Jenazah Akseyna ketika dievakuasi. (ANT/Indrianto Eko Suwarso)
Jenazah Akseyna ketika dievakuasi. (ANT/Indrianto Eko Suwarso)

Polisi Akui Ada Kendala Ungkap Kasus Akseyna Sejak Awal

Nasional pembunuhan jabodetabek
Deny Irwanto • 27 Maret 2017 20:00
medcom.id, Jakarta: Kematian mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori masih jadi misteri. Polisi belum menemukan titik terang meski dugaan kasus pembunuhan tersebut sudah disidik sejak dua tahun lalu.
 
Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan, beberapa kendala masih belum bisa diatasi penyidik untuk memecahkan kasus dugaan pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Biologi tersebut.
 
"Itu PR bagi saya, pertama saya menjabat kan concern saya ke Akseyna. Tetapi ada beberapa benturan misalkan dari olah TKP (tempat kejadian perkara) awal, kemudian pemeriksaan saksi yang sudah lama, setelah diperiksa lama berhenti itu jadi problema sendiri ketika kita membuka kembali sebuah case. Otomatis olah TKP yang sekarang kita lakukan tidak sama ketika TKP itu masih belum terkontaminasi," kata Hendy di Mapolda Metro Jaya, Senin 27 Maret 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hendy menjelaskan, dalam kasus yang tengah diselidiki, pihaknya belum mendapatkan bukti baru yang mengarah kepada pelaku.
 
Namun, dari sepucuk surat yang ditemukan di indekos Akseyna, Hendy memastikan jika surat tersebut bukan murni tulisan Akseyna. Hendy menegaskan, penyidik tengah mencaritahu sosok yang turut menuliskan pesan pada surat tersebut.
 
"Itu sudah kita mintakan juga ke ahli untuk memilah apakah ini tulisan Akseyna atau bukan. Memang dalam kesimpulan ahli itu ada dua penulis di situ, ada dua penulis yang berbeda tetapi berbeda nya ini siapa kan kita harus cari pembanding, nah ini yang kita harus intens untuk mencari pembanding siapa penulis yang memodifikasi tulisan tersebut," jelas Hendy.
 
Saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi kesulitan untuk mencari jejak perkara. Menurut Hendy, TKP indekos Akseyna sudah tidak murni.
 
Sejumlah orang diduga pernah memasuki indekos lantaran kasus tersebut sempat diduga bunuh diri hingga TKP tidak dijaga ketat. Sejauh ini, penyidik juga sudah memeriksa 13 saksi.
 
"Kalau sudah setahun itu kan susah untuk dianalisa, tapi tetap kita lakukan upaya yang intinya adalah scientific investigasi, mengarah kepada dugaan pelaku," jelas Hendy.
 
Hendy menambahkan, "Penyidik kan membangun pengungkapan perkara dari beberapa asumsi, asumsi pelaku, asumsi modus operandi dan asumsi waktu dan sebagainya. Dari asumsi itu kita kuatkan dengan alat-alat bukti untuk mendukung pembuktian. Sampai dengan sekarang asumsi yang kita bangun ini tidak sepenuhnya dicukupi dengan alat bukti tadi. Itu yang tidak bisa kita jelaskan secara gamblang karena masih proses investigasi," pungkas Hendy.
 
Akseyna Ahad Dori ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI Kamis 26 Maret 2015. Saat ditemukan, Akseyna tengah menggendong tas berisi sejumlah batu bata.
 
Senin 30 Maret 2015, identitas Akseyna makin terang. Pasangan suami istri asal Yogyakarta mendatangi Mapolresta Depok dan Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Keduanya yakin benar mahasiswa yang tewas di danau itu adalah anak mereka, yang hilang kabar berhari-hari. Belakangan diketahui Akseyna merupakan anak Perwira Menengah TNI Angkatan Udara (AU) Kolonel (Sus) Mardoto.
 
Mulanya, polisi menyatakan meninggalnya mahasiswa yang lebih dikenal dengan Ace itu sebagai kasus bunuh diri. Salah satu indikasi Ace tewas bunuh diri diperkuat dari tulisan tangan dalam sepucuk kertas di indekos Ace yang isinya: 'Will not return for, please don't search for existence. My apologize for everything eternally.'
 
Tapi, pernyataan itu dikoreksi. Penghujung Mei 2015, Kombes Krishna Murti yang kala itu menjabat Direskrimum Polda Metro mengatakan punya temuan baru dari hasil gelar perkara ulang meninggalnya Ace. Krishna menyimpulkan Ace tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri.
 
"Ada luka fisik di wajah yang bersangkutan (Akseyna). Kalau dia bunuh diri, harusnya (wajahnya) mulus, tidak ada luka fisik," kata Krisna pada waktu itu.
 
Dugaan Krishna semakin kuat jika Ace tewas dibunuh. Pasalnya, Grafolog Deborah Dewi menyatakan tulisan tangan dalam surat di indekos Ace itu tidak 100 persen otentik tulisan tangan Ace.
 

(LDS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif