Kabut Asap. Foto: Istimewa.
Kabut Asap. Foto: Istimewa.

Indonesia Kaji Perluasan Teknologi Es Kering untuk Atasi Kabut Asap

Arif Wicaksono • 19 Oktober 2026 12:16
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah Indonesia mempertimbangkan perluasan penggunaan teknologi es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
  • Pertimbangan ini muncul setelah uji coba teknologi modifikasi cuaca tersebut di Sumatera Selatan dinilai cukup efektif, meskipun hasil pengamatan menunjukkan perubahan jarak pandang yang belum konsisten.
Jakarta: Pemerintah Indonesia mempertimbangkan perluasan penggunaan teknologi es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pertimbangan ini muncul setelah uji coba teknologi modifikasi cuaca tersebut di Sumatera Selatan dinilai cukup efektif, meskipun hasil pengamatan menunjukkan perubahan jarak pandang yang belum konsisten.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi mengatakan, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan dua kali di Sumatera Selatan. Hasil sementara dari kegiatan tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk menentukan kemungkinan penerapan teknologi serupa di wilayah lain.
 
Menurut laporan media lokal, Kristomei menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan BNPB untuk terus mengkaji efektivitas metode tersebut dalam mendukung upaya penanganan kebakaran dan mendorong terjadinya hujan.

“Operasi modifikasi cuaca ini akan terus kami lakukan seefektif mungkin hingga hujan turun dan api padam,” ujar Kristomei kepada wartawan di Palembang dikutip dari Channel News Asia. 

Ia menambahkan, perluasan penggunaan teknologi ini akan bergantung pada hasil evaluasi, termasuk efektivitas pelaksanaan dan kebutuhan biaya. Jika dinilai memberikan manfaat dengan biaya yang terjangkau, metode tersebut berpeluang diterapkan di daerah lain.

Jarak Pandang Palembang Jadi Indikator

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengungkapkan penggunaan es kering dalam operasi tersebut mencapai sekitar 1,6 ton per hari. Di tengah pelaksanaan uji coba, jarak pandang di Palembang dilaporkan mencapai 6.000 meter.

Meski demikian, perubahan jarak pandang belum menunjukkan hasil yang stabil. Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan jarak pandang dan kualitas udara mengalami fluktuasi selama operasi berlangsung.

Ia menjelaskan bahwa jarak pandang sempat membaik beberapa kali, tetapi kembali menurun menjelang malam. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemantauan lebih lanjut untuk menilai seberapa besar kontribusi teknologi es kering terhadap perbaikan kondisi atmosfer.

Siswanto menyebut aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dapat menjadi salah satu indikator pendukung untuk mengevaluasi hasil uji coba.

“Jika beberapa jadwal penerbangan tidak ditunda atau dibatalkan, hal itu bisa kita anggap sebagai salah satu indikator efektivitas dry ice,” kata Siswanto, sebagaimana dikutip Bisnis.

Bandara tersebut menjadi salah satu titik prioritas pelaksanaan operasi karena kabut asap sebelumnya mengganggu kelancaran penerbangan.

Alternatif Penanganan Kabut Asap

Es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang tengah diuji sebagai salah satu pendekatan alternatif untuk mengatasi kabut asap. Metode ini ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang membuat asap terkonsentrasi di dekat permukaan tanah, sehingga diharapkan dapat membantu memperbaiki jarak pandang.

Namun, keberhasilan metode tersebut perlu dinilai berdasarkan pengamatan yang berkelanjutan. Perubahan cuaca, pergerakan angin, dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi hasil pengukuran jarak pandang maupun kualitas udara selama operasi berlangsung.

Karena itu, hasil uji coba di Sumatera Selatan menjadi bagian dari evaluasi sebelum pemerintah mengambil keputusan mengenai penggunaan teknologi ini secara lebih luas.

Selain Sumatera Selatan, pemerintah menetapkan lima provinsi lain sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla. Kelima provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sumatera Selatan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang dipilih untuk menguji teknik penggunaan es kering dalam penanganan kabut asap. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyatakan bahwa pelaksanaan uji coba tersebut merupakan tindak lanjut instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat mitigasi dampak kebakaran.

Pemerintah kini perlu memastikan bahwa hasil evaluasi teknis, efektivitas operasional, dan pertimbangan biaya menjadi dasar dalam menentukan kelanjutan program. Dengan demikian, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung penanganan karhutla tanpa mengabaikan kebutuhan evaluasi terhadap dampaknya pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>