medcom.id, Jakarta: Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengatakan pengelolaan sampah Jakarta di Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang, Kota Bekasi, belum ideal. Keterbatasan peralatan jadi kendala pengelolaan sampah.
Sumarsono, pagi tadi, melihat sistem pengelolaan sampah di UPST Bantargebang. Setelah sekira satu jam di sana, ia bisa menarik kesimpulan, pengelolaan sampah di UPST Bantargebang masih menggunakan cara-cara lama.
"Masih sangat tradisional," kata Sumarsono saat meninjau UPST Bantargebang di Bekasi, Selasa (8/11/2016)
Soni, sapaan Sumarsono, merasakan kerumunan lalat dan aroma tak sedap dari pengelolaan sampah yang kurang baik. Penilaian ini akan menjadi bahan untuk pembenahan.
"Lihat, gunungan sampah sampai seperti itu (terbuka), seharusnya ditutup tanah. Problemnya peralatan," ujar Soni.
Soni menyampaikan, idealnya UPST punya 60 unit alat berat untuk bongkar muat sampah. Saat ini hanya 20 alat berat untuk menata tujuh ribu ton sampah yang diangkut 1.500 truk Dinas Kebersihan.
Soni meminta jajaranya membenahi pengelolaan sampah di Bantargebang paling lambat dua pekan. Rencananya 40 alat berat akan beroperasi dari hasil lelang e-katalog APBNP 2016.
"Yang menyebabkan bau itu karena sampah masih menggunung. Seharusnya langsung ditutup tanah, sehingga akan menjadi pemandangan yang lebih indah dari sekarang," ujarnya.
Menurut Soni, seharusnya sampah bisa diolah menjadi sumber energi terbarukan. Sampah, kata Soni, bisa dibuat sumber pembangkit listrik.
medcom.id, Jakarta: Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengatakan pengelolaan sampah Jakarta di Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang, Kota Bekasi, belum ideal. Keterbatasan peralatan jadi kendala pengelolaan sampah.
Sumarsono, pagi tadi, melihat sistem pengelolaan sampah di UPST Bantargebang. Setelah sekira satu jam di sana, ia bisa menarik kesimpulan, pengelolaan sampah di UPST Bantargebang masih menggunakan cara-cara lama.
"Masih sangat tradisional," kata Sumarsono saat meninjau UPST Bantargebang di Bekasi, Selasa (8/11/2016)
Soni, sapaan Sumarsono, merasakan kerumunan lalat dan aroma tak sedap dari pengelolaan sampah yang kurang baik. Penilaian ini akan menjadi bahan untuk pembenahan.
"Lihat, gunungan sampah sampai seperti itu (terbuka), seharusnya ditutup tanah. Problemnya peralatan," ujar Soni.
Soni menyampaikan, idealnya UPST punya 60 unit alat berat untuk bongkar muat sampah. Saat ini hanya 20 alat berat untuk menata tujuh ribu ton sampah yang diangkut 1.500 truk Dinas Kebersihan.
Soni meminta jajaranya membenahi pengelolaan sampah di Bantargebang paling lambat dua pekan. Rencananya 40 alat berat akan beroperasi dari hasil lelang e-katalog APBNP 2016.
"Yang menyebabkan bau itu karena sampah masih menggunung. Seharusnya langsung ditutup tanah, sehingga akan menjadi pemandangan yang lebih indah dari sekarang," ujarnya.
Menurut Soni, seharusnya sampah bisa diolah menjadi sumber energi terbarukan. Sampah, kata Soni, bisa dibuat sumber pembangkit listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)