Kak Seto: Anak Pelaku Teror Korban Salah Didikan Orang Tua

Muhammad Al Hasan 24 Mei 2018 05:05 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Kak Seto: Anak Pelaku Teror Korban Salah Didikan Orang Tua
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi atau dikenal Kak Seto. Foto: MI/Benny Bastiandy
Jakarta: Psikolog anak Seto Mulyadi prihatin dengan maraknya paham radikalisme yang ditanamkan kepada anak-anak pelaku teror. Ia menyebut anak pelaku terorisme adalah korban dari pendidikan yang salah dari orang tuanya. 

"Kalau anak terperangkap dalam radikalisme dia korban dari lingkungan yang sangat tidak kondusif," kata Kak Seto saat ditemui seusai mengisi acara Seminar Pencegahan Radikal Anak di Mapolda Metro Jaya, pada Rabu, 23 Mei 2018.

Menurut dia, anak para pelaku teror itu dididik dengan doktrin yang memaksa mereka eksklusif dan berlepas diri dari lingkungan sekitarnya. Gaya pendidikan tersebut membuat anak mudah termakan doktrinasi sesat kedua orang tua mereka.


Pria yang biasa akrab dipanggil Kak Seto itu kemudian mengambil contoh keluarga Dita Oepripto, pelaku pengeboman di Surabaya. Menurut dia dari keterangan para tetangga Dita, keluarga tersebut tertutup dan menyekolahkan anaknya dengan metode home schooling yang tidak tepat.

Baca: Pemkab akan Dampingi Anak-anak Terduga Teroris

"Misalnya Pak Dita itu, saya dengar dari RT-nya memang keluarga itu tertutup. Dia terus di dalam, (anaknya) enggak boleh keluar, home schooling, tetapi home schooling ini bukan sesuatu yang memanggil guru dari luar dan mempelajari pelajaran akademik tetapi lebih dijejali oleh ajaran yang keliru," kata Kak Seto.

Berkaca dari model masalah itu Kak Seto menganjurkan agar masyarakat mulai peka dan sadar untuk menjaga anak-anaknya. Bukan hanya anak sendiri, tetapi anak tetangga di lingkungannya. Diharapkan, dengan cara ini bisa menekan tingkat eksklusivitas gerak para teroris.

"Jadi, ini yang mungkin harus menjadi perhatian kita bersama suatu ajaran yang keliru adalah kekerasan terhadap anak. Kita perlu suatu moto, melindungi anak oleh orang sekampung jadi bukan orang tua saja tetapi tetangga kiri-kanan perlu juga peduli. Bisa dilakukan di tingkat RT RW dan kami berhasil membangun itu di Tangsel," kata Kak Seto.

Sementara itu terkait korban anak terduga teroris Kak Seto berjanji akan terus berkordinasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Jawa Timur dan Polda Jatim. Ia dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAl) optimistis bisa memulihkan kembali kehidupan anak-anak korban doktrin radikalisme dan terorisme itu.

Baca: Cara Surabaya Pulihkan Psikis Anak-anak setelah Teror

"Saya tetap optimis, karena semua tergantung pada jenis kepribadian anak, kedua tergantung pada pengalaman traumatik yang dialami, ketiga juga tergantung pada treatment psikologis yang profesional. jadi sekali lagi kami akan terus memantau dan menyediakan sebagai pendamping," kata Kak Seto.



(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id