Kepala Sub Bagian Tata Usaha Suku Dinas (Sudin) Jakarta Barat Wilayah 1 Sudarman. Medcom.id/ Sri Yanti N
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Suku Dinas (Sudin) Jakarta Barat Wilayah 1 Sudarman. Medcom.id/ Sri Yanti N

Pengadaan Lem Aibon di APBD DKI 2020 Diakui Fiktif

Nasional kisruh apbd dki jakarta
Sri Yanti Nainggolan • 31 Oktober 2019 06:09
Jakarta: Pengadaan barang berupa lem aibon dalam Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) DKI Jakarta 2020 yang menelan dana hingga Rp82 miliar diakui merupakan hal fiktif.
 
Bahkan alokasi anggaran untuk nama barang tersebut sebenarnya tidaklah ada. Nama lem aibon pun digunakan dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2020 ternyata hanya bersifat sementara.
 
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Suku Dinas (Sudin) Jakarta Barat Wilayah 1 Sudarman selaku penginput data lem aibon menjelaskan bahwa berawal dari telah dikeluarkannya besaranpagu anggaran dari Pemprov, maka para petugas pun memasukkan data secara asal untuk mengisi kesesuaian pagu tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pagu itu lalu kami cantolkan, dan operator menginput melihat yang paling depan saja. Kan sudah memasukkan sekian ini-itu, Rp82 miliar," kata dia saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019.
 
Ia menjelaskan alasan memilih mencatutkan nama komponen lem aibon karena belum ada Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah (RKAS) yang disetor para sekolah. Di satu sisi, suku dinas sudah harus memasukkan data. Akhirnya Sudarman pun memasukkan satu barang dengan harga yang membengkak.
 
"Dan saya berpikir secara sederhana, kenapa harus banyak-banyak kode rekening, karena nanti pun akan diubah sesuai kode rekening," ucap dia.
 
Kini, data yang dimasukkan sudah sesuai kebutuhan sekolah. Kendati memang nantinya tidak pasti barang tersebut merupakan lem aibon.
 
"Memang sudah diinput sesuai kebutuhan sekolah, dan aibon pun tidak ada," ujar Sudarman.
 
Sudarman mengaku tidak menyangka pencatutan nama lem aibon akan menjadi masalah besar. Pasalnya, dia memprediksi akan ada perubahan dan penyisiran pada pendanaan tersebut.
 
"Bukan salah input tapi salah pilih komponen," tegas dia.

 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif