Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar truk tangki bahan bakar minyak (BBM) yang tertabrak kereta api di pintu perlintasan Bintaro, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2013). -- MI/Panca Syurkani
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar truk tangki bahan bakar minyak (BBM) yang tertabrak kereta api di pintu perlintasan Bintaro, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2013). -- MI/Panca Syurkani

Setahun Tragedi Bintaro II

Antara • 09 Desember 2014 09:38
medcom.id, Jakarta: Senin, 9 Desember 2013. Kecelakaan tragis terjadi di perlintasan kereta api Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Tujuh nyawa melayang dalam tabrakan antara Commuterline 1131 dan truk tanki Pertamina. Puluhan lainnya, luka berat dan ringan.
 
Kecelakaan dipicu oleh truk tanki bahan bakar minyak yang menerobos masuk. Padahal, menurut saksi, petugas perlintasan telah membunyikan alarm.
 
Perhatian publik pun tercurah pada drama di balik tragedi itu. Tiga korban tewas di antaranya adalah awak KRL 1131. Masinis Darman Prasetyo, Asisten Masinis Agus Suroto, dan Teknisi Sofyan Hadi.

Darman dan dua awak itu punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Tapi mereka memilih untuk tetap di kabin masinis, melakukan dua kali pengereman standar untuk mengurangi tingkat benturan dengan truk tangki.
 
Bisa saja mereka melakukan pengereman darurat. Tapi kala kereta berada di jalur lengkung menjelang perlintasan, pengereman darurat akan memunculkan daya sentrifugal yang bisa membuat seluruh rangkaian kereta terguling. Korban jatuh bisa sangat banyak.
 
Bisa saja mereka menyelamatkan diri dengan melompat keluar dari pintu kabin masinis. Tapi mereka memilih tetap di tempat tugas, berupaya hingga titik nafas terakhir.
 
Pada detik ketika bahaya sudah di depan mata, Sofyan Hadi masuk kereta perempuan. Dia meminta semua penumpang untuk bergegas ke kereta lebih belakang. Seorang saksi menuturkan dia sempat menggendong anak kecil, membawanya ke kereta kedua.
 
Selepas itu, Sofyan bukannya ikut menyelamatkan diri. Dia balik ke kabin masinis untuk membantu dua rekannya, Itu berarti menjemput maut. Kekerasan tumbukan dengan truk tangki memang bisa dikurangi. Tapi karena truk itu membawa 24 ribu kiloliter BBM, ledakan dahsyat tak terhindarkan. Tiga awak KRL itu tewas.
 
Di luar soal drama, kecelakaan itu memantik diskusi dan perdebatan tentang keselamatan pada perlintasan sebidang kereta api dan jalan raya. Kecelakaan itu seolah tamparan keras yang menyadarkan banyak pihak. Media menyebutnya sebagai Tragedi Bintaro II.
 
Semua pihak sepakat jalan keluar satu-satunya agar kecelakaan serupa tidak terulang adalah membangun underpass atau fly over di perlintasan sebidang. Namun sayang, penutupan perlintasan sebidang itu belum ada yang terealisasi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(BOB)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>