Mantan Menteri Sekretaris Negara Bondan Gunawan (kiri). Foto: MI/IMMANUEL ANTONIUS
Mantan Menteri Sekretaris Negara Bondan Gunawan (kiri). Foto: MI/IMMANUEL ANTONIUS

Mantan Mensesneg Bondan Gunawan Meninggal

23 Mei 2019 16:09
Jakarta: Menteri Sekretaris Negara era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Bondan Gunawan meninggal dunia. Bondan mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019, pukul 13.00 WIB.
 
Menteri Negara Riset dan Teknologi era Gus Dur, Muhammad AS Hikam menilai kesedihan tak akan pernah cukup, khususnya bagi seluruh anak bangsa pecinta demokrasi yang ditinggalkan Bondan. Bondan yang sangat dekat dan setia dengan Gus Dur ini dikenang sebagai salah seorang pekerja dan pejuang demokrasi tanpa kompromi.
 
"(Sosok Bondan Gunawan) yang pernah saya kenal, kagumi, akrabi, dan selalu menjadi salah satu sumber kekuatan untuk terus bersemangat," ujar Hikam di Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pendiri Forum Demokrasi (Fordem) itu juga dinilai sebagai seorang pribadi yang santun, tegas, dermawan, dan luas pergaulan. Tokoh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini juga dekat dengan rakyat kecil, mahasiswa, politisi, dan para cendekiawan di dalam seluruh kehidupan dan kariernya.
 
Hikam menceritakan perkenalan pertamanya dengan Bondan. Saat itu, dia diajak oleh Gus Dur untuk beremu tokoh Marhaenis. Fordem juga ketika itu sedang aktif memperjuangkan kembalinya demokrasi konstitusional di Indonesia dari tangan Orde Baru.
 
Dari Bondan, dia juga kemudian mengenal para aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam GMNI dan belajar tentang visi Marhaenis yang dipahami, dan dipraktikkan almarhum secara konsisten tanpa kompromi.
 
"Berdiskusi dan bercanda dengan Mas Bondan, bagi saya, adalah bukan hanya mengadu nalar, tetapi juga menimba pengalaman dan Roso, sebuah spiritualitas yang beliau ambil dari kebudayaan adiluhing Jawa," ujar dia.
 
Komplentasi serta konvergensi antara nalar dan roso itu, menurut dia, membuat Bondan tegar, tegas, tetapi realistis dan tak pernah kecewa dalam kondisi apa pun. Bondan menikmati hidup yang tersedia tetapi selalu siap jika terjadi perubahan.
 
"Kesan paling mendalam dalam bergaul dengan para "sesepuh" Fordem adalah kebhinekaan mereka dan kemampuan merayakannya, Mas Bondan dengan latarbelakang budaya Jawa dan Yogya, dengan sangat enteng dan nyaris tanpa masalah merangkul dan merayakan latar budaya pesantren GD (Gus Dur), intelektual sosialis alm Rahman Tolleng dan Pak Sillam, dan sebagainya," kenang dia.
 
Secara pribadi, dia juga sering bertukar pikiran dengan Bondan. Dia dinilai terkadan terlalu barat pemikirannya soal masalah demokrasi. Semua bisa bertemu dalam sebuah rajut keindahan berupa tujuan utama: Sebuah Indonesia yang demokratis, adil dan beradab. "Karenanya, walaupun beliau tak lagi sering jumpa, namun kehangatan perkawanan kami berdua selalu terjaga," ujar dia.
 
Dia mengaku terakhir kali bertemu dengan Bondan pada 2018. Dia juga sempat berkirim pesan dan gambar melalui aplikasi Whatsapp dengan Bondan sebelum dirawat di RSPAD. 
 
Saat itu, Bondan mengomentari gambar kirimannya, "Kuwi apik, dik." Dia menjawab, "Pertemuan dengan teman-teman mahasiswa GMNI Solo itu mengingatkan apa yang pernah kita berdua lakukan di Jember tahun 1990-an, saat ikut mendirikan Koisariat GMNI di IAIN Jember." Bondan pun hanya tertawa, sambil bilang, "Dhek jaman semana."
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif