Jakarta: Sopir angkutan umum (angkot) mengajukan tiga permintaan terkait penutupan Jalan Jatibaru, Tanah Abang. Intinya, para sopir meminta Pemerintah Provinsi DKI memperkenankan angkot melintas di jalan itu.
Hal itu diungkapkan para sopir angkot saat berunjuk rasa di depan gedung Balai Kota DKI, Jakarta Pusat. Mereka protes Dinas Perhubungan DKI Jakarta menututp Jalan Jatibaru, karena pendapatan mereka menurun.
Simbolon selaku perwakilan sopir mengatakan, pihaknya menuntut tiga hal kepada Pemprov DKI.
Baca: Puluhan Sopir Angkot Protes soal Tanah Abang
Pertama, meminta Pemprov DKI membuka kembali kawasan Tanah Abang untuk angkot. “Paling kuat kami hanya dapat Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari. Ini pendapatan kami sudah turun,” kata Simbolon di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin, 22 Januari 2018.
Kedua, para sopir menuntut Dinas Perhubungan lebih manusiawi dalam menindak para sopir angkot. Sebab, banyak petugas di lapangan bertindak arogan. “Ya spion lah dibuka, ya ban-lah dikerjain. Jadi itu yang kami bicarakan,” kata dia.
Terakhir, sopir menuntut Dinas Perhubungan DKI memperjelas trayek di lapangan. Sebab, banyak angkot yang memiliki trayek ilegal.
“Karena kita juga bingung mau bekerja mengambil angkutan, misalnya M 08 itu trayeknya kemana saja? atau M11 ke mana saja,” kata Simbolon.
<iframe class="embedv" width="560" height="315" src="https://www.medcom.id/embed/0kpnm60N" allowfullscreen></iframe>
Jakarta: Sopir angkutan umum (angkot) mengajukan tiga permintaan terkait penutupan Jalan Jatibaru, Tanah Abang. Intinya, para sopir meminta Pemerintah Provinsi DKI memperkenankan angkot melintas di jalan itu.
Hal itu diungkapkan para sopir angkot saat berunjuk rasa di depan gedung Balai Kota DKI, Jakarta Pusat. Mereka protes Dinas Perhubungan DKI Jakarta menututp Jalan Jatibaru, karena pendapatan mereka menurun.
Simbolon selaku perwakilan sopir mengatakan, pihaknya menuntut tiga hal kepada Pemprov DKI.
Baca: Puluhan Sopir Angkot Protes soal Tanah Abang
Pertama, meminta Pemprov DKI membuka kembali kawasan Tanah Abang untuk angkot. “Paling kuat kami hanya dapat Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari. Ini pendapatan kami sudah turun,” kata Simbolon di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin, 22 Januari 2018.
Kedua, para sopir menuntut Dinas Perhubungan lebih manusiawi dalam menindak para sopir angkot. Sebab, banyak petugas di lapangan bertindak arogan. “Ya spion lah dibuka, ya ban-lah dikerjain. Jadi itu yang kami bicarakan,” kata dia.
Terakhir, sopir menuntut Dinas Perhubungan DKI memperjelas trayek di lapangan. Sebab, banyak angkot yang memiliki trayek ilegal.
“Karena kita juga bingung mau bekerja mengambil angkutan, misalnya M 08 itu trayeknya kemana saja? atau M11 ke mana saja,” kata Simbolon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)