Pembongkaran Taman BMW. Foto: Tangkapan gambar Metro TV
Pembongkaran Taman BMW. Foto: Tangkapan gambar Metro TV

Kemilau Harta Pencari Gratisan

Nasional stadion bmw
Sri Utami • 02 Agustus 2017 07:56
medcom.id, Jakarta: Mengenakan celana pendek cokelat selutut, dipadu dengan kemeja bergaris abu-abu, Mustaqad Arif, 36, berdiri terpaku menyaksikan rumah petaknya diremukkan mesin ekskavator kemarin pagi. Wajah putih yang selalu dirawatnya dengan krim malam terlihat layu dengan mata memerah akibat tidak tidur semalaman.
 
Sambil berdiri menjaga tumpukan barang-barang rumahnya, Arif sesekali merapikan rambut pirangnya yang bergaya mohawk karena diterpa angin bercampur debu. Di saat itulah, gelang emas selebar 2 sentimeter yang melingkar di tangan kanannya berkilauan terkena terik matahari.
 
Adapun kalung emasnya bersembunyi di balik kemeja yang sudah dipakainya dua hari. "Aku tidak tidur semalaman. Tiba-tiba banyak polisi datang tengah malam tadi, meminta kami membereskan barang karena semua rumah mau diratakan. Ya sudah, mau bagaimana lagi," ujarnya sambil menahan kantuk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pria asal Jawa Timur yang bekerja sebagai pengumpul barang bekas di Taman BMW, Jakarta Utara, itu tidak menampakkan wajah sedih ataupun marah. Ia hanya kesal karena aparat datang saat semua warga bersiap hendak beristirahat. "Yang aku sesalkan kenapa datangnya malam hari. Itu kan waktu orang tidur," ucapnya ketus.
 
Arif sudah dua tahun lebih tinggal di lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu. Ia mengaku betah tinggal di sana. Di samping tidak perlu membayar sewa lahan, bisnisnya juga berjalan lancar di sana dengan penghasilan Rp500 ribu sehari.
 
"Enggak perlu mengeluarkan biaya sama sekali. Lumayan banget buat hidup di kota besar ini," kata Arif. Ia mengaku bekerja sebagai pengumpul barang bekas di Taman BMW itu karena tergiur dengan rekannya yang lebih dulu tinggal di sana.
 
"Di kampung, aku kerja serabutan dengan gaji Rp500 ribu sebulan. Di sini, Rp500 ribu sehari," ungkapnya.
 
Ia mengatakan tidak peduli dengan tumpukan sampah yang dinilai orang sebagai tempat yang kumuh dan tidak sehat. Baginya, tempat itu menjadi ladang uang yang membuat ia bisa membeli berbagai barang mahal yang diinginkannya. Setelah rumah yang juga sekaligus tempatnya berusaha rata dengan tanah, kini ia harus memutar otak untuk mencari tempat baru. Sebisa mungkin tetap gratis, seperti yang dinikmatinya selama ini.
 
"Kalaupun harus bayar, cari yang murah," ucapnya.
 
Warga lainnya, Mustaqim, 41, yang rumahnya ikut tergusur, mengatakan hal senada. Nikmatnya bermukim secara gratis di Jakarta membuatnya betah hidup belasan tahun di Taman BMW.
 
"Orang-orang pusing bayar kontrakan, kita di sini cuma memikirkan dagang. Sayang, tempat ini diambil sama yang punya," selorohnya.
 
Bersama dengan warga lainnya, Mustaqim sibuk mengemasi barang-barang berharganya, termasuk sebuah pesawat televisi LCD ukuran 40 inci. Dengan sebuah selimut tebal, ia bungkus televisi yang baru dibelinya seminggu lalu itu agar tak lecet.
 

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif