Peruntukan Trotoar untuk PKL Tidak Tepat
Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) berjualan di bawah Skybridge Tanah Abang, Jalan Jatibaru, Jakarta. (Foto: MI/Pius Erlangga)
Jakarta: Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memfasilitasi pedagang kaki lima (PKL) untuk menduduki trotoar dinilai tidak tepat. Selain merebut hak pejalan kaki, upaya Pemprov ini juga berpotensi melabrak regulasi.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus memahami niat baik Pemprov DKI memfasilitasi warga untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, perlu dilihat terlebih dulu secara regulasi, tidak menabraknya hanya dengan alibi menyediakan lapangan pekerjaan.

"Jadi, bagaimana kita menyediakan lapangan kerja tapi tidak membangkang aturan. Yang utama itu cari kreativitas dan ide," ujarnya dalam Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Selasa, 23 Oktober 2018.


Alfred memberi saran Pemprov DKI bisa menggandeng pengelola gedung di ibu kota agar bisa bekerja sama menampung PKL. Persil-persil gedung bisa disulap menjadi lapak PKL dan dibuatkan alur khusus untuk pejalan kaki agar lebih menjangkau calon pembeli.

"Yang penting ketika sudah kerja sama dengan pemilik gedung, bidang ruang yang ditempati PKL pajaknya dinolkan saja karena dari aktivitas jual beli itu pemerintah masih dapat kontribusi," kata dia.

Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna menilai Pemprov DKI mampu mengajak pemilik perkantoran atau pusat perbelanjaan untuk berpartisipasi menampung PKL. Misalnya dengan membangun pujasera. 

Atau, jika Pemprov DKI memiliki aset tanah, fasilitas umum, maupun fasilitas sosial, bisa dimanfaatkan untuk diintegrasikan dengan PKL. Mencontoh Surabaya, Jawa Timur, PKL di sejumlah taman di kota tersebut ditata dan ditempatkan di sekitar taman. Selain untuk aktivitas jual beli, PKL juga bertugas menjaga taman.

"Sehingga ada fungsi ekonomi dan fungsi rekreasi di dalamnya," kata dia.

Contoh lain, Pemprov DKI bisa meniru pengelolaan PKL di Malioboro, Yogyakarta, yang harmonis antara pejalan kaki dan pemilik toko konvensional. PKL ditempatkan di depan pertokoan sementara fungsi trotoar dipertahankan untuk pejalan kaki.

"PKL akan jadi masalah kalau tidak ada solusi berani yang dilakukan. Seperti Skybridge Tanah Abang itu salah saty cara menampung PKL tanpa mengganggu ruang pejalan kaki. Jadi PKL betul-betul ditempatkan sesuai ruangnya," jelas dia.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id