medcom.id, Jakarta: Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo mengatakan, menjadi kepala daerah adalah sebuah misi pelayanan. Seorang kepala daerah dituntut untuk menjalankan berbagai peran dalam pelayanannya. Sebab, kata Yoyok, kepala daerah diamanatkan undang-undang dua tugas, yakni pelayanan dan kesejahteraan.
"Untuk menjadi pemimpin harus mampu belajar menjadi semuanya. Belajar menjadi seperti guru, kakak, teman dan sebagainya bagi birokrasi dan masyarakat,” ujar Yoyok Riyo.
Ia menambahkan, demi tugas melayani, seorang kepala daerah tak boleh malu belajar pada orang-orang yang lebih mumpuni atau berhasil. Yoyok sendiri mengaku pernah belajar dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Presiden Joko Widodo saat masih menjadi Wali Kota Solo.
"Saya pergi Ke Mbak Risma untuk belajar sistem pengadaan. Setelah dilantik, saya langsung pergi ke Solo menemui Mas Jokowi belajar perizinan satu pintu,” tutur Yoyok.
Hasil belajar ke sejumlah orang tersebut terbukti membawa hasil yang baik, terbukti dari berbagai penghargaan yanng ia dapatkan. Kini penghargaan itu menjadi kebanggaan warga Batang.
“Sayang di penghargaannya tidak ada tulisan, 'ini penghargaan hasil nyontek dari Risma'. Jadi, kenapa harus malu. Kerja melayani rakyat itu bukan untuk terlihat hebat, tapi rela tidak dipuji saat berhasil, rela dicaci maki saat gagal,” lanjut Yoyok sambil tertawa.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, aktivis HAM Romo Benny Susetyo mengatakan, seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum melayani. Sebab menjadi pemimpin perlu kesungguhan.
"Seorang pemimpin yang baik harus benar-benar memberikan pelayanan dengan hati dan manusiawi kepada masyarakat. Melakukan revolusi mental tanpa hati, tidak ada artinya," kata Romo Benny.
Pernyataan Romo Benny tersebut senada dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo. Menurutnya, manusia pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk melayani. "Melayani itu bertentangan dengan hakekat manusia. Manusia itu ingin berkuasa,” ujar Ignatius.
Ignatius menambahkan, seseorang pemimpin tidak bisa memberikan pelayanan jika tidak mampu bekerjasama dengan orang lain. “Berkelahi itu gampang, tidak perlu latihan. Semakin tidak latihan, semakin seru. Hal paling susah adalah kerja sama. Makanya, itu perlu dipupuk terus-menerus," kata Ignatius.
medcom.id, Jakarta: Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo mengatakan, menjadi kepala daerah adalah sebuah misi pelayanan. Seorang kepala daerah dituntut untuk menjalankan berbagai peran dalam pelayanannya. Sebab, kata Yoyok, kepala daerah diamanatkan undang-undang dua tugas, yakni pelayanan dan kesejahteraan.
"Untuk menjadi pemimpin harus mampu belajar menjadi semuanya. Belajar menjadi seperti guru, kakak, teman dan sebagainya bagi birokrasi dan masyarakat,” ujar Yoyok Riyo.
Ia menambahkan, demi tugas melayani, seorang kepala daerah tak boleh malu belajar pada orang-orang yang lebih mumpuni atau berhasil. Yoyok sendiri mengaku pernah belajar dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Presiden Joko Widodo saat masih menjadi Wali Kota Solo.
"Saya pergi Ke Mbak Risma untuk belajar sistem pengadaan. Setelah dilantik, saya langsung pergi ke Solo menemui Mas Jokowi belajar perizinan satu pintu,” tutur Yoyok.
Hasil belajar ke sejumlah orang tersebut terbukti membawa hasil yang baik, terbukti dari berbagai penghargaan yanng ia dapatkan. Kini penghargaan itu menjadi kebanggaan warga Batang.
“Sayang di penghargaannya tidak ada tulisan, 'ini penghargaan hasil nyontek dari Risma'. Jadi, kenapa harus malu. Kerja melayani rakyat itu bukan untuk terlihat hebat, tapi rela tidak dipuji saat berhasil, rela dicaci maki saat gagal,” lanjut Yoyok sambil tertawa.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, aktivis HAM Romo Benny Susetyo mengatakan, seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum melayani. Sebab menjadi pemimpin perlu kesungguhan.
"Seorang pemimpin yang baik harus benar-benar memberikan pelayanan dengan hati dan manusiawi kepada masyarakat. Melakukan revolusi mental tanpa hati, tidak ada artinya," kata Romo Benny.
Pernyataan Romo Benny tersebut senada dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo. Menurutnya, manusia pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk melayani. "Melayani itu bertentangan dengan hakekat manusia. Manusia itu ingin berkuasa,” ujar Ignatius.
Ignatius menambahkan, seseorang pemimpin tidak bisa memberikan pelayanan jika tidak mampu bekerjasama dengan orang lain. “Berkelahi itu gampang, tidak perlu latihan. Semakin tidak latihan, semakin seru. Hal paling susah adalah kerja sama. Makanya, itu perlu dipupuk terus-menerus," kata Ignatius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)