Kali item berbusa - Medcom.id/Cindy
Kali item berbusa - Medcom.id/Cindy

Kali Item Berbusa Anies Salahkan Pemerintah Pusat

Nasional pemprov dki pencemaran sungai
Nur Azizah • 03 Januari 2019 11:23
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut Kali Sentiong atau Kali Item yang kerap berbusa lantaran penggunaan detergen dengan kandungan zat kimia yang keras. Dia meminta kementerian terkait mengecek ulang standar detergen yang beredar di pasaran.
 
"Jadi, solusi pertama itu di hulunya.Penggunaan soft detergen sudah harus dipikirkan. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan harus review kembali standar itu. Karena ini dirasakan di seluruh Indonesia," kata Anies di kawasan Jakarta Timur, Kamis, 3 Januari 2019.
 
Anies juga bakal mengatur ulang usaha pencucian mobil dan baju. Sebab, kata dia, tak semua tempat bisa dijadikan tempat usaha cuci.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena air limbah hasil pencucian mobil dan laundry dibuang secara massal," tutur dia.
 
Mantan Menteri Pendidikan dan kebudayaan ini juga ingin menggalakkan pembangunan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) di kampung-kampung. Tapi, lanjut Anies, solusi paling penting adalah penggunaan sabun cuci.
 
(Baca juga:Anies Sebut Busa Kali Item Akibat Limbah Detergen)
 
"Karena itu hulunya. Sabun yang keras, yang tidak ramah lingkungan itu yang harus kita bereskan. Sekarang di seluruh dunia sudah melakukan itu," kata mantan rektor Universitas Paramadina ini.
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji menuturkan warga Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum masih gemar menggunakan detergen yang busanya berlebihan. Padahal, ada aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) 4594 tahun 2010 tentang syarat mutu detergen bubuk.
 
Yakni kandungan pH larutan 1,0 persen sebanyak 9,5 sampai 11. Lalu, bagian tidak larut dalam air maksimal 10 persen, Kadar Surfactan minimal 14 persen, Biodegradasi Surfactan minimal 80 persen, dan Phosfat maksimal 15 persen.
 
Bila aturan tak diikuti rentan berdampak pada lingkungan. "Di Australia, Malaysia, atau negara lain itu, walau banyak detergen dan busanya, tidak menghasilkan zat aditif. Sehingga tidak berdampak pada masalah di lingkungan," ucap Isnawa.
 

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi