medcom.id, Jakarta: Pabrik es batu yang diduga beracun di Jalan Rawa Gelam, Cakung, Jakarta Timur, berhenti beroperasi sejak digerebek polisi beberapa waktu lalu. Akibatnya, sekitar 40 karyawan yang bekerja di pabrik ini pun menderita.
10 hari sudah para karyawan di pabrik seluas sekitar 1 hektare itu tidak bekerja. Karena, es batu yang diproduksi di pabrik tempat mereka bekerja diduga menggunakan bahan yang beracun.
Salah satu karyawan yang sudah hampir 30 tahun bekerja di pabrik PT EU, Toifah berharap, pabrik tersebut bisa kembali beroperasi sehingga ia bisa kembali bekerja seperti sediakala. Sejak berhenti beroperasi, Toifah mengandalkan penghasilannya dari berjualan di sekitar pabrik.
"Kalau enggak ada kerjaan gini ya sengsara. Pengennya sih cepat dibuka lagi, biar bisa kerja," kata Toifah saat ditemui di Metrotvnews.com di lokasi, Jumat (27/3/2015).
Toifah sendiri merasa terkejut dengan penggerebekan yang dilakukan oleh Polres Jakarta Selatan. Ia bahkan tidak menyangka pabrik tersebut membuat es dengan mencampur bahan-bahan pemicu kanker bagi tubuh manusia itu.
"Terkejut saya ada penggerebekan ini. Enggak menyangka aja, kita kan udah lama kerja di sini," ujar wanita yang bertugas sebagai pembuat es tersebut.
Kini, pabrik tersebut masih dipasangi garis polisi. Pabrik yang telah berdiri sejak 1978 itu terancam ditutup jika es balok yang diproduksi terbukti mengandung racun yang berbahaya bagi masyarakat. (Campur Bahan Kimia Berbahaya, Pabrik Es Batu di Cakung Terancam Ditutup)
medcom.id, Jakarta: Pabrik es batu yang diduga beracun di Jalan Rawa Gelam, Cakung, Jakarta Timur, berhenti beroperasi sejak digerebek polisi beberapa waktu lalu. Akibatnya, sekitar 40 karyawan yang bekerja di pabrik ini pun menderita.
10 hari sudah para karyawan di pabrik seluas sekitar 1 hektare itu tidak bekerja. Karena, es batu yang diproduksi di pabrik tempat mereka bekerja diduga menggunakan bahan yang beracun.
Salah satu karyawan yang sudah hampir 30 tahun bekerja di pabrik PT EU, Toifah berharap, pabrik tersebut bisa kembali beroperasi sehingga ia bisa kembali bekerja seperti sediakala. Sejak berhenti beroperasi, Toifah mengandalkan penghasilannya dari berjualan di sekitar pabrik.
"Kalau enggak ada kerjaan gini ya sengsara. Pengennya sih cepat dibuka lagi, biar bisa kerja," kata Toifah saat ditemui di
Metrotvnews.com di lokasi, Jumat (27/3/2015).
Toifah sendiri merasa terkejut dengan penggerebekan yang dilakukan oleh Polres Jakarta Selatan. Ia bahkan tidak menyangka pabrik tersebut membuat es dengan mencampur bahan-bahan pemicu kanker bagi tubuh manusia itu.
"Terkejut saya ada penggerebekan ini. Enggak menyangka aja, kita kan udah lama kerja di sini," ujar wanita yang bertugas sebagai pembuat es tersebut.
Kini, pabrik tersebut masih dipasangi garis polisi. Pabrik yang telah berdiri sejak 1978 itu terancam ditutup jika es balok yang diproduksi terbukti mengandung racun yang berbahaya bagi masyarakat. (
Campur Bahan Kimia Berbahaya, Pabrik Es Batu di Cakung Terancam Ditutup)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LOV)