Banjir di Semanan, Jakarta Barat. Foto: MI/Fransisco
Banjir di Semanan, Jakarta Barat. Foto: MI/Fransisco

BPPT Tingkatan Operasi Modifikasi Cuaca

Nasional modifikasi cuaca
Nur Azizah • 19 Januari 2020 16:19
Jakarta: Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meningkatkan eskalasi operasi TMC. Tujuannya, untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
 
Jabodetabek diprediksi akan diguyur hujan lebat hingga Kamis, 23 Januari 2020. Kendati diperkirakan masih di bawah rata-rata dari hujan 1 Januari lalu, masyarakat diimbau agar tetap waspada.
 
“Selain prakiraan yang dirilis BMKG, tim TMC-BPPT juga memprediksi bahkan cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga 25 Januari. Namun demikian, kami berharap masyarakat tidak panik. Kami akan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan operasi TMC mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek ,” ujar Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar TMC-BPPT dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu, 19 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Handoko menyebut tim TMC intensif mengawasi pertumbuhan dan pergerakan awan-awan yang diperkirakan bergerak menuju Jabodetabek. Monitoring ini dilakukan sejak dini hari hingga setelah matahari terbenam.
 
"Awan-awan tersebut jauh-jauh akan segera disemai, biasanya awan-awan tersebut masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda dan wilayah Ujung Kulon agar segera turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek,” ujarnya.
 
Pada operasi pencegahan banjir, lanjut Seto, tim TMC melaksanakan penerbangan penyemaian awan 4 hingga 5 sorti dalam sehari. Berbeda dengan operasi TMC karhutla yang mengoperasikan rata-rata 2 sorti perhari.
 
“Tentunya pada situasi yang memungkinkan dengan tetap berpegang safety first,” ujarnya.
 
Curah Hujan Jabodetabek Berkurang 44 Persen
 
Berdasarkan data TMC menunjukkan bahwa operasi ini mampu mengurangi curah hujan Jabodetabek hingga 44 persen.
 
"Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek mampu ditekan lebih kecil daripada rata-rata curah hujan disekitarnya,” ujar Tri Handoko Seto.
 
Hingga Sabtu 18 Januari 2020, pelaksanaan TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti dengan total jam terbang lebih dari 95 jam dan total 73 ton garam. Penyemaian dilakukan di ketinggian sekitar 9.000- 12.000 kaki.
 
Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang. Sejak 3 Januari 2020, BPPT bekerja sama dengan BNPB, TNI-AU dan BMKG memulai penanggulangan banjir di wilayah Jabodetabek dengan cara mempercepat penurunan hujan sebelum mencapai wilayah Jabodetabek.
 
TMC misi ini ditujukan untuk meredistribusi dan mengurangi potensi curah hujan di wilayah Jabodetabek. Penerbangan penyemaian dilakukan pada awan-awan potensial hujan di wilayah Kepulauan Seribu, sepanjang Selat Sunda, Ujung Kulon dan sekitarnya.
 
Selain untuk penanggulangan banjir, TMC juga dapat digunakan untuk keperluan lain antara lain pencegahan bencana kekeringan, mengantisipasi gagal panen, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Modifikasi cuaca ini juga bisa digunakan untuk mengisi debit air di waduk untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air.

 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif