Ilustrasi jalur LRT. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Ilustrasi jalur LRT. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Jembatan Lengkung LRT Tunggu Uji Beban

Nasional lrt proyek lrt
Sri Yanti Nainggolan • 07 Januari 2020 00:47
Jakarta: Desainer jembatan lengkung LRT Jabodebek (long span Kuningan) Arvilla Delitriana mengungkap bahwa jembatan lengkung tersebut tinggal menunggu uji beban. Dina, sapaan akrabnya, menjelaskan, long span Kuningan sudah mendapatkan Sertifikat Persetujuan Desain pertanda layak desain dan konstruksinya pun sudah rampung.
 
"Tinggal pengujian beban karena berkaitan dengan ruas-ruas lain yang belum selesai," ujar dia dalam konferensi pers di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Senin, 6 Januari 2020.
 
Pengujian diperkirakan dilakukan pada 2021. Pasalnya masih ada daerah jalur LRT yang belum bebas lahan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menambahkan, LRT Jabodebek ditargetkan beroperasi penuh pada 2021. Artinya, semua ruas sudah tersambung.
 
"Pengujian secara penuh baru bisa dilakukan setelah seluruh ruas tersambung," ujar Bambang pada kesempatan yang sama.
 
Bambang menjelaskan, desain Dina dipilih karena tiga usulan lainnya, yang berasal dari desainer Prancis, membutuhkan struktur tambahan. Dua diantaranya pembentukan kolam di tengah area, yaitu di perempatan Kuningan-Gatot Subroto, dan menggunakan tiang (stayed cable).
 
"Kebetulan yang dibuat Ibu Dina ini inovatif karena berbeda, tak membutuhkan tambahan struktur tapi penguatan struktur yang ada, terutama di bentangan itu sendiri," papar dia.
 
Selain itu, desain milik Dina juga lebih murah ketimbang tiga rancangan desainer luar negeri lainnya. Pasalnya, tak ada konstruksi fondasi pada rancangan lokal.
 
Pembuatan fondasi memang berdampak signifikan pada biaya pembuatan jembatan. Fondasi tersebut dibangun di atas flyover Kuningan.
 
Bambang mengungkapkan, sebetulnya, biaya rancangan desainer asing bisa lebih murah jika diterapkan di lokasi lain. Namun begitu, kondisi lapangan yang ada membuat biaya dua desain tersebut jadi lebih mahal, dikarenakan situasi perempatan Kuningan yang padat karena ada jalan tol layang, flyover di dua sisi, dan underpass yang menghubungkan Mampang-Kuningan.
 
"Nah, itulah yang membuat apa yang didesain murah menjadi mahal, ketika implementasi," jelas dia.
 
Ia mengambil contoh salah satu rancangan dari desainer Prancis yang menggunakan kolom tambahan yang dibangun di tengah perempatan. Hal itu menambah biaya yang cukup besar.
 

 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif