Sebagian warga RT006 RW 007, Kelurahan Jatipulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. (Foto: Medcom.id/Kautsar Prabowo)
Sebagian warga RT006 RW 007, Kelurahan Jatipulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. (Foto: Medcom.id/Kautsar Prabowo)

Warga DKI Kesulitan Air Bersih

Nasional krisis air bersih
Kautsar Widya Prabowo • 06 Juli 2019 14:43
Jakarta: Kekeringan dan krisis air bersih mulai dirasakan warga DKI Jakarta. Sebagian warga RT006 RW 007, Kelurahan Jatipulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, mengeluhkan buruknya kualitas air tanah. Air tidak jarang mengeluarkan bau tak sedap dan keruh
 
Salah satu warga, Yani, 38, mengakui hal tersebut. Puluhan tahun tinggal di ibu kota tak membuat dirinya mudah memperoleh air bersih. Air yang ia dapat dari hasil memompa secara manual cenderung kotor.dengan alat pompa kodok akan mengeluarkan air yang burukm setelah diendapkan selama satu hari.
 
"Kalau mau pakai mesti diendapkan dulu satu hari. Soalnya kondisinya kuning, berminyak, bau gitu," ujarnya kepada Medcom.id, Sabtu, 6 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yani mengaku konsumsi air tanah yang kotor secara berkelanjutan berpengaruh pada kesehatannya. Bahkan perabot rumah tangga yang dicuci pun terkena imbas.
 
"Kuku kaki saya kuning, kaos yang dicuci ikut kuning, piring kuning juga," keluhnya.
 
Baca juga:Warga Jabar Diimbau Hemat Air
 
Yani tak menampik kondisi tersebut bisa diatasi dengan berlangganan air dari perusahaan air minum (PAM). Namun dengan biaya yang tidak sedikit. Sedikitnya Rp500 sampai Rp1 juta per bulan mesti dia keluarkan jika ingin air bersih.
 
Sayangnya hal itu dinilai bukan solusi lantaran aliran air baru bisa lancar saat tengah malam. Di siang hari dia mesti berebutan dengan warga lain jika ingin mendapatkan air PAM.
 
"Pengin saya punya PAM, capek kalau harus pompa terus. Dulu pernah pakai, tapi karena nunggak dan capek harus tunggu air lancar sekitar pukul 01.00 pagi ogah saya nunggu lagi," ungkapnya.
 
Tanpa pilihan, Yani pasrah menggunakan air tanah untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk keperluan konsumsi ia perlu sedikit merogoh kocek dengan memberi air bersih dari pedagang keliling.
 
"Kalau mau masak mie atau untuk minum beli di tukang air, harganya Rp5 ribu," jelasnya.
 
Baca juga:Tiga Desa di Bekasi Dilanda Kekeringan
 
Senada, Gofur, 38, juga merasakan yang dialami Yani. Namun dari sisi ekonomi dia lebih beruntung. Ia kini menggantungkan pasokan air dari PAM melalui bantua pompa otomatis. Karenanya, dia tak perlu menunggu hingga dini hari untuk mendapatkan air bersih.
 
Kendati demikian, selama dua bulan terakhir ia harus merogoh kocek lebih untuk membeli penampung air. Hal ini dia lakukan untuk mengantisipasi andai ada gangguan pasokan air dari PAM yang dirasakannya cukup sering.
 
"Kadang-kadang air PAM mati sampai dua hari. Jadi beli toren (penampung air) untuk menampung. Kalau pakai air tanah ubin kamar mandi sampai perabot jadi kuning," kata dia.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif