Patung WR Supratman menyanyikan Indonesia Raya di depan peserta Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda. (Foto: MTVN/Dheri A)
Patung WR Supratman menyanyikan Indonesia Raya di depan peserta Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda. (Foto: MTVN/Dheri A)

Menjemput Semangat Persatuan Pemuda di Museum Sumpah Pemuda

Dheri Agriesta • 12 April 2015 18:02
medcom.id, Jakarta: Gedung di Jalan Kramat Raya nomor 106 itu tampak terawat dari luar. Pintu berwarna hijau berdiri kokoh, menunggu dorongan pengunjung yang ingin kembali ke masa silam.
 
Pintu hijau terbuka, tiga patung yang duduk di satu meja menyambut kedatangan pengunjung. Patung ini menunjukkan aktivitas diskusi yang kerap dilakukan pemuda di bangunan ini, pada masa silam. Satu patung terlihat berdiri sambil mengutarakan gagasan kepada dua rekannya yang sedang duduk mendengarkan. Tampak pula replika buku bertumpuk di meja, di depan patung-patung tersebut. 
 
Berjalan ke dalam, terlihat deretan patung yang duduk berbaris di meja yang cukup panjang. Diantaranya, tampak enam patung duduk dengan ekspresi berbeda. Berbalut baju serba putih, mereka seolah mewakili suasana Kongres Pemuda saat itu.

Sejarah sumpah pemuda dimulai. Pemuda yang masih kedaerahan itu berkumpul dan mengadakan kongres, menyerukan persatuan dan kesatuan Nusantara.
 
"Di sini bisa tahu sejarah sumpah pemuda, juga sejarah tentang kesatuan dan persatuan Indonesia awalnya di sini," kata Dwi Nurdadi kepada Metrotvnews.com, di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2015).
 
Dinding ruangan bagian dalam dihiasi dengan Teks Sumpah Pemuda, yang berisi tiga ikrar para pemuda kala itu. Pengunjung bisa mengetahui asal usul bahasa Indonesia yang dipilih menjadi bahasa persatuan.
 
Masih di bagian dalam, ada patung yang memainkan biola. Dia berdiri tak jauh dari deretan peserta kongres. Kacamata dan peci hitam lekat di kepalanya. Sosok ini adalah Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya.
 
Di Gedung ini, WR Supratman pertama kali mendengungkan lagu Indonesia Raya ke publik, di depan peserta Kongres Pemuda. Lengkap sudah sejarah persatuan dan kesatuan itu.
 
"Kemudian, mereka bisa tahu sejarah Indonesia Raya karena di sini pertama kalinya Indonesia Raya dinyanyikan oleh WR Supratman," jelas Dwi.
 
Gedung Museum Sumpah Pemuda dulunya digunakan sebagai tempat tinggal mahasiswa STOVIA dan mahasiswa Kehakiman. Gedung ini dijadikan tempat tinggal, diskusi politik, dan latihan kesenian Jawa oleh mahasiswa yang didominasi Jong Java itu.
 
Seiring berjalannya waktu, Gedung Kramat 106 ini tak lagi didominasi Jong Java. 1928, gedung ini menjadi tempat pertemuan pemuda nasional, 'Indonesische Clubgebow' (IC) dipilih sebagai nama tempat ini. Di bagian belakang gedung ini dulunya tinggal beberapa tokoh pemuda seperti Mohamad Yamin, Amir Sjarifuddin, A.K Gani, dan lainnya.
 
Pada 20 Mei 1973 Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan gedung 'Indonesische Clubgebow' (IC) sebagai museum. Sekitar satu tahun kemudian, Presiden Soeharto meresmikan museum ini sebagai Museum Sumpah Pemuda pada 30 Mei 1974. Kini, gedung bersejarah itu dikelola oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>