Jakarta: Wilayah DKI Jakarta diprediksi tenggelam pada 2030. Asumsi ini pertama kali dipublikasikan oleh The New York Times pada 21 Desember 2017.
Sedikitnya ada tiga penyebab yang mendasari dugaan tersebut. Cuaca ektrem dan perubahan iklim serta banyaknya penyedotan air tanah dalam yang dilakukan secara masif membuat permukaan tanah terus menurun hingga berada di bawah permukaan air laut.
Peneliti Sumber Daya Air Perkotaan Universitas Indonesia Firdaus Ali menyatakan DKI Jakarta memang tidak akan benar-benar tenggelam pada 2030 tetapi sebagian besar wilayah Jakarta secara permanen akan berada di bawah muka air laut.
Wilayah tersebut di antaranya Angke, Muara Baru, dan Cilincing yang memang sudah berada di bawah muka air laut dalam keadaan normal. Di sejumlah titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur pun dipastikan air tanahnya sudah menurun dari waktu ke waktu.
Firdaus mengatakan studi tentang penurunan muka air tanah di Jakarta sudah dilakukan sejak 1987. Sayangnya setelah krisis 1998 tidak ada tindakan yang dilakukan pemerintah DKI untuk mengatasi hal tersebut.
"Tidak ada yang kita lakukan. Hanya pada 2007 ketika Sutiyoso menjabat setelah ada banjir besar (isu ini) mulai menghangat. Kemudian pada 2009 dibahas lebih dalam tentang langkah-langkah yang akan dilakukan," kata Firdaus, dalam Metro Siang, Senin 25 Desember 2017.
Firdaus mengatakan yang menyebabkan turunnya muka air tanah di ibu kota dan sebagian besar wilayah pantai utara di Pulau Jawa, pertama, usia tanah di Pantura masih sangat muda yakni di bawah 4.000 tahun.
Kedua, adanya aktivitas statis di permukaan seperti pembangunan beragam bangunan dan aktivitas dinamis seperti lalu lintas kendaraan berat yang juga turut berkontribusi.
Ketiga adalah getaran yang terjadi setiap saat. Getaran ini berskala kecil sehingga tidak dirasakan namun dapat memicu kepadatan.
"Dan keempat pengambilan air tanah secara berlebihan yang tidak diisikan kembali sehingga menimbulkan ruang kosong di dalam tanah," katanya.
Firdaus mengatakan memang yang paling berkontribusi dalam penurunan tanah di DKI Jakarta adalah pengambilan air tanah baik secara alami maupun artifisial yang terus menerus tetapi tidak diisikan kembali.
"Secara alami Jakarta itu diisikan beton (bangunan tinggi) dan hanya menyisakan 9,8 persen ruang terbuka hijau. Sehingga tidak memungkinkan kita untuk memasukkan kembali air yang kita ambil," ungkapnya.
Firdaus membuat simulasi bagaimana DKI Jakarta akan tenggelam. Dalam simulasi itu, kawasan Monas dijadikan sebagai patokan. Plaza Monas saat ini dibandingkan dengan muka air laut di Tanjung Priok, Jakarta Utara, hanya berselisih 2,9 meter dalam keadaan normal.
Ketika pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan ekstraksi air tanah dalam, selisih tersebut akan meningkat hingga 4 meter pada 2040 dan titiknya akan sama tinggi dengan wilayah Dukuh Atas, Setiabudi, Jakarta.
"Artinya laju muka air tanah kita akan tetap tinggi karena kebutuhan air kita juga semakin tinggi, sementara kita tidak menambahkannya. Kalau tidak melakukan apa-apa mungkin perbedaannya sampai 6,9 meter kira-kira posisinya sudah sampai Semanggi," katanya.
Firdaus mengakui bahwa penurunan muka air tanah memang tidak terjadi serentak sehingga tidak mungkin akan tenggelam. Namun harus diketahui bahwa DKI Jakarta punya beberapa titik cekungan yang permanen, ketika tidak diantisipasi maka potensi tenggelam akan terus ada.
Apa yang bisa dilakukan adalah, pertama menghentikan ekstraksi air tanah dalam dan menyuplainya kembali dengan air permukaan yang bisa didatangkan dari Waduk Karian atau Waduk Jatiluhur ke Jakarta agar lebih cepat.
Kedua, karena membangun tanggul laut atau giant sea wall akan membutuhkan waktu yang lama dan memakan banyak sekali biaya maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat tanggul pantai dan tanggul sungai.
"Harus diingat, reklamasi tidak ada hubungannya dengan tenggelam tidaknya Jakarta. Yang menentukan adalah giant sea wall karena kita butuh tanggul untuk menurunkan muka air Jakarta," pungkasnya.
Jakarta: Wilayah DKI Jakarta diprediksi tenggelam pada 2030. Asumsi ini pertama kali dipublikasikan oleh The New York Times pada 21 Desember 2017.
Sedikitnya ada tiga penyebab yang mendasari dugaan tersebut. Cuaca ektrem dan perubahan iklim serta banyaknya penyedotan air tanah dalam yang dilakukan secara masif membuat permukaan tanah terus menurun hingga berada di bawah permukaan air laut.
Peneliti Sumber Daya Air Perkotaan Universitas Indonesia Firdaus Ali menyatakan DKI Jakarta memang tidak akan benar-benar tenggelam pada 2030 tetapi sebagian besar wilayah Jakarta secara permanen akan berada di bawah muka air laut.
Wilayah tersebut di antaranya Angke, Muara Baru, dan Cilincing yang memang sudah berada di bawah muka air laut dalam keadaan normal. Di sejumlah titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur pun dipastikan air tanahnya sudah menurun dari waktu ke waktu.
Firdaus mengatakan studi tentang penurunan muka air tanah di Jakarta sudah dilakukan sejak 1987. Sayangnya setelah krisis 1998 tidak ada tindakan yang dilakukan pemerintah DKI untuk mengatasi hal tersebut.
"Tidak ada yang kita lakukan. Hanya pada 2007 ketika Sutiyoso menjabat setelah ada banjir besar (isu ini) mulai menghangat. Kemudian pada 2009 dibahas lebih dalam tentang langkah-langkah yang akan dilakukan," kata Firdaus, dalam
Metro Siang, Senin 25 Desember 2017.
Firdaus mengatakan yang menyebabkan turunnya muka air tanah di ibu kota dan sebagian besar wilayah pantai utara di Pulau Jawa, pertama, usia tanah di Pantura masih sangat muda yakni di bawah 4.000 tahun.
Kedua, adanya aktivitas statis di permukaan seperti pembangunan beragam bangunan dan aktivitas dinamis seperti lalu lintas kendaraan berat yang juga turut berkontribusi.
Ketiga adalah getaran yang terjadi setiap saat. Getaran ini berskala kecil sehingga tidak dirasakan namun dapat memicu kepadatan.
"Dan keempat pengambilan air tanah secara berlebihan yang tidak diisikan kembali sehingga menimbulkan ruang kosong di dalam tanah," katanya.
Firdaus mengatakan memang yang paling berkontribusi dalam penurunan tanah di DKI Jakarta adalah pengambilan air tanah baik secara alami maupun artifisial yang terus menerus tetapi tidak diisikan kembali.
"Secara alami Jakarta itu diisikan beton (bangunan tinggi) dan hanya menyisakan 9,8 persen ruang terbuka hijau. Sehingga tidak memungkinkan kita untuk memasukkan kembali air yang kita ambil," ungkapnya.
Firdaus membuat simulasi bagaimana DKI Jakarta akan tenggelam. Dalam simulasi itu, kawasan Monas dijadikan sebagai patokan. Plaza Monas saat ini dibandingkan dengan muka air laut di Tanjung Priok, Jakarta Utara, hanya berselisih 2,9 meter dalam keadaan normal.
Ketika pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan ekstraksi air tanah dalam, selisih tersebut akan meningkat hingga 4 meter pada 2040 dan titiknya akan sama tinggi dengan wilayah Dukuh Atas, Setiabudi, Jakarta.
"Artinya laju muka air tanah kita akan tetap tinggi karena kebutuhan air kita juga semakin tinggi, sementara kita tidak menambahkannya. Kalau tidak melakukan apa-apa mungkin perbedaannya sampai 6,9 meter kira-kira posisinya sudah sampai Semanggi," katanya.
Firdaus mengakui bahwa penurunan muka air tanah memang tidak terjadi serentak sehingga tidak mungkin akan tenggelam. Namun harus diketahui bahwa DKI Jakarta punya beberapa titik cekungan yang permanen, ketika tidak diantisipasi maka potensi tenggelam akan terus ada.
Apa yang bisa dilakukan adalah, pertama menghentikan ekstraksi air tanah dalam dan menyuplainya kembali dengan air permukaan yang bisa didatangkan dari Waduk Karian atau Waduk Jatiluhur ke Jakarta agar lebih cepat.
Kedua, karena membangun tanggul laut atau giant sea wall akan membutuhkan waktu yang lama dan memakan banyak sekali biaya maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat tanggul pantai dan tanggul sungai.
"Harus diingat, reklamasi tidak ada hubungannya dengan tenggelam tidaknya Jakarta. Yang menentukan adalah giant sea wall karena kita butuh tanggul untuk menurunkan muka air Jakarta," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)