medcom.id, Jakarta: Pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur harus bebas penyakit. Untuk membuktikannya, arena tersebut harus mengantongi sertifikat equine disease free zone (EDFZ) dari Federasi Equstarian Asia (FEA).
Direktur Utama PT Pulomas Jaya Bambang Mursalin menyatakan, sertikasi EDFZ menjadi syarat mutlak untuk menyelenggarakan Asian Games. Guna memperoleh sertifikasi itu, Bambang harus bersurat ke Kementerian Pertanian.
"Kami harus mendapatkan surat itu, lalu kita kirim ke FEA, nanti mereka yang akan ke sini, mengecek arena ini," kata Bambang di pacuan kuda Pulomas, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017).
Bambang menyatakan, proses mendapatkan sertifikat tersebut sangat sulit. Setidaknya dibutuhkan minimal tiga tahun untuk memprolehnya.
"Tapi kan sisa waktu kami hanya 1,5 tahun. Makanya kami pakai solusi ke dua, yaitu bubble to bubble," ujar Bambang.
Ia menjelaskan, cara bubble to bubble berarti memberi jaminan kuda peserta Asian Games akan aman. Bambang mengklaim, metode itu telah diterapkan diberbagai perlombaan bertaraf internasional, seperti Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
"Metode ini sudah sudah diakui oleh FEA. Jadi pemilik kuda tidak perlu khawatir. Kami menjamin, kuda itu akan bebas penyakit," tegas dia.
Pemerintah pun kini tengah fokus pada pembangunan arena pacuan kuda atau equestrian di Pulomas. Namun, hal ini tidak berjalan mulus karena masih ada dua ekor kuda yang tinggal arena tersebut.
Bambang mengatakan, dua ekor kuda tersebut milik Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jakarta Alex Asmasoebrata. Bambang memberi waktu hingga akhir bulan ini untuk Alex memindahkan dua peliharaannya itu.
"Kami akan mulai pembangunan fisik awal Februari. Saat pembangunan, sudah tidak boleh ada apapun (hewan) di sana," kata Bambang.
Bambang memberikan alternatif tempat untuk kuda-kuda Alex, yakni di kawasan Cikeas, Bogor. Namun, ia hanya memberikan batas tumpangan hingga satu bulan saja.
Selebihnya, Alex harus mencari tempat untuk kuda-kuda tersebut. "Ini untuk masa transisi saja," tambah Bambang.
Pacuan kuda Pulomas ini akan menjadi equestrian satu-satunya di Indonesia yang berstandar internasional. Equestrian ini akan dibangun di lahan seluas 35 hektare dengan riding track 3,1 kilometer.
Saat Metrotvnews.com, mengunjungi arena tersebut, belum ada aktivitas pembangunan apapun. Gedung paling depan tampak hancur sebagian.
Kandang kuda tidak terurus. Kumuh, hancur, dan sedikit bau. Bambang mengklaim, pembangunan ini sudah berjalan 30 persen.
"Sudah proses clearing. Semua akan direnovasi menjadi lebih bagus," imbuh Bambang.
Sementara itu, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono yakin, equestrian ini akan selesai akhir tahun ini. "Ini progresnya sama, sudah 30 persen. Sampai saat ini tidak ada hambatan yang berarti," ujar Sumarsono.
medcom.id, Jakarta: Pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur harus bebas penyakit. Untuk membuktikannya, arena tersebut harus mengantongi sertifikat
equine disease free zone (EDFZ) dari Federasi Equstarian Asia (FEA).
Direktur Utama PT Pulomas Jaya Bambang Mursalin menyatakan, sertikasi EDFZ menjadi syarat mutlak untuk menyelenggarakan Asian Games. Guna memperoleh sertifikasi itu, Bambang harus bersurat ke Kementerian Pertanian.
"Kami harus mendapatkan surat itu, lalu kita kirim ke FEA, nanti mereka yang akan ke sini, mengecek arena ini," kata Bambang di pacuan kuda Pulomas, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017).
Bambang menyatakan, proses mendapatkan sertifikat tersebut sangat sulit. Setidaknya dibutuhkan minimal tiga tahun untuk memprolehnya.
"Tapi kan sisa waktu kami hanya 1,5 tahun. Makanya kami pakai solusi ke dua, yaitu
bubble to bubble," ujar Bambang.
Ia menjelaskan, cara
bubble to bubble berarti memberi jaminan kuda peserta Asian Games akan aman. Bambang mengklaim, metode itu telah diterapkan diberbagai perlombaan bertaraf internasional, seperti Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
"Metode ini sudah sudah diakui oleh FEA. Jadi pemilik kuda tidak perlu khawatir. Kami menjamin, kuda itu akan bebas penyakit," tegas dia.
Pemerintah pun kini tengah fokus pada pembangunan arena pacuan kuda atau
equestrian di Pulomas. Namun, hal ini tidak berjalan mulus karena masih ada dua ekor kuda yang tinggal arena tersebut.
Bambang mengatakan, dua ekor kuda tersebut milik Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jakarta Alex Asmasoebrata. Bambang memberi waktu hingga akhir bulan ini untuk Alex memindahkan dua peliharaannya itu.
"Kami akan mulai pembangunan fisik awal Februari. Saat pembangunan, sudah tidak boleh ada apapun (hewan) di sana," kata Bambang.
Bambang memberikan alternatif tempat untuk kuda-kuda Alex, yakni di kawasan Cikeas, Bogor. Namun, ia hanya memberikan batas tumpangan hingga satu bulan saja.
Selebihnya, Alex harus mencari tempat untuk kuda-kuda tersebut. "Ini untuk masa transisi saja," tambah Bambang.
Pacuan kuda Pulomas ini akan menjadi equestrian satu-satunya di Indonesia yang berstandar internasional. Equestrian ini akan dibangun di lahan seluas 35 hektare dengan riding track 3,1 kilometer.
Saat
Metrotvnews.com, mengunjungi arena tersebut, belum ada aktivitas pembangunan apapun. Gedung paling depan tampak hancur sebagian.
Kandang kuda tidak terurus. Kumuh, hancur, dan sedikit bau. Bambang mengklaim, pembangunan ini sudah berjalan 30 persen.
"Sudah proses
clearing. Semua akan direnovasi menjadi lebih bagus," imbuh Bambang.
Sementara itu, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono yakin, equestrian ini akan selesai akhir tahun ini. "Ini progresnya sama, sudah 30 persen. Sampai saat ini tidak ada hambatan yang berarti," ujar Sumarsono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)