medcom.id, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pengawasan ketat terhadap kesehatan warga Cilandak, Jakarta Selatan. Langkah ini sebagai tindak lanjut kematian unggas yang positif flu burung di RT 14 RW 04, Kelurahan Cilandak Barat.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Henny Fachrudin mengatakan, kesehatan warga Cilandak dalam pengawasan ketat selama dua minggu. Petugas Puskesmas Kecamatan Cilandak akan memantau gejala penyakit yang diderita tiap warga.
"Dua minggu ketat, dua minggu selanjutnya dijarangkan. Unggas-unggasnya sudah dimusnahkan sesuai standar operasional prosedur. Mudah-mudahan tidak ada yang tersisa. Jangan sampai ada penularan ke manusia dan tidak ada kasus itu lagi," kata Henny seperti dikutip website resmi Pemprov DKI, Beritajakarta.com, Kamis (24/3/2016).
Meski tidak ditemukan indikasi penularan flu burng dari unggas kepada warga sekitar, pihaknya tetap melakukan penyisiran. Ia menjelaskan, 14 hari merupakan masa inkubasi virus flu burung. Pada rentang itu kuman masih berkeliaran. Apalagi udara menjadi media penyebaran virus ini.
"Saat ini (tujuh hari) tidak ada kasus sesak nafas, flu, batuk, panas, enggak ada di sekitar situ. Kita cari radius yang terdekat dulu (100 meter dari lokasi unggas). Kami belum lepas sampai 14 hari ke depan," ujarnya.
Selasa 15 Maret, ditemukan kasus kematian unggas di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan tes laboratorium, unggas itu positif terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Pemeritah langsung melakukan tindakan antisipasi kepada unggas dan manusia yang berpotensi terinfeksi flu burung, seperti depopulisasi, sweeping dan bio-security.
medcom.id, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pengawasan ketat terhadap kesehatan warga Cilandak, Jakarta Selatan. Langkah ini sebagai tindak lanjut kematian unggas yang positif flu burung di RT 14 RW 04, Kelurahan Cilandak Barat.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Henny Fachrudin mengatakan, kesehatan warga Cilandak dalam pengawasan ketat selama dua minggu. Petugas Puskesmas Kecamatan Cilandak akan memantau gejala penyakit yang diderita tiap warga.
"Dua minggu ketat, dua minggu selanjutnya dijarangkan. Unggas-unggasnya sudah dimusnahkan sesuai standar operasional prosedur. Mudah-mudahan tidak ada yang tersisa. Jangan sampai ada penularan ke manusia dan tidak ada kasus itu lagi," kata Henny seperti dikutip website resmi Pemprov DKI,
Beritajakarta.com, Kamis (24/3/2016).
Meski tidak ditemukan indikasi penularan flu burng dari unggas kepada warga sekitar, pihaknya tetap melakukan penyisiran. Ia menjelaskan, 14 hari merupakan masa inkubasi virus flu burung. Pada rentang itu kuman masih berkeliaran. Apalagi udara menjadi media penyebaran virus ini.
"Saat ini (tujuh hari) tidak ada kasus sesak nafas, flu, batuk, panas, enggak ada di sekitar situ. Kita cari radius yang terdekat dulu (100 meter dari lokasi unggas). Kami belum lepas sampai 14 hari ke depan," ujarnya.
Selasa 15 Maret, ditemukan kasus kematian unggas di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan tes laboratorium, unggas itu positif terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Pemeritah langsung melakukan tindakan antisipasi kepada unggas dan manusia yang berpotensi terinfeksi flu burung, seperti depopulisasi, sweeping dan bio-security
. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)