medcom.id, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta membongkar kafe Intan sebelum membongkar bangunan lain di Kalijodo. Kafe itu milik Daeng Aziz yang dikenal sebagai jagoan Kalijodo.
Saat melakukan patroli di Kalijodo, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menghentikan langkahnya di depan kafe milik Daeng Aziz yang sudah tutup. Sayang, Daeng Aziz sudah tak ada di tempat. Tidak diketahui pasti ke mana perginya pria yang disebut 'tokoh' Kalijodo itu.
“Di sini warga sudah nurut semua, tidak ada yang melawan. Semua sudah kosong ikut perintah Pemerintah. Kalau yang menolak yang punya ini (kafe Intan), besok yang pertama dihancurkan, habisi, selesaikan. Dan dia namanya Azis, bukan Daeng," kata Krishna di Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (18/2/2016) malam.
Krishna dan Daeng Aziz memang punya satu cerita khusus belasan tahun lalu, tepatnya pada 2002. Kala itu, Krishna yang menjabat sebagai Kapolsek Penjaringan periode 2001-2004 pernah ditodong pistol oleh Daeng Aziz. Cerita penodongan itu dia tulis dalam bukunya berjudul Geger Kalijodo. Dalam bukunya, Krishna menyebut nama penodongnya dengan nama Bedul.
Saat ditanyai lokasi tepatnya penodongan, Krishna hanya menjawab, "Di Jalan Kepanduan itu."
Kejadian bermula saat Daeng Aziz mengamuk lantaran mendengar kabar adiknya dibunuh. Daeng Aziz mengamuk dengan cara menembakkan senjata. Krishna bersama delapan orang anak buahnya, masuk ke Kalijodo. Saat berhadapan dengan Daeng Aziz, Krishna malah ditodong pistol. Krishna bilang ada juga 300 orang membawa tombak di belakang Aziz.
"Dia (daeng Aziz) pernah saya tangkap, tahan, habis nodong (pistol) saya. Jangan sampai ada informasi dia menodong kapolsek (Krishna) tidak ada tindakan tegas. Ada. Besoknya ditangkap untuk kasus perjudian dan diproses juga untuk kepemilikan senjata api," cerita Krishna.
Menurut Krishna, Kalijodo tak seangker dulu. Sebab, hampir tak terdengar lagi ada kericuhan berarti di kawasan prostitusi itu.
Pemda DKI serius menertibkan Kalijodo. Aparat dari unsur kepolisian dan TNI ikut dilibatkan dalam penertiban kawasan prostitusi yang melegenda itu. Gubernur DKI Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama bakal menyulap kawasan yang masuk wilayah administrasi Penjaringan Jakarta Utara dan Tambora Jakarta Barat itu menjadi ruang terbuka hijau (RTH).
medcom.id, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta membongkar kafe Intan sebelum membongkar bangunan lain di Kalijodo. Kafe itu milik Daeng Aziz yang dikenal sebagai jagoan Kalijodo.
Saat melakukan patroli di Kalijodo, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menghentikan langkahnya di depan kafe milik Daeng Aziz yang sudah tutup. Sayang, Daeng Aziz sudah tak ada di tempat. Tidak diketahui pasti ke mana perginya pria yang disebut 'tokoh' Kalijodo itu.
“Di sini warga sudah nurut semua, tidak ada yang melawan. Semua sudah kosong ikut perintah Pemerintah. Kalau yang menolak yang punya ini (kafe Intan), besok yang pertama dihancurkan, habisi, selesaikan. Dan dia namanya Azis, bukan Daeng," kata Krishna di Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (18/2/2016) malam.
Krishna dan Daeng Aziz memang punya satu cerita khusus belasan tahun lalu, tepatnya pada 2002. Kala itu, Krishna yang menjabat sebagai Kapolsek Penjaringan periode 2001-2004 pernah ditodong pistol oleh Daeng Aziz. Cerita penodongan itu dia tulis dalam bukunya berjudul Geger Kalijodo. Dalam bukunya, Krishna menyebut nama penodongnya dengan nama Bedul.
Saat ditanyai lokasi tepatnya penodongan, Krishna hanya menjawab, "Di Jalan Kepanduan itu."
Kejadian bermula saat Daeng Aziz mengamuk lantaran mendengar kabar adiknya dibunuh. Daeng Aziz mengamuk dengan cara menembakkan senjata. Krishna bersama delapan orang anak buahnya, masuk ke Kalijodo. Saat berhadapan dengan Daeng Aziz, Krishna malah ditodong pistol. Krishna bilang ada juga 300 orang membawa tombak di belakang Aziz.
"Dia (daeng Aziz) pernah saya tangkap, tahan, habis nodong (pistol) saya. Jangan sampai ada informasi dia menodong kapolsek (Krishna) tidak ada tindakan tegas. Ada. Besoknya ditangkap untuk kasus perjudian dan diproses juga untuk kepemilikan senjata api," cerita Krishna.
Menurut Krishna, Kalijodo tak seangker dulu. Sebab, hampir tak terdengar lagi ada kericuhan berarti di kawasan prostitusi itu.
Pemda DKI serius menertibkan Kalijodo. Aparat dari unsur kepolisian dan TNI ikut dilibatkan dalam penertiban kawasan prostitusi yang melegenda itu. Gubernur DKI Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama bakal menyulap kawasan yang masuk wilayah administrasi Penjaringan Jakarta Utara dan Tambora Jakarta Barat itu menjadi ruang terbuka hijau (RTH).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)