Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman. Foto: Theofilus Ifan Sucipto/Medcom.id
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman. Foto: Theofilus Ifan Sucipto/Medcom.id

Penting Menghargai Keberagaman di Era Revolusi Industri 4.0

Theofilus Ifan Sucipto • 28 Februari 2019 01:21
Jakarta: Umat Muslim diminta memahami Islam secara normatif dan empirik di era revolusi industri 4.0. Hal ini dinilai penting untuk mencegah konflik, karena efek dari revolusi industri ini ialah rusaknya hubungan antarmanusia.
 
"Islam secara normatif adalah Islam yang seragam di manapun. Di Arab, Afrika, Indonesia, tidak bisa ada perbedaan," kata Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, di Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu 27 Februari 2019.
 
Misalnya, kata dia, aturan untuk menunaikan salat dan ibadah haji. Kedua hal tersebut diterima seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Ini adalah agama secara normatif yang tidak bisa diganggu gugat.
 
Namun hal normatif selalu beriringan dengan hal yang empirik. Yaitu, bagaimana masyarakat mempraktikkan nilai-nilai normatif dan menjadi kebudayaan. 

"Kalau sudah menjadi perilaku masyarakat bagimana mempraktikkan Islam normatif, maka lahir peradaban dan kebudayaan," ujar Oman.
 
Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi itu mencontohkan pemakaian atribut saat salat. Ada yang menggunakan kopiah warna hitam, putih, bahkan ada yang tidak memakai sama sekali. 
 
Contoh lain, kata Oman, ada yang menggunakan sarung, gamis, atau celana. "Semua sah-sah saja. Salat adalah nilai normatif, penggunaan kopiah atau sarung adalah nilai empirik," imbuhnya.
 
Kemampuan masyarakat membedakan hal ini dianggap menjadi permasalahan umat Muslim. Masalah juga kerap muncul saat satu kebudayaan terbentuk, atau muncul kebudayaan pembanding. Padahal, keberagaman budaya  seharusnya tidak menjadi masalah. 
 
"Keragaman secara empirik yang harus diterima. Kita tidak bisa menyalahkan kebudayaan lain selama tidak melanggar hal normatif," tutur Oman.
 
Dia menegaskan perbedaan kebudayaan menjadikan Islam semakin indah. Meski kebudayaan sifatnya relatif, Oman berharap prinsip menerima keberagaman ini harus ditekankan di tengah kehidupan bermasyarakat. 
 
"Tidak hanya pada sesama dan sebagai umat Muslim tapi juga sebagai anak bangsa," pungkas Oman.
 
Revolusi industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya. Integrasi tersebut dimoderasi oleh teknologi informasi dan komunikasi. Sinergi menjadi kata kunci dalam era revolusi industri keempat ini.
 
Potensi memberdayakan individu dan masyarakat terbuka lebar pada era ini melalui penciptaan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun munculnya pengembangan manusia sebagai pribadi. Di sisi lain, revolusi industri 4.0 berpotensi menyebabkan marginalisasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki kesiapan bersaing secara individu. 
 
Kondisi ini dapat memperburuk kepentingan sosial dengan munculnya kesenjangan sosial, menciptakan risiko keamanan dan merusak hubungan antarmanusia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan