medcom.id, Jakarta: Permukiman warga di Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sepintas sama dengan permukiman padat penduduk lainnya di Ibu Kota.
"Keistimewaan" baru muncul apabila Anda melintas di kawasan itu pada pagi hari. Saat seluruh warga mulai beraktivitas, permukiman di RT 04/RW 03 itu akan terlihat pemandangan yang unik: sejumlah warga berwajah mirip satu dengan lainnya.
Ya, di kampung itu memang banyak warga terlahir kembar. Dari pendataan pengurus RT dan RW setempat, saat ini jumlah warga kembar di kampung itu tercatat 15 pasang. Karena itu lah kampung ini kemudian dikenal "kampung warga kembar".
Menurut Nunung, 40, warga kembar sudah ada sejak dahulu. Saat itu jumlahnya tidak sebanyak sekarang. Nunung sejak lahir tinggal di Kelurahan Malaka Jaya.
"Sejak dulu ada, tapi cuma satu sampai dua pasang saja. Lama-lama banyak, sampai belasan pasang karena beranak pinak," ujar ibu rumah tangga itu, kemarin.
Salah satu pasangan kembar tertua yang lahir dan tinggal di kampung tersebut ialah Pariyah dan Pariyem. "Sekarang tinggal satu orang, karena yang satu sudah meninggal. Usianya 80 tahun," kata Nunung.
Banyaknya warga kembar antara lain karena kerabat warga kembar tinggal dalam satu kawasan sama. Ketika mereka menikah dengan warga lain yang tidak memiliki gen kembar, sebagian keturunannya terlahir kembar.
Sepasang saudara kembar, Aang Suhanah dan Uung Suhainingsih, 63, mengaku turut berkontribusi pada bertambahnya jumlah warga kembar. Aang dan Uung tinggal di wilayah tersebut sejak lahir.
Uung kini memiliki sepasang cucu kembar perempuan. Sementara itu, Aang memiliki sepasang anak kembar laki-laki.
Uung mengatakan, meski kondisi ekonominya pas-pasan, ia bersyukur kepada Tuhan karena diberi keturunan kembar. Ia dan keluarga tidak merasa kesusahan meski harus membesarkan dan membiayai dua anak berusia sama sekaligus. Menurutnya, memiliki anak kembar tidak bisa dialami banyak orang.
"Karena kami juga, jumlah anak kembar di sini terus bertambah. Kami bersyukur. Orang lain banyak yang berusaha agar bisa punya anak kembar karena lucu dan unik. Sementara itu, kami memiliki gen kembar. Jadi harus disyukuri," tutur Uung.
medcom.id, Jakarta: Permukiman warga di Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sepintas sama dengan permukiman padat penduduk lainnya di Ibu Kota.
"Keistimewaan" baru muncul apabila Anda melintas di kawasan itu pada pagi hari. Saat seluruh warga mulai beraktivitas, permukiman di RT 04/RW 03 itu akan terlihat pemandangan yang unik: sejumlah warga berwajah mirip satu dengan lainnya.
Ya, di kampung itu memang banyak warga terlahir kembar. Dari pendataan pengurus RT dan RW setempat, saat ini jumlah warga kembar di kampung itu tercatat 15 pasang. Karena itu lah kampung ini kemudian dikenal "kampung warga kembar".
Menurut Nunung, 40, warga kembar sudah ada sejak dahulu. Saat itu jumlahnya tidak sebanyak sekarang. Nunung sejak lahir tinggal di Kelurahan Malaka Jaya.
"Sejak dulu ada, tapi cuma satu sampai dua pasang saja. Lama-lama banyak, sampai belasan pasang karena beranak pinak," ujar ibu rumah tangga itu, kemarin.
Salah satu pasangan kembar tertua yang lahir dan tinggal di kampung tersebut ialah Pariyah dan Pariyem. "Sekarang tinggal satu orang, karena yang satu sudah meninggal. Usianya 80 tahun," kata Nunung.
Banyaknya warga kembar antara lain karena kerabat warga kembar tinggal dalam satu kawasan sama. Ketika mereka menikah dengan warga lain yang tidak memiliki gen kembar, sebagian keturunannya terlahir kembar.
Sepasang saudara kembar, Aang Suhanah dan Uung Suhainingsih, 63, mengaku turut berkontribusi pada bertambahnya jumlah warga kembar. Aang dan Uung tinggal di wilayah tersebut sejak lahir.
Uung kini memiliki sepasang cucu kembar perempuan. Sementara itu, Aang memiliki sepasang anak kembar laki-laki.
Uung mengatakan, meski kondisi ekonominya pas-pasan, ia bersyukur kepada Tuhan karena diberi keturunan kembar. Ia dan keluarga tidak merasa kesusahan meski harus membesarkan dan membiayai dua anak berusia sama sekaligus. Menurutnya, memiliki anak kembar tidak bisa dialami banyak orang.
"Karena kami juga, jumlah anak kembar di sini terus bertambah. Kami bersyukur. Orang lain banyak yang berusaha agar bisa punya anak kembar karena lucu dan unik. Sementara itu, kami memiliki gen kembar. Jadi harus disyukuri," tutur Uung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DOR)