ANT/Irsan Mulyadi
ANT/Irsan Mulyadi

Wanadri dan Mapala UI Serukan Standardisasi Pendidikan Alam di SMA

21 Juli 2014 23:43
medcom.id, Jakarta: Tewasnya dua siswa SMAN 3 Jakarta sewaktu mengikuti ekstrakulikuler pecinta alam sekolah, Sabhawana, memunculkan perdebatan panjang di kalangan penggiat hingga pemangku kebijakan.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mewacanakan untuk membekukan seluruh kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam di tingkat SMA (Sispala). Ini dilakukan untuk mencegah munculnya korban lanjutan di pelaksanaan pendidikan dasar.
 
Menaggapi hal itu, Ketua Umum Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Wanadri, M Ilham Fauzi, meminta Pemda DKI Jakarta tak mengambil langkah tersebut. Yang dibutuhkan saat ini, ungkapnya, peninjauan ulang mengenai metode hingga prosedur baku dalam standardisasi pendidikan pencinta alam tingkat SMA.

Hal itu dimaksudkan demi menghindari jatuhnya korban serta tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelatih dan para senior. Menurutnya, upaya standardisasi diyakini dapat mereduksi opini negatif terkait pendidikan alam terbuka yang identik dengan kekerasan.
 
"Pasalnya, pendidikan alam terbuka itu sangat rentan dengan kecelakaan dan bahaya yang berasal dari luar (objective danger) maupun dari dalam diri (subjective danger). Oleh karenanya, persiapan untuk melaksanakan pedidikan harus sematang dan sesempurna mungkin," ungkap Ilham dalam diskusi 'Menakar Manfaat dan Pengelolaan Pendidikan Alam Terbuka Bagi Kalangan Pelajar' di Jakarta, Senin (21/7/2014).
 
Dia pun menerangkan persiapan matang untuk bisa melaksanakan pendidikan berbasis alam terbuka. Persiapan tersebut meliputi, pembekalan pengetahuan dan keahlian bagi para pembina serta senior yang melatih, kesiapan silabus dan sarana pendukung pendidikan, hingga matangnya prosedur penyelamatan apabila terjadi insiden di lapangan.
 
Menurutnya, ketiga hal inilah yang seharusnya menjadi poin utama dalam pendidikan dasar di alam terbuka.
 
Sebagai pengingat, wacana membekukan seluruh kegiatan dan organisasi pencinta alam SMA se-Jakarta bukanlah yang pertama kalinya diembuskan. Sebelumnya, pada 2011, Pemda DKI juga merencanakan hal tersebut seiring dengan tewasnya seorang siswi SMA 8 Jakarta dalam kegiatan serupa.
 
Ketua Umum Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia, Ridwan Hakim, senada. Pihaknya menolak rencana pembekuan organisasi pencinta alam SMA oleh Pemda DKI Jakarta. Sebagai solusi, Mapala UI siap memberi pelatihan kepada para siswa dan senior di Sispala.
 
"Saya pikir insiden kekerasan yang berujung pada kematian di kegiatan Sispala itu sudah tidak boleh terulang. Dan Kami siap mengawal standardisasi," ujar Ridwan dalam diskusi tersebut.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>