medcom.id, Tangerang: Keluarga Dafa Mustaqim,7, dikenal tertutup. Mereka tak pernah melapor ke ketua rukun tetangga selama tinggal di rumah kontrakan di Jalan Swadaya 1, Kelurahan Larangan Indah, Kecamatan Larangan.
Ketua RT baru tahu keberadaan mereka setelah siswa Kelas 1 B SDN Larangan 2, Kota Tangerang, itu meninggal. Dafa diduga meregang nyawa setelah dianiayan ibu tirinya, Yati.
Lilik, tetangga, mengatakan, selain bersama Yati, Dafa tinggal bersama bapaknya, Mustaqim, serta kakak tirinya, Rahma, 13. "Dia baru sekitar empat bulan di sini, sebelumnya tinggal di daerah Kedaung, Joglo," kata Lilik kepada Metrotvnews.com, di depan rumah kontrakan Dafa, Selasa (25/10/2016).
Lilik menyayangkan keluarga Mustaqim belum pernah melapor ke RT. "Kemarin pas memberi kabar buat urus pemakaman, RT juga kaget," ujar Lilik.
Dafa diduga menjadi korban kekerasan ibu tirinya. Sebelum meninggal pada, Kamis 20 Oktober 2016, Dafa sempat dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug. Namun, karena keterbatasan biaya, Dafa tidak mendapat perawatan di ruang Intensif Care Unit (ICU) hingga meninggal.
Dugaan penganiayaan mencuat karena Dafa kerap mengadu ke gurunya. Anak kelas 1 SD itu sering dipukul ibu tirinya menggunakan sapu.
Melihat ada yang janggal, guru dan orang tua murid melaporkan dugaan penyiksaan yang dilakukan Yati ke Polsek Ciledug pada, Sabtu 22 Oktober 2016.
Selanjutnya, untuk membuktikan laporan tersebut, polisi membongkar makam Dafa di Tempat Pemakaman Umum Kober, Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Ciledug untuk dilakukan autopsi. Hasil autopsi baru bisa diketahui setelah enam hari.
<iframe class="embedv" width="560" height="315" src="https://www.medcom.id/embed/zNAxDaAK" frameborder="0" scrolling="no" allowfullscreen></iframe>
medcom.id, Tangerang: Keluarga Dafa Mustaqim,7, dikenal tertutup. Mereka tak pernah melapor ke ketua rukun tetangga selama tinggal di rumah kontrakan di Jalan Swadaya 1, Kelurahan Larangan Indah, Kecamatan Larangan.
Ketua RT baru tahu keberadaan mereka setelah siswa Kelas 1 B SDN Larangan 2, Kota Tangerang, itu meninggal. Dafa diduga meregang nyawa setelah dianiayan ibu tirinya, Yati.
Lilik, tetangga, mengatakan, selain bersama Yati, Dafa tinggal bersama bapaknya, Mustaqim, serta kakak tirinya, Rahma, 13. "Dia baru sekitar empat bulan di sini, sebelumnya tinggal di daerah Kedaung, Joglo," kata Lilik kepada
Metrotvnews.com, di depan rumah kontrakan Dafa, Selasa (25/10/2016).
Lilik menyayangkan keluarga Mustaqim belum pernah melapor ke RT. "Kemarin pas memberi kabar buat urus pemakaman, RT juga kaget," ujar Lilik.
Dafa diduga menjadi korban kekerasan ibu tirinya. Sebelum meninggal pada, Kamis 20 Oktober 2016, Dafa sempat dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug. Namun, karena keterbatasan biaya, Dafa tidak mendapat perawatan di ruang Intensif Care Unit (ICU) hingga meninggal.
Dugaan penganiayaan mencuat karena Dafa kerap mengadu ke gurunya. Anak kelas 1 SD itu sering dipukul ibu tirinya menggunakan sapu.
Melihat ada yang janggal, guru dan orang tua murid melaporkan dugaan penyiksaan yang dilakukan Yati ke Polsek Ciledug pada, Sabtu 22 Oktober 2016.
Selanjutnya, untuk membuktikan laporan tersebut, polisi membongkar makam Dafa di Tempat Pemakaman Umum Kober, Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Ciledug untuk dilakukan autopsi. Hasil autopsi baru bisa diketahui setelah enam hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)