ilustrasi:ist
ilustrasi:ist

Serial: Bule "Sakit" Mengancam Anak-Anak (5)

Gara-Gara Gurauan, Kedok Si Mister Terungkap

Fitra Iskandar • 25 April 2014 21:47
medcom.id, Jakarta: Peter William Smith membuat heboh Jakarta pada 2006. Jati diri guru di lembaga kursus Indonesia Australia Language Foundation (IALF) itu terungkap. Ia  seorang pedofil yang sering memanfaatkan anak jalanan.
 
Sebagian korbannya merupakan anak-anak anggota Jakarta Center for Street Children (JCSC), sebuah komunitas pendampingan anak-anak kaum marginal di Jakarta Pusat. Saat ini  komunitas itu tidak lagi aktif karena alasan finansial dan SDM, namun masih berbadan hukum.
 
Ketua JCSC, Andri Cahyadi bercerita bahwa pengungkapkan kasus pedofilia yang dilakukan Smith terjadi secara tidak sengaja. Para aktivis di komunitas tersebut mulanya curiga dengan gurauan-gurauan anak-anak binaan mereka saat berkumpul di sanggar mereka di  Percetakan Negara XI, Jakarta.

“Pengungkapan ini diawali dengan merespons secara serius becanda-becandaan di antara anak-anak tentang Mr. Peter dan Mr. Don,” kata  Andri Cahyadi melalui surat elektronik kepada Metrotvnews.com, Jumat (25/4/2014).
 
Berikut wawancara dengan aktivis yang sekarang menjadi pekerja sosial untuk penyandang keterbatasan mental di Kota Toronto, Provinsi Ontario, Kanada.
 
JSCS pernah mengadvokasi kasus pedofilia oleh WNA. Pelaku adalah warga negara Australia Peter Smith dan satu rekan lainnya. Boleh diceritakan bagaimana sampai itu terungkap?
 
Kasus pelecehan seksual ini terungkap karena keberanian korban mengungkapkan peristiwa pelecehan seksual-pedofilia. Pengungkapan ini diawali dengan merespons secara serius 'becanda-becandaan' di antara anak-anak tentang Mr. Peter dan Mr. Don Hancock. (Mr. Peter adalah pelaku yang berhasil ditangkap dan diadili, dan Mr.Don adalah pelaku yang melakukan bunuh diri setelah beberapa bulan Peter tertangkap).
 
Anak-anak sering bergurau bila melihat bentuk seperti kelamin pria, mereka menyebut benda itu seperti milik Mister.
 
Berapa korbannya, apa yang dilakukan pelaku terhadap korban-korban?
 
Ada lima korban dari anak-anak JCSC yang bersedia memberikan kesaksian pada saat proses penyelidikan hingga pengadilan. Dari beberapa pengakuan korban-korban, pelaku membayar anak-anak untuk berhubungan seksual dari mulai bersentuhan, dimasturbasikan, hingga difoto dan direkam oleh Peter di rumah-rumah kontrakannya dari Benhil hingga Tebet. Ada kemungkinan besar Peter juga telah melakukan perdagangan anak dan seksual anak melalui jaringannya (di Asia).
 
Modus pelaku menjerat korban bagaimana?
 
Pada awalnya, Peter, melakukan perekrutan langsung di jalanan. Pasca krisis Ekonomi 1997, di kota-kota besar jumlah anak-anak yang 'turun' ke jalan 'bekerja' dan bertahan hidup bertambah. Untuk itu, anak-anak yang termarjinalkan secara ekonomi dan sosial ini menjadi target mudah bagi predator seperti Peter.
 
Modusnya anatara lain: anak-anak ditawarkan pekerjaan domestik di rumah kontrakannya. Setelah itu, anak-anak ini diminta untuk membawa teman kepadanya. Peter menggunakan jasa anak-anak yang membantunya (menjadi mucikari bagi Peter) untuk melakukan kejahatan seksual kepada anak-anak yang bekerja dan bertahan hidup di jalanan karena himpitan ekonomi dan kemiskinan. Peter sadar betul bagaimana memanfaatkan kelemahan dan ketidakberdyaan anak-anak ini.
 
Berapa lama korban-korban kenal dengan pelaku?
 
Cukup lama. Setidaknya (untuk kasus Peter)  dua tahun lebih saya melakukan konseling dan investigasi kasus ini secara internal. Hubungan korban-korban dengan Mr Don lebih lama lagi (setidaknya lima tahun).
 
Pernah bertemu dengan Peter Smith,  apa yang anda ingat tentang dia?
 
Saya pernah bertemu langsung dengan Peter di Polda Metro Jaya pada hari penangkapan dan beberapa kali di Pengadilan Jakarta Selatan. Saya tidak pernah langsung menayakan mengapa dia 'beroperasi' di Indonesia. Akan tetapi, cukup jelas kondisi kemiskinan dan ketidakberdayaan serta tidak adanya perlindungan hukum dan jaminan sosial di level akar rumput, akhirnya, menjadikan Indonesia 'surga bagi para pedofil'.
 
Satu hal yang saya ingat, Peter berkata anak-anak adalah segalanya bagi dia, sumber keindahan dalam kehidupan ini. Kalau dengan Mr. Don saya tidak pernah bertatap muka, tapi akrab dengan kisah-kisahnya yang diceritakan oleh anak-anak.
 
Apakah cerita dari korban-korban mengenai keseharian pelaku?
 
Seingat saya, secara pribadi, dari cerita anak-anak, Peter itu baik (jarang marah) sama anak-anak.
 
Sejauh mana anda melihat peran negara, dan undang-undang melindungi korban dalam masalah itu?
 
Belajar dari kasus kejahatan seksual-pedofilia, peran negara masih sangat kurang. Setidaknya ada dua hal: kurang dalam hal pemenuhan hak-hak dasar anak (semisal jaminan sosial dan pendidikan murah berkualitas) dan perlindungan hukum. Andaikan saja, ada kebijakan yang menjamin hak-hak anak, tentu dapat mengantisipasi anak-anak miskin untuk bekerja dan bertahan hidup di jalan-jalan kota-kota besar.
 
Misalkan saja, jika ada tunjangan sosial anak di Indonesia (transfer uang secara berkala setiap bulan untuk menjami kesejahteraan anak-anak) anak-anak tidak akan memilih pekerjaan yang ditawarkan oleh Peter dan jaringannya.
 
Kemudian, dalam upaya penegakan hukum. Indonesia belum memiliki sistem serta tata cara peradilan anak berbasis kepada konvensi dan hak-hak dasar anak-anak. Misalnya, pada kasus peradilan Peter, anak-anak memberi kesaksian tanpa dukungan yang memadai dari negara untuk menyediakan psikiater dan psikolog, pekerja sosial, dan penyidik yang terlatih menangani anak-anak yang mengalami kekerasan seksual dan trauma.
 
Anak-anak 'dipaksa' oleh sistem pada waktu itu untuk berpartisipasi dalam peradilan kriminal. Mungkin sudah saatnya wacana peradilan anak dibumikan di Indonesia.  
 
Anda puas dengan vonis yang jatuh?
 
Seingat saya Peter itu divonis 7 tahun masa tahanan. Tentu tidak puas, karena negara tidak melakukan pendidikan ke masyarakat akan bahaya kejahatan dan kekerasa seksual,  sehingga, bukan tidak mungkin Peter-peter lokal akan tetap eksis 'memangsa' anak-anak.
 
Bagaimana sekarang kehidupan atau kondisi korban-korban?  Apakah mereka sudah pulih dari trauma?
 
Para korban sekarang sudah menjadi orang dewasa. Ada yang telah berkeluarga dan masih membujang. Sampai hari ini, korban-korban menjalani hidupnya, meskipun belum menerima dukungan-dukungan sosial  (semisal: terapi berkala dr psikiater dan psikolog). Saya rasa ada yang sudah menerima traumanya sebagai kenyataan hidup dan berdamai dengan hal itu. Namun, ada juga yang menjalani hidup dengan rasa trauma dan beban mental sampai hari ini.
 
Anda percaya ada teori yang mengatakan korban pedofil bisa menjadi pelaku dikemudian hari?
 
Saya bukan ahli dalam perkembangan dan pembangunan psikologi korban. Saya kira harus ada pembuktian teori tersebut dari para ahli di Indonesia. Namun, saya percaya bahwa kejadian yang menimpa anak-anak TK di JIS itu dilakukan berdasarkan pilihan.
 
Pelaku memilih untuk melakukan kejahatan seksual pada hari itu. Itu adalah fakta. Dan tugas negara dan masyarakat sekarang ini adalah segera melakukan upaya-upaya pendidikan populer; penegakan hukum (memperbaiki UU Perlindungan Anak dan mewujudkan peradilan anak); serta melakukan sosialiasi yang intensif untuk mengedukasi anak-anak dan para orang tua bagaimana mencegah kejahatan seksual dan memulihkan trauma-trauma para korban.(Bersambung)   
 
Baca juga: 
Heller dan Rekan-Rekan Pedofil Dapat Hukuman Ringan (4)
Guru dari Australia Mangsa Bocah-Bocah Jakarta (3)
Bule Pelaku Pedofil dari Guru Sampai Diplomat (2)
Serial: Bule "Sakit" Mengancam Anak-Anak (1)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>