medcom.id, Jakarta: Banyak faktor yang memicu pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS). Salah satunya lingkungan sekolah yang permisif. Jauh dari kultur masyarakat Indonesia.
"Temuan kita dari testimoni walimurid. JIS sangat permisif," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam di kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2014).
Niam mendapat laporan, lingkungan di sekitar JIS sangat terbuka. Itu membuat potensi pelecehan sangat mungkin terjadi. "Hubungan laki-laki dan perempuan bebas. Berciuman di area publik adalah hal biasa di JIS," terang Asrorun.
Faktor pemicu laian pelecehan seksual di JIS adalah kurikulum pendidikan yang tidak sesuai budaya Indonesia. Padahal, kata Asrorun, sekolah swasta internasional harus memasukan kurikulum pembentukan moral dan budaya, seperti Bahasa Indonesi, Agama, Kewarganegaraan, dan Sejarah Indonesia.
"UU Nomor 20 Tahun 2003 mengatur sekolah internasional untuk memasukkan Bahasa Indonesia, Agama, Kewarganegaraan, dan Sejarah Indonesia dalam kurikulum. JIS hanya mengajarkan Bahasa Indonesia," terang Asrorun.
Menurut Asrorun, tidak dimasukkannya kurikulum pembentukan moral dan budaya Indonesia membuat siswa JIS gelap tentang kultur Indonesia. "Ini jelas melanggar (aturan)," tegas Asrorun. "Ada unsur lain jadi pemicu, lingkungan, tontonan, dan juga tenaga kependidikan."
medcom.id, Jakarta: Banyak faktor yang memicu pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS). Salah satunya lingkungan sekolah yang permisif. Jauh dari kultur masyarakat Indonesia.
"Temuan kita dari testimoni walimurid. JIS sangat permisif," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam di kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2014).
Niam mendapat laporan, lingkungan di sekitar JIS sangat terbuka. Itu membuat potensi pelecehan sangat mungkin terjadi. "Hubungan laki-laki dan perempuan bebas. Berciuman di area publik adalah hal biasa di JIS," terang Asrorun.
Faktor pemicu laian pelecehan seksual di JIS adalah kurikulum pendidikan yang tidak sesuai budaya Indonesia. Padahal, kata Asrorun, sekolah swasta internasional harus memasukan kurikulum pembentukan moral dan budaya, seperti Bahasa Indonesi, Agama, Kewarganegaraan, dan Sejarah Indonesia.
"UU Nomor 20 Tahun 2003 mengatur sekolah internasional untuk memasukkan Bahasa Indonesia, Agama, Kewarganegaraan, dan Sejarah Indonesia dalam kurikulum. JIS hanya mengajarkan Bahasa Indonesia," terang Asrorun.
Menurut Asrorun, tidak dimasukkannya kurikulum pembentukan moral dan budaya Indonesia membuat siswa JIS gelap tentang kultur Indonesia. "Ini jelas melanggar (aturan)," tegas Asrorun. "Ada unsur lain jadi pemicu, lingkungan, tontonan, dan juga tenaga kependidikan."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ICH)