hari untuk menurunkan tingkat keasamannya.
 
"Jadi memang si ureanya sudah tidak ada di produk akhir. Karena untuk makanan mikroba bukan dimakan manusia, makanya ini produk mikrobial namanya acetobacter," jelas Lukman.
 
Dia pun mengatakan memang ada sumber nitrogen lain selain urea, masalahnya hanya soal harga mengingat mayoritas produsen sari kelapa hanya UMKM, bukan pabrikan.
 
Meski begitu Lukman setuju bahwa aturan untuk pembuatan makanan menggunakan bahan kimia harus dirapikan. Namun alangkah baiknya hal itu diikuti regulasi tata niaga yang sesuai. Jangan sampai UMKM habis begitu saja hanya karena dianggap tidak mengikuti aturan. Perlu pembinaan agar UMKM tak salah arah.
 
"Sebenarnya kasihan ini kan UMKM. Miris juga mereka harus ditutup, Saya menghormati kepolisian untuk merapikan tapi harus diikuti dengan peraturan yang benar," jelas Lukman.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif