medcom.id, Jakarta: Polisi terus mendalami kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di Jakarta International School. Termasuk adanya kemungkinan anak lain yang menjadi korban sodomi oleh petugas pembersih toilet JIS yang telah diamankan polisi.
KPAI dan Polda Metro Jaya bekerja sama untuk mencari korban lain ini. Keduanya, telah membujuk sekolah dan orangtua agar bersedia memeriksakan anaknya yang bersekolah di TK tersebut.
"Kita kerja sama dengan KPAI, terbuka saja, agar orangtua memeriksakan anaknya jika ada kejanggalan. Silakan lapor ke kami. Tidak perlu ke kantor polisi. Kami yang akan ke sana," Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, ketika hadir dalam acara 8-11 Metro TV, Jakarta, Rabu (16/4/2014).
Menurut dia, polisi wanita telah dikerahkan untuk mendekati para orangtua. Namun, orangtua siswa ini tidak akan dipaksa melakukan tes. Mereka akan melakukan pemeriksaan secara sukarela.
"Polwan sudah bergerak. Mereka (orangtua) sudah tahu harus ke mana menghubungi kami," jelas Rikwanto.
Hal serupa diungkapkan Sekjen KPAI, Erlinda. Dia mengatakan telah membujuk sekolah untuk melakukan tes terhadap siswa di TK JIS. Sebab, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan korban lebih dari satu.
"Mereka setuju akan mengadakan blood test (tes darah). Semua siswa TK dilakukan tes," ungkapnya dalam kesempatan yang sama.
Sebelumnya, seorang siswa TK JIS, AK mengaku telah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari petugas pembersih toilet sekolahnya. Petugas itu beberapa kali memasukkan alat kelaminnya ke dubur bocah 5 tahun tersebut. Dia juga sering dipukul oleh wanita penjaga toilet yang membantu aksi pelaku pelecehan seksual itu.
Polisi telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Satu orang tersangka adalah wanita penjaga toilet. Namun, hanya dua orang pelaku sodomi yang ditahan.
medcom.id, Jakarta: Polisi terus mendalami kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di Jakarta International School. Termasuk adanya kemungkinan anak lain yang menjadi korban sodomi oleh petugas pembersih toilet JIS yang telah diamankan polisi.
KPAI dan Polda Metro Jaya bekerja sama untuk mencari korban lain ini. Keduanya, telah membujuk sekolah dan orangtua agar bersedia memeriksakan anaknya yang bersekolah di TK tersebut.
"Kita kerja sama dengan KPAI, terbuka saja, agar orangtua memeriksakan anaknya jika ada kejanggalan. Silakan lapor ke kami. Tidak perlu ke kantor polisi. Kami yang akan ke sana," Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto, ketika hadir dalam acara 8-11 Metro TV, Jakarta, Rabu (16/4/2014).
Menurut dia, polisi wanita telah dikerahkan untuk mendekati para orangtua. Namun, orangtua siswa ini tidak akan dipaksa melakukan tes. Mereka akan melakukan pemeriksaan secara sukarela.
"Polwan sudah bergerak. Mereka (orangtua) sudah tahu harus ke mana menghubungi kami," jelas Rikwanto.
Hal serupa diungkapkan Sekjen KPAI, Erlinda. Dia mengatakan telah membujuk sekolah untuk melakukan tes terhadap siswa di TK JIS. Sebab, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan korban lebih dari satu.
"Mereka setuju akan mengadakan blood test (tes darah). Semua siswa TK dilakukan tes," ungkapnya dalam kesempatan yang sama.
Sebelumnya, seorang siswa TK JIS, AK mengaku telah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari petugas pembersih toilet sekolahnya. Petugas itu beberapa kali memasukkan alat kelaminnya ke dubur bocah 5 tahun tersebut. Dia juga sering dipukul oleh wanita penjaga toilet yang membantu aksi pelaku pelecehan seksual itu.
Polisi telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Satu orang tersangka adalah wanita penjaga toilet. Namun, hanya dua orang pelaku sodomi yang ditahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(BOB)