Din Syamsuddin (Foto: Worldcultureforum-bali.org)
Din Syamsuddin (Foto: Worldcultureforum-bali.org)

WCF 2016, Kemajemukan Budaya Bisa Menjadi Kekuatan Bangsa

Nasional wcf 2016
Lukman Diah Sari • 12 Oktober 2016 19:23
medcom.id, Bali: World Culture Forum (WCF) 2016 pada hari ketiga menghadirkan agenda simposium membahas tema "Cultural Diversity for Responsible Development." Pada simposium tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menjadi pembicara.
 
Din menyoroti potensi kemajemukan kebudayaan untuk dijadikan sumber kekuatan.
 
"Sekarang kita berada pada globalize world atau dunia yang menglobal, yang tidak lagi menciptakan batas antar negara dan antar bangsa," kata Din, di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Rabu (12/10/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kini orang-orang di dunia bisa berkomunikasi dengan mudah dan cepat, sehingga memudahkan. Namun, kemudahan itu membawa dampak positif dan negatif.
 
"Budaya multikulturalisme itu berdimensi ganda. Positif dan negatif. Bisa mendorong integrasi, tapi juga bisa mendorong disintegrasi. Masalah sekaligus tantangan kita sekarang ini ialah bagaimana menjadikan multikulturalisme itu sebagai kekuatan, kemajemukan sebagai kekuatan yang akan membawa pada persatuan dan kemajuan," jelasnya.
 
Namun, masih banyak yang mempermasalahkan multikultural dan perbedaan yang bersinggungan dengan masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, serta budaya. Kesenjangan budaya, sosial, dan ekonomi itu bisa menyebabkan perpecahan.
 
"Saya menekankan pembicaraan tentang pentingnya merawat kemajemukan itu untuk menjadi kekuatan," ucapnya.
 
Guna menjadikan kemajemukan budaya sebagai kekuatan diperlukan strategi khusus. "Itu perlu strategi. Kita perlu strategi kebudayaan," ucap Din.
 
Strategi tersebut yaitu pertama, harus ada kesadaran dalam memandang pentingnya multikulturalisme. Kedua, harus bisa mengembangkan nilai budaya yang cenderung menjadi kode etik dalam kehidupan masyarakat majemuk.
 
"Itu semacam mengembangkan mutual understanding, mutual respect, yakni saling menghargai dan tentu mutlak juga ada toleransi dan tenggang rasa," kata Din.
 
Dalam kemajemukan terdapat titik perbedaan dalam kelompok masyarakat, namun juga ada sejumlah persamaan.
 
"Di antara mereka terdapat titik-titik perbedaan, seperti perbedaan agama, konsep ketuhanan, teologi, tapi juga masing-masing memiliki titik temu. Kita coba mencari titik temu ini untuk dikembangkan," urainya.
 
Masih soal kemajemukan, kata Din, seharusnya Indonesia bersyukur karena para founding father mewariskan dua hal penting untuk menyatukan kemajemukan itu, yakni Pancasila dan Bhinneka Tungga Ika.
 
"Bhinneka Tungga Ika luar biasa bagusnya. Di antara kemajemukan agama dan suku, kita tetap satu bangsa Indonesia," ujar Din.
 
Misi dari para founding father Indonesia belum selesai karena kini masih dalam proses pembentukan. "Maka tugas kita untuk merawat," kata dia.
 
World Culture Forum (WCF) 2016 merupakan diskusi kebudayaan dengan Indonesia sebagai pemrakarsa. Tahun ini, WCF memasuki kali kedua dengan tema “Culture for Inclusive Sustainable Planet” atau “Kebudayaan untuk Pembangunan Berkelanjutan.” WCF 2016 terselenggara selama lima hari, 10-14 Oktober, di Nusa Dua, Bali.
 
WCF 2016 yang dihelat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diharapkan bisa menjembatani keragaman budaya di penjuru dunia.
 

(ROS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif