medcom.id, Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengupayakan salah satu teknologi untuk mencegah kecelakaan akibat tanah longsor di jalur kereta api. Teknologi tersebut berupa pemasangan sistem peringatan dini.
"Kami sebut dengan teknologi pemantauan pergerakan lereng," tutur peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Bandung, Dr Adrin Tohari di Gedung LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (10/4/2014).
Teknologi ini, terang Adrin, berupa sensor komunikasi yang digunakan untuk sistem pemantauan dalam jaringan.
"Jadi nanti ada sensor crack meter yang berguna memantau regangan akibat pergerakan dan unit base stasion untuk menerima dan mengirim data secara real time," jelasnya.
Alat-alat itu kemudian akan saling berkomunikasi satu sama lain mengirimkan data ke base station.
Penggunaan teknologi yang masih diuji coba di Stasiun Bumi Waluya, Malangbong, Garut. Selama uji coba, alat ini tidak bermasalah dengan jarak.
"300 meter lebih juga masih bisa terpantau. Jaraknya luas," ucapnya.
Adrin menambahkan, selain penggunaan teknologi, perlu dilakukan pemetaan ulang daerah-daerah potensi tanah longsor. "Menitikberatkan pada kekuatan lapisan tanah dan kondisi hidrologi lereng di sekitar jalur kereta api," jelasnya.
medcom.id, Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengupayakan salah satu teknologi untuk mencegah kecelakaan akibat tanah longsor di jalur kereta api. Teknologi tersebut berupa pemasangan sistem peringatan dini.
"Kami sebut dengan teknologi pemantauan pergerakan lereng," tutur peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Bandung, Dr Adrin Tohari di Gedung LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (10/4/2014).
Teknologi ini, terang Adrin, berupa sensor komunikasi yang digunakan untuk sistem pemantauan dalam jaringan.
"Jadi nanti ada sensor crack meter yang berguna memantau regangan akibat pergerakan dan unit base stasion untuk menerima dan mengirim data secara real time," jelasnya.
Alat-alat itu kemudian akan saling berkomunikasi satu sama lain mengirimkan data ke base station.
Penggunaan teknologi yang masih diuji coba di Stasiun Bumi Waluya, Malangbong, Garut. Selama uji coba, alat ini tidak bermasalah dengan jarak.
"300 meter lebih juga masih bisa terpantau. Jaraknya luas," ucapnya.
Adrin menambahkan, selain penggunaan teknologi, perlu dilakukan pemetaan ulang daerah-daerah potensi tanah longsor. "Menitikberatkan pada kekuatan lapisan tanah dan kondisi hidrologi lereng di sekitar jalur kereta api," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(BOB)