medcom.id, Jakarta: Di tengah gerimis pria gempal itu memacu sepeda motornya menyusuri gang sempit berkelok bagai labirin. Di depan sebuah bagunan berpintu besi dengan deretan meja dan kursi di dalamnya, dia berhenti. Sepeda motor berganti penunggang.
Pria yang biasa disapa Bintang ini merupakan penjaga salah satu kafe di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. Sementara pria yang mengambil alih kemudi sepeda motornya adalah anak buahnya.
"Dia (menunjuk arah kawannya) njemput cewek-cewek (para PSK yang mangkal di kafenya -red)," ujar Bintang kepada Metrotvnews.com.
Sambil membuka gembok pintu besi, Bintang mengatakan bisnisnya lesu gara-gara isu penggusuran Kalijodo mencuat. Demikian juga kafe remang-remang lain di sekitarnya. Kini dentuman musik dangdut koplo dan lampu warna-warni baru dinyalakan setelah malam benar-benar larut.
"Sekarang bisa dihitung yang berani buka," celetuknya.
Tak lama, rekan Bintang menurunkan Imey dan Novi. Dua wanita ini adalah 'andalan' Bintang menarik pengunjung.
"Ya biasa nemenin minum, boleh juga ngamar," ucap Imey (19) yang mengaku sudah satu tahun di Kalijodo.
Untuk setiap 'transaksi', dia menyetor ke Bintang sebesar Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. "Maju mundurnya dapet 100 ribu untuk saya," kata wanita asal Bandung ini.
"Sisa uang dikirim-kirim juga ke keluarga," timpal Novi yang asli Cianjur.
Keputusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama tampaknya sudah begitu bulat. Tak lama lagi Kalijodo akan rata dengan tanah. Pemprov DKI Jakarta, Kamis (18/2/2016) menerbitkan Surat Peringatan Pertama (SP-1) untuk warga Kalijodo agar segera mengosongkan wilayah yang akan dikembalikan sebagai ruang terbuka hijau itu.
Lalu apa rencana Imey dan Novi untuk menyambung hidup?
"Teman-teman yang lain banyak yang sudah pulang kampung. Ada yang nyari tempat lain, ada yang berhenti. Kalau saya, lihat nanti aja," jawab Imey.
"Saya pulang kampung aja. Mau hidup di mana lagi?" sambung Novi yang malam itu adalah malam terakhirnya di Kalijodo.
medcom.id, Jakarta: Di tengah gerimis pria gempal itu memacu sepeda motornya menyusuri gang sempit berkelok bagai labirin. Di depan sebuah bagunan berpintu besi dengan deretan meja dan kursi di dalamnya, dia berhenti. Sepeda motor berganti penunggang.
Pria yang biasa disapa Bintang ini merupakan penjaga salah satu kafe di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara. Sementara pria yang mengambil alih kemudi sepeda motornya adalah anak buahnya.
"Dia (menunjuk arah kawannya)
njemput cewek-cewek (para PSK yang mangkal di kafenya -red)," ujar Bintang kepada Metrotvnews.com.
Sambil membuka gembok pintu besi, Bintang mengatakan bisnisnya lesu gara-gara isu penggusuran Kalijodo mencuat. Demikian juga kafe remang-remang lain di sekitarnya. Kini dentuman musik dangdut koplo dan lampu warna-warni baru dinyalakan setelah malam benar-benar larut.
"Sekarang bisa dihitung yang berani buka," celetuknya.
Tak lama, rekan Bintang menurunkan Imey dan Novi. Dua wanita ini adalah 'andalan' Bintang menarik pengunjung.
"Ya biasa nemenin minum, boleh juga
ngamar," ucap Imey (19) yang mengaku sudah satu tahun di Kalijodo.
Untuk setiap 'transaksi', dia menyetor ke Bintang sebesar Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. "Maju mundurnya dapet 100 ribu untuk saya," kata wanita asal Bandung ini.
"Sisa uang dikirim-kirim juga ke keluarga," timpal Novi yang asli Cianjur.
Keputusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama tampaknya sudah begitu bulat. Tak lama lagi Kalijodo akan rata dengan tanah. Pemprov DKI Jakarta, Kamis (18/2/2016) menerbitkan Surat Peringatan Pertama (SP-1) untuk warga Kalijodo agar segera mengosongkan wilayah yang akan dikembalikan sebagai ruang terbuka hijau itu.
Lalu apa rencana Imey dan Novi untuk menyambung hidup?
"Teman-teman yang lain banyak yang sudah pulang kampung. Ada yang nyari tempat lain, ada yang berhenti. Kalau saya, lihat nanti aja," jawab Imey.
"Saya pulang kampung aja. Mau hidup di mana lagi?" sambung Novi yang malam itu adalah malam terakhirnya di Kalijodo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)