Jakarta: Kondisi sejumlah sungai di ibu kota Jakarta memprihatikan. Ini lantaran bantaran sungai diekspansi menjadi pemukiman warga.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) Jarot Widyoko menuturkan, ekspansi pemukiman ini membikin bajir. Sebab, tanah di sekitar sungai sebagai penyerap air hujan tak berfungsi.
"Karena dulu sebenarnya sungai di desain yang Maha Kuasa pada saat kanan kiri belum ada pemukiman," kata Jarot kepada medcom.id, Selasa 14 November 2017.
(Baca juga: Kali Pesanggrahan Mendangkal)
Imbasnya, saat hujan turun penyerapan air ke tanah tidak berfungsi. Seluruh aliran air hujan ditumpahkan ke selokan-selokan dan ditumpahkan ke sungai. Hal ini bukan saja terjadi di ibu kota sebagai hilirnya, tetapi juga terjadi di hulu sungai.
"Kami ada program 'kembalikan daku ke bumi' jangan ke selokan dan sungai," kata Jarot.
Program normalisasi sungai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi sungai seperti semula. BWSCC memproyeksikan lebar sungai-sungai di Jakarta idealnya 35-50 meter. Meski hal ini belum ideal.
"Kita kembalikan ke awal nanti kita dalamkan dan tinggikan dengan tanggul juga," tutur dia.
(Baca juga: Anies Diminta Percepat Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Sungai)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan