medcom.id, Jakarta: Polisi masih mencari tahu penyebab meninggalnya Dafa Mustaqim, siswa kelas 1 B SDN Larangan, Kota Tangerang. Dafa diketahui sempat dilarikan ke rumah sakit.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan, sebelum meninggal dunia, Dafa dibawa orangtuanya ke klinik dan Rumah Sakit Sari Asih Ciledug karena menderita panas tinggi.
"Tanggal 20 Oktober yang bersangkutan panas, kemudian oleh ibunya dibawa ke klinik, balik lagi pulang sekitar pukul 09.00 WIB ternyata masih panas tinggi, akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug untuk mendapatkan pengobatan," kata Awi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Senin (24/10/2016).
Setibanya di rumah sakit, orangtua Dafa tak bisa berbuat banyak. Rumah Sakit Sari Asih Ciledug meminta uang muka sekitar Rp13 juta buat perawatan Dafa di Intensif Care Unit (ICU).
Orangtua Dafa tak punya uang sebesar itu. Dafa hanya mendapatkan perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
"Hingga kemudian pada pukul sekitar 14.00 WIB, almarhum tidak bisa terselamatkan dan meninggal dunia," jelas Awi.
Kemarin, Polisi membongkar makam Dafa untuk mencari tahu dugaan penganiayaan yang dilakukan ibu tirinya. Waka Polres Metro Tangerang AKBP Erwin mengatakan, hasil autopsi baru akan diketahui beberapa hari ke depan.
"Pemeriksaan forensik akan keluar antara lima atau enam hari, tapi nanti kita lihat kalau bisa lebih cepat akan kita koordinasikan," kata Erwin di Tempat Pemakaman Umum Kober, Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Larangan, Kota Tangerang.
Rabu pagi 19 Oktober, Dafa pergi ke sekolah dengan kondisi kepala berdarah. Itu bukan pertama kali Dafa menderita luka di tubuhnya.
"Bukan hari itu saja kami lihat Dafa terluka, sebelum-sebelumnya juga pernah Dafa begitu. Kami bujuk, akhirnya Dafa mau mengakui kalau dipukul ibunya pakai sapu," ujar guru di SDN Larangan, Mulyanih.
medcom.id, Jakarta: Polisi masih mencari tahu penyebab meninggalnya Dafa Mustaqim, siswa kelas 1 B SDN Larangan, Kota Tangerang. Dafa diketahui sempat dilarikan ke rumah sakit.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan, sebelum meninggal dunia, Dafa dibawa orangtuanya ke klinik dan Rumah Sakit Sari Asih Ciledug karena menderita panas tinggi.
"Tanggal 20 Oktober yang bersangkutan panas, kemudian oleh ibunya dibawa ke klinik, balik lagi pulang sekitar pukul 09.00 WIB ternyata masih panas tinggi, akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug untuk mendapatkan pengobatan," kata Awi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Senin (24/10/2016).
Setibanya di rumah sakit, orangtua Dafa tak bisa berbuat banyak. Rumah Sakit Sari Asih Ciledug meminta uang muka sekitar Rp13 juta buat perawatan Dafa di Intensif Care Unit (ICU).
Orangtua Dafa tak punya uang sebesar itu. Dafa hanya mendapatkan perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
"Hingga kemudian pada pukul sekitar 14.00 WIB, almarhum tidak bisa terselamatkan dan meninggal dunia," jelas Awi.
Kemarin, Polisi membongkar makam Dafa untuk mencari tahu dugaan penganiayaan yang dilakukan ibu tirinya. Waka Polres Metro Tangerang AKBP Erwin mengatakan, hasil autopsi baru akan diketahui beberapa hari ke depan.
"Pemeriksaan forensik akan keluar antara lima atau enam hari, tapi nanti kita lihat kalau bisa lebih cepat akan kita koordinasikan," kata Erwin di Tempat Pemakaman Umum Kober, Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Larangan, Kota Tangerang.
Rabu pagi 19 Oktober, Dafa pergi ke sekolah dengan kondisi kepala berdarah. Itu bukan pertama kali Dafa menderita luka di tubuhnya.
"Bukan hari itu saja kami lihat Dafa terluka, sebelum-sebelumnya juga pernah Dafa begitu. Kami bujuk, akhirnya Dafa mau mengakui kalau dipukul ibunya pakai sapu," ujar guru di SDN Larangan, Mulyanih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DRI)