medcom.id, Jakarta: Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Arti pribahasa itu; karena kesalahan kecil seluruh yang baik menjadi rusak.
Begitulah yang dialami warga RT 07 RW 10, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Rumah di RT 07 berdekatan dengan bangunan untuk prostitusi, bar, atau kafe yang menjual minuman keras di kawasan Kalijodo, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara.
Metrotvnews.com menelusuri kawasan Kalijodo yang masuk wilayah administrasi Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kalijodo terdiri dari enam rukun tetangga, lima rukun tetangga di Jakarta Utara dan satu di Jakarta Barat.
Dua bocah bermain di musala di kawasan Kalijodo, Jakarta, Jumat 19 Februari 2016. Antara Foto/Muhammad Adimaja
Kalijodo bagian utara dipenuhi kafe bertingkat. Pada malam hari, kawasan ini semakin semarak. Lampu papan iklan minuman keras yang ditempel di depan bar dan kafe menyala.
Warga di sini cukup tertutup. Pandangan mereka akan sinis kepada orang asing, apalagi bila ditanya soal rencana Pemerintah DKI Jakarta menggusur bangunan di Kalijodo.
Suasana berbeda bila berdiri di wilayah Kalijodo bagian barat. Di sini, tidak ada bangunan kafe remang-remang. Masyarakatnya lebih terbuka.
Warga melintasi tempat hiburan malam di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, Kamis, 18 Februari 2016. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia
Anak-anak dan remaja terlihat ceria. Mereka bermain di lahan seadanya. "Barat dan utara berbeda," kata Tian, warga Kalijodo bagian barat membuka perbincangan dengan Metrotvnews.com di sebuah jembatan penghubung Jakarta bagian barat dan Utara, Jumat (19/2/2016).
Prostitusi, perjudian, premanisme, dan minuman keras, kata-kata yang selama ini akrab dengan kawasan Kalijodo. "Anggapan orang sudah pasti negatif melihat Kalijodo. Tapi Kalijodo yang mana dulu?" ujar pria 45 tahun itu.
Menurut Tian, kehidupan warga Kalijodo bagian barat normal seperti kebanyakan warga daerah lain. Bahkan, warga di sana memiliki toleransi tinggi meski latar belakang berbeda.
Masjid Al-Mubaarokah berdiri di Kalijodo bagian barat. Saat Metrotvnews.com datang saat salat Jumat, kondisi masjid itu penuh.
Maket lahan hijau di kawasan Kalijodo. Foto: MTVN/Intan Fauzi
Udin, 57, pengurus Masjid Al-Mubaarokah, tidak mengetahui persis kapan masjid ini dibangun. Selain untuk salat, warga Kalijodo di bagian barat aktif menggelar pengajian di Masjid Al-Mubaarokah.
Di Kalijodo bagian utara juga berdiri Masjid Nurul Hasanah di Jalan Bandengan Utara. Namun, pengurus masjid tidak bersedia diwawancara.
Emin, 46, warga Kalijodo bagian barat tak terima mendengar pendapat warga Kalijodo mencari makan dari bisnis prostitusi. "Saya sakit hati dibilang makan duit lendir. Saya kasih makan keluarga pakai duit halal," ucap Emin mengelus dada.
Pemerintah DKI Jakarta segera menggusur bangunan di kawasan Kalijodo baik di barat maupun utara. Bangunan untuk bisnis prostitusi dan minuman keras atau tidak, akan rata dengan tanah.
Pendidikan anak usia dini di kawasan Kalijodo. Foto: MTVN
Alasan pemerintah menggusur bukan karena bisnis masyarakat di sana bermasalah, tapi kawasan Kalijodo masuk lahan hijau.
Penggusuran bangunan di Kalijodo salah satu upaya meningkatkan ruang terbuka hijau di Ibu Kota yang saat ini masih 9,8 persen dari total luas wilayah.
Pemerintah sudah menyediakan rumah susun untuk warga Kalijodo. Soal ini, warga Kalijodo bagian barat dan utara juga berbeda.
Posko pendaftaran dan penanganan warga RW 05 Kalijodo di Kantor Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat 19 Februari 2016. Foto: MI/Panca Syurkani
Warga Kalijodo menyambut baik rencana penggusuran dan bersedia direlokasi ke rumah susun. Namun kalau boleh meminta, warga Kalijodo bagian barat berharap ditempatkan di rumah susun di Jakarta Barat.
"Masak mau dipindah ke Pulogebang? (Rusun Pulogebang di Jakarta Timur) kan jauh, anak-anak mau sekolah bagaimana? jauh dari tempat kerja juga. Kalau bisa di Jakarta Barat saja," kata Emin.
Wali Kota Jakarta Barat Anas Efendi melepas 86 kepala keluarga warga Kalijodo ke rumah susun Pulogebang, Jumat 19 Februari. Hari-hari berikutnya, warga yang dengan sendirinya pindah ke rumah susun diperkirakan akan makin banyak.
"Warga yang lainnya sedang pendataan. Mereka berangsur pergi ke sana (Rusun Pulogebang). Ada juga yang masih kemas-kemas barang. Mau kami bantu menggunakan satu bus besar dan beberapa kendaraan," kata Anas.
Suasana di Kalijodo. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia
medcom.id, Jakarta: Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Arti pribahasa itu; karena kesalahan kecil seluruh yang baik menjadi rusak.
Begitulah yang dialami warga RT 07 RW 10, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Rumah di RT 07 berdekatan dengan bangunan untuk prostitusi, bar, atau kafe yang menjual minuman keras di kawasan Kalijodo, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara.
Metrotvnews.com menelusuri kawasan Kalijodo yang masuk wilayah administrasi Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kalijodo terdiri dari enam rukun tetangga, lima rukun tetangga di Jakarta Utara dan satu di Jakarta Barat.
Dua bocah bermain di musala di kawasan Kalijodo, Jakarta, Jumat 19 Februari 2016. Antara Foto/Muhammad Adimaja
Kalijodo bagian utara dipenuhi kafe bertingkat. Pada malam hari, kawasan ini semakin semarak. Lampu papan iklan minuman keras yang ditempel di depan bar dan kafe menyala.
Warga di sini cukup tertutup. Pandangan mereka akan sinis kepada orang asing, apalagi bila ditanya soal rencana Pemerintah DKI Jakarta menggusur bangunan di Kalijodo.
Suasana berbeda bila berdiri di wilayah Kalijodo bagian barat. Di sini, tidak ada bangunan kafe remang-remang. Masyarakatnya lebih terbuka.
Warga melintasi tempat hiburan malam di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, Kamis, 18 Februari 2016. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia
Anak-anak dan remaja terlihat ceria. Mereka bermain di lahan seadanya. "Barat dan utara berbeda," kata Tian, warga Kalijodo bagian barat membuka perbincangan dengan
Metrotvnews.com di sebuah jembatan penghubung Jakarta bagian barat dan Utara, Jumat (19/2/2016).
Prostitusi, perjudian, premanisme, dan minuman keras, kata-kata yang selama ini akrab dengan kawasan Kalijodo. "Anggapan orang sudah pasti negatif melihat Kalijodo. Tapi Kalijodo yang mana dulu?" ujar pria 45 tahun itu.
Menurut Tian, kehidupan warga Kalijodo bagian barat normal seperti kebanyakan warga daerah lain. Bahkan, warga di sana memiliki toleransi tinggi meski latar belakang berbeda.
Masjid Al-Mubaarokah berdiri di Kalijodo bagian barat. Saat
Metrotvnews.com datang saat salat Jumat, kondisi masjid itu penuh.
Maket lahan hijau di kawasan Kalijodo. Foto: MTVN/Intan Fauzi
Udin, 57, pengurus Masjid Al-Mubaarokah, tidak mengetahui persis kapan masjid ini dibangun. Selain untuk salat, warga Kalijodo di bagian barat aktif menggelar pengajian di Masjid Al-Mubaarokah.
Di Kalijodo bagian utara juga berdiri Masjid Nurul Hasanah di Jalan Bandengan Utara. Namun, pengurus masjid tidak bersedia diwawancara.
Emin, 46, warga Kalijodo bagian barat tak terima mendengar pendapat warga Kalijodo mencari makan dari bisnis prostitusi. "Saya sakit hati dibilang makan duit lendir. Saya kasih makan keluarga pakai duit halal," ucap Emin mengelus dada.
Pemerintah DKI Jakarta segera menggusur bangunan di kawasan Kalijodo baik di barat maupun utara. Bangunan untuk bisnis prostitusi dan minuman keras atau tidak, akan rata dengan tanah.
Pendidikan anak usia dini di kawasan Kalijodo. Foto: MTVN
Alasan pemerintah menggusur bukan karena bisnis masyarakat di sana bermasalah, tapi kawasan Kalijodo masuk lahan hijau.
Penggusuran bangunan di Kalijodo salah satu upaya meningkatkan ruang terbuka hijau di Ibu Kota yang saat ini masih 9,8 persen dari total luas wilayah.
Pemerintah sudah menyediakan rumah susun untuk warga Kalijodo. Soal ini, warga Kalijodo bagian barat dan utara juga berbeda.
Posko pendaftaran dan penanganan warga RW 05 Kalijodo di Kantor Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat 19 Februari 2016. Foto: MI/Panca Syurkani
Warga Kalijodo menyambut baik rencana penggusuran dan bersedia direlokasi ke rumah susun. Namun kalau boleh meminta, warga Kalijodo bagian barat berharap ditempatkan di rumah susun di Jakarta Barat.
"Masak mau dipindah ke Pulogebang? (Rusun Pulogebang di Jakarta Timur) kan jauh, anak-anak mau sekolah bagaimana? jauh dari tempat kerja juga. Kalau bisa di Jakarta Barat saja," kata Emin.
Wali Kota Jakarta Barat Anas Efendi melepas 86 kepala keluarga warga Kalijodo ke rumah susun Pulogebang, Jumat 19 Februari. Hari-hari berikutnya, warga yang dengan sendirinya pindah ke rumah susun diperkirakan akan makin banyak.
"Warga yang lainnya sedang pendataan. Mereka berangsur pergi ke sana (Rusun Pulogebang). Ada juga yang masih kemas-kemas barang. Mau kami bantu menggunakan satu bus besar dan beberapa kendaraan," kata Anas.
Suasana di Kalijodo. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)